Pesantren Angker- Pasapon Gaib

Ilustrasi-Google Image

Peristiwa ini terjadi sudah sangat lama. Lama sekali. Sebelum pondok pesantren modern banyak berdiri seperti sekarang. Kala keinginan memperdalam Al Quran dan kitab kuning harus ditebus dengan perjuangan berat.

Lokasi pesantren di pelosok daerah yang harus ditempuh dengan perjalanan panjang. Bangunan dua lantai yang hanya terbuat dari bilik bambu dan papan. Puluhan santri tidur dalam satu ruangan, beralaskan tikar, itu pun bila beruntung. Sarung butut jadi selimut yang sebenarnya sama sekali tak dapat mengusir dingin.

Mencuci pakaian sendiri, menunggu antrian panjang untuk sekedar mandi. Di jamban yang airnya berasal dari kulah di bagian belakang pesantren. Aliran airnya menuju ke kolam yang ikannya banyak dan gemuk-gemuk. Mungkin karena mendapat tambahan makanan dari pacilingan, tempat para santri membuang hajat.

Waktu itu awal-awal tahun ajaran, banyak sekali santri baru mondok. Termasuk Opik, kependekan dari Taufik. Pembiasaan dimulai pukul tiga dini hari. Ustadz dan pengurus asrama, yaitu para santri senior bertugas membangunkan santri-santri. Menggiring mereka ke tempat wudhu lalu langsung menuju masjid.

Opik terusik suara berisik, seperti seseorang yang tengah menyapu lapangan. Piket menyapu biasanya dilakukan setelah selesai shalat shubuh dan ta'lim awal. Ia pun bergegas bangun, takut mendapatkan hukuman karena terlambat mengikuti pembiasaan. Namun ternyata, santri-santri lain tampak masih terlelap dan suasana masih begitu senyap. 

Kepalanya melongok, mengamati halaman asrama melalui jendela kayu klasik tanpa kaca di lantai dua. Dilihatnya seseorang tengah menyapu lapangan dengan sapu lidi ukuran besar sendirian. Sosok lelaki berperawakan sedang, berpeci hitam. Memakai kaos oblong putih yang warnanya hampir menguning seluruhnya. Sarung membelit pinggang berpadu celana pangsi hitam. 

Betapa terlalu dini menyapu lapangan pada jam segini. Pikir Opik. Sekilas, aroma hangus terendus hidungnya. Betapa terlalu dini menyapu lapangan pada jam segini. Pikir Opik. Kemudian ia dikejutkan oleh suara bel panjang. Pertanda para santri harus segera bangun untuk shalat malam. Pemuda ini pun bergegas menuruni tangga asrama. Sosok tadi sudah tak lagi terlihat. Mungkin sama-sama sedang menuju masjid, Opik membatin.

"Ardhi, Cepi, Taufik. Geura sapukeun lapangan! Jangan sampai telat masuk madrasah," seru Ustadz Ahmad.

"Afwan, Ustadz. Lapangan bukannya sudah disapuin?" Opik bertanya dengan nada menegaskan.

"Kapan? Disapuin kusaha atuh? Pan kalian yang piket hari ini," Ustadz Ahmad mulai meninggikan suara, "di pesantren ini kan gak ada pasapon. Sok burukeun jangan banyak alesan."

Opik cuma tercenung. Saha atuh Kang Pasapon yang dilihat semalam, ia membatin.

Dua temannya tertawa geli, "Ngalindur, kamu mah!"

Ini kali ketiga Opik mendengar seseorang tengah menyapu lapangan. Suara seikat besar lidi yang bergesekan dengan tanah. Seakan berada di dekat telinganya. Beriring lantunan sholawat nan syahdu. Orang yang sama, gumam Opik. Bau gosong kembali tercium. Penasaran, ia bergegas menuruni tangga. Mendekati Kang Pasapon yang beberapa hari ini membuatnya bingung. 

Gelap masih menyelimuti, dinginnya suhu udara membuat embusan dari hidungnya mengeluarkan uap. "Assalamualaikum, Kang. Kenapa nyapu jam seginih?"

Lelaki tersebut sama sekali tak menjawab, menengok sedikit pun tidak. Ia fokus menunduk meneruskan pekerjaan. Opik pun serta merta mengambil sapu lidi yang biasa digunakan untuk piket lapangan. Beberapa kali ia mengajukan pertanyaan, tetapi sama sekali tak ada jawaban. 

Tak lama terdengar teriakan bersahut-sahutan. Segerombolan orang dengan kupluk menutupi wajah, datang membawa  obor sambil menggenggam arit. Sebagian dari mereka mengacungkan sebilah golok. Tanpa dapat ditahan,  merangsek gerbang pesantren. Manusia-manusia misterius itu rupanya mencari Mama Jaya, Kyai pemilik pesantren Rijalul Ghod.

"Aya gerombolan … aya gerombolan, " nyaris semua penghuni pesantren berteriak panik.

Beberapa ustadz muda menahan pemilik pondok pesantren itu agar tidak keluar. Sebab kedatangan para pemberontak itu memang hendak mengancam nyawa Pak Kyai. Kabarnya sudah banyak ulama berguguran di tangan mereka. Dikarenakan tak mau mengakui apalagi mengikuti paham yang mereka sebarkan. 

Dianggap mempengaruhi penduduk dan menggalang kekuatan dengan menampung para santri. Akhirnya nyawa pun menjadi taruhan. Tanpa ampun para pemilik pondok pesantren dihabisi. Bahkan tak segan-segan mereka membumi hanguskan bangunan pesantren dalam sekejap. 

Ustadz memerintahkan para santri untuk menyelamatkan diri ke perkampungan yang berbatasan dengan bagian belakang pesantren. Opik ikut berlari, tetapi kemudian ia turut bersama Kang Pasapon berbelok ke arah balong. Mereka berdua bersembunyi di pacilingan. Sambil menutup hidung Opik memperhatikan Kang Pasapon yang malah berganti pakaian.

"Akang mau apa? Kenapa pakai baju Mama Jaya?" Setengah berbisik Opik mengajukan pertanyaan.

Sekilat gerak lelaki itu bertolak pinggang seraya menegapkan badan. Tanpa aba-aba, tanpa banyak bertanya gerombolan pemberontak menyeret sosok yang disangka sebagai Kyai Ilyas Wijaya. 

Opik berusaha menghalangi, sambil berulang-ulang meneriakkan kata tolong. Sia-sia, seakan tak seorangpun mempedulikan kehadirannya. Tragedi berdarah dipertontonkan di depan matanya. Sosok tanpa daya yang telah tersungkur di atas tanah itu dihadiahi jilatan api dari obor yang menyala-nyala.

Tak ada yang berani menolong. Semua menahan diri untuk tetap bersembunyi. Opik mengambil air seember demi seember. Namun api kian hebat melalap, tiada apa pun yang dapat ia selamatkan. Termasuk bangunan bilik bambu yang hampir rubuh dilalap api. 

Opik menangis meraung-raung seraya mengucap takbir. Jari jemarinya mencakar-cakar tanah. Tubuhnya berguling ke sana kemari. Sampai ia merasakan bahunya diguncangkan berkali-kali. Namanya terdengar disebut bergantian oleh beberapa orang.

Membuat kedua kelopak matanya mengerjap beberapa kali. Wajah Ustadz Ahmad terlihat tepat di hadapan. "Kamu kenapa? Mimpi ya?" Ustadz Ahmad menegaskan, "istighfar! Matak tong begadang wae!"

Lelaki muda itu baru menyadari bahwa ia sedang terbaring di atas tikar. Di dalam asrama bersama teman-temannya yang kini tengah cekikikan. Pikirannya masih saja dipenuhi tanda tanya besar tentang kejadian yang ia alami.

Terlebih saat membilas baju yang ia pakai semalam. Dipenuhi tanah basah dan noda-noda jelaga. Bau asap menyengat tercium tak mau hilang. Hingga malam-malam setelahnya, dan suara Kang Pasapon masih saja terdengar.

[Awg]

Pasapon: Tukang sapu.

Balong: Kolam ikan.

Pacilingan: Jamban di atas kolam.

Mama: Sebutan untuk orang yang dihormati, biasanya untuk para sesepuh.