Pesantren Angker-Wanita Berkerudung Putih

Sosok yang sering tampak di salah satu pesantren di Sukabumi

Kelas menjadi hening seketika, saat Pak Arman--Kepala Sekolah--memasuki ruangan. Wajahnya yang sedikit sangar dengan kumis tebal di atas bibirnya, terkadang membuatku dan teman-teman gemetar.

Ternyata tujuan Pak Arman adalah memberitahukan undangan kepada siswa berprestasi agar mengisi liburan Ramadhan ke salah satu pesantren di kota Sukabumi. Aku menyambut gembira, apalagi saat tahu ketua OSIS, yakni Kak Rakha ikut acara tersebut. Ya, aku sudah lama menaruh hati padanya, sejak awal masuk sekolah---SMAN favorit di kotaku.

Sebagai juara umum, namaku langsung terdaftar di list nomor urut pertama siswa yang mengikuti pesantren kilat. Untung saja orang tuaku mengijinkan, walau awalnya Mama melarang, tetapi Papa memberi pengertian sehingga Mama luluh. Rasa bahagia menyeruak di dada, semingguan ini aku akan melihat wajah tampan Kak Rakha. Ramadhan kali ini akan lebih berwarna.

Di dalam bus yang membawa ke tempat tujuan, aku selalu tersenyum seraya memandang ke arah depan di mana Kak Rakha duduk. Aku perhatikan, dia juga sering menengok ke belakang, ke arahku. Aah ... semakin berbunga-bunga saja hati ini. Namun, kekecewaan harus kutelan, saat sampai di pesantren. Bangunan untuk siswa laki-laki berjarak lumayan jauh dari tempat siswa perempuan, otomatis aku akan jarang melihat Kak Rakha.

Dengan perasaan sedikit kesal, aku berjalan mengelilingi tempat tersebut, menunggu waktu Magrib. Menurut Ibu Siti--salah satu guru--kegiatan pesantren akan dimulai esok. Diawali salat Tahajud pukul tiga dini hari, lalu dilanjut dengan tadarusan hingga azan Subuh tiba. Mendengar hal tersebut, terselip rasa malas karena tidak terbiasa melakukannya. Meski seorang muslimah, aku hanya menjalankan salat fardhu, terkadang juga lalai.

Tak sadar aku telah berjalan cukup lama. Dari tempatku berdiri terlihat pesantren yang megah berdesain klasik terdiri dari beberapa bangunan yang dikelilingi  hutan kecil. Aku terpaku saat melihat sebuah rumah kecil di balik rimbunnya pohon bambu, berbanding terbalik dengan bangunan lainnya. Entah mengapa seperti ada magnit menarik menuju tempat tersebut. Kumandang azan Magrib tak menyurutkan langkahku.

Kini aku berada tepat di depan pintu rumah kecil tersebut, tampaknya dulu adalah bagian dari pesantren sebelum direnovasi. Aku sempat browsing di internet. Diberitakan dua puluh tahun lalu pernah terjadi kebakaran hebat mengakibatkan tempat ini sempat tidak difungsikan.

Hu ... hu ... hu ... hiks.

Aku tersentak, saat mendengar tangisan. Melirik kiri kanan tak ada seorangpun tampak. Pohon bambu juga menghalangi pandangan ke arah pesantren. Tangisan semakin kencang terdengar, membuatku takut dan berlari meninggalkan tempat tersebut. Tanpa kusadari bukannya menuju pesantren, tetapi masuk ke dalam hutan. 

Pandangan terhalang hitamnya malam, membuatku terantuk batu dan terjatuh. Rasa takut membuatku menangis, tetapi dengan mengumpulkan keberanian aku kembali berjalan perlahan sambil menahan sakit di kaki.

Jantungku terasa copot, saat pundak terasa ditepuk. Aku membalikkan badan, tampak wanita berkerudung putih menutup sebagian wajahnya memberi isyarat mengikuti. Bagai terhipnotis aku menurutinya, hingga berada di tepi hutan.

Dari kejauhan cahaya senter berlomba-lomba menerangi tubuhku, beberapa meneriakkan namaku. Rasa lega menyelimuti, ketika wajah teduh Kak Rakha ada di antara mereka, lalu pandanganku gelap. Aku tak sadarkan diri.

"Mela, bangun!" Suara Ibu Siti terdengar kencang di telinga. Cuping hidung pun terasa hangat dan aroma minyak kayu putih menyeruak, menyadarkanku.

"I-iya." Aku memandangi satu persatu orang yang ada di ruangan. Ibu Siti, Anya dan Tere, teman sekamarku. Mataku mencari-cari keberadaan wanita berkerudung putih tadi, mungkin dia salah satu santriwati pesantren ini, tetapi sosoknya tidak kutemukan.

Ibu Siti segera meninggalkanku, setelah menasehati agar mentaati tata tertib yang telah dibuat terutama tidak sembarangan pergi tanpa ijin. Anggukkanku dan permintaan maaf menutup pembicaraan.

"Wiih, tadi kamu digendong Kak Rakha, loh, Mel! Besok gue mau pingsan juga, aah," goda Anya seraya tertawa.

Aku hanya membalas dengan senyuman, pikiranku masih tertuju pada kejadian yang kualami tadi. Tere juga sempat menanyakan mengapa aku sampai pingsan dan ditemukan di pinggir hutan. Aku bingung harus menjawab apa, jadi dengan nada bercanda kubilang digondol Wewe.

Rasa lelah mendera, membuatku tertidur setelah makan nasi liwet yang disiapkan Ibu Siti. Hingga suara Tere membangunkanku, mengajak untuk salat tahajud di masjid pesantren.

"Setelah salat, kita sahur lanjut tadarusan, ya, Mel," ucap Tere di perjalanan. 

"Heem, ya, Re." Aku menjawab ragu, kantuk masih menyerangku. Semalam tidur tidak nyenyak, dihantui mimpi buruk dikejar orang-orang dengan tubuh terbakar.

Sesampainya di masjid, Kak Rakha menegur saat aku hendak mengambil wudu, menanyakan keadaanku. Kukatakan baik-baik saja dengan nada datar. Entah mengapa kali ini enggan berbasa-basi dengannya, padahal moment seperti ini sangat kunantikan dari dulu. Sepertinya kejadian kemarin dan mimpi buruk membuat kekhawatiran tersendiri.

Selepas sahur, dengan mengendap-endap aku ingin balik ke ruanganku melanjutkan tidur. Ternyata di depan masjid ramai dengan para Santri dan Ustaz pengajar, sehingga aku memutuskan memutar melalui tempat wudu yang berada di belakang masjid.

Langkahku terhenti. Terdengar suara dari salah satu bangunan yang diketahui sebagai dapur di pesantren. Terlihat dari banyaknya peralatan masak yang terletak di sekitar. Sepertinya belum sempat dibersihkan.

"Heeem ... masih saja ada anak yang tingkah lakunya sangat memalukan. Bukannya tadarusan, tetapi kabur seperti ini." Aku memicingkan mata, mempertegas asal suara tersebut.

Wanita berkerudung putih yang tadi kutemui, keluar dari balik tembok. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi aku bisa memastikan dia mengajakku berbicara. Sebelum sempat bertanya, tanganku ditariknya. Aku diajaknya masuk ke dapur.

"Mari ikut! Aku akan memasak untukmu." Tiba-tiba lampu di ruangan yang awalnya gelap menjadi terang, menampilkan kompor menyala dengan wajan di atasnya. 

Aku hanya terdiam melihat tingkah laku wanita tersebut. Belum hilang rasa terkejut tiba-tiba api berkobar. Wanita berkerudung putih mendekat ke arahku dengan tubuh terbakar. Ketika kesadaranku mulai hilang akibat rasa panas, gema azan terdengar di telinga dilanjutkan suara memanggilku.

"Syukurlah, kamu sadar juga, Mel." Ibu Siti masih mengusap peluh di keningku. Tampak juga seorang Ustaz pengajar, sepertinya dia yang tadi melantunkan azan.

"Tadi salah satu Santri menemukanmu di dapur yang sudah lama tidak terpakai. Apa tadi kamu bertemu sosok wanita berkerudung putih?" tanya Ustaz itu padaku. Aku mengangguk dan bertanya siapa dia.

Ustaz tersebut menjelaskan bahwa wanita itu adalah makhluk halus penjaga pesantren, biasa di panggil Teteh Rahayu. Konon salah satu korban kebakaran dua puluh tahun lalu. Sosok tersebut akan menampakkan diri jika menemui Santri yang melanggar peraturan, berkeliaran saat aktivitas pesantren dimulai.

"Mel, dengarkan! Walau kamu terkenal cerdas, tetapi kelakuanmu yang senang menyepelekan, membuat kamu susah sendiri 'kan?" Aku hanya menunduk mendengar ucapan Ibu Siti. Berharap segera pulang agar tidak bertemu sosok Teteh Rahayu lagi.