Pesantren Angker – Ketiban Parang di Bulan Muharram

Gambar Parang (dok. Ust. Akhmad)

    

29 Agustus 2020, bertepatan dengan tanggal 10 Muharram 1442 H. Malam belum terlalu pekat saat Ustadz Akhmad duduk di teras kamarnya. Empat rakaat Isya baru saja ia tunaikan. Lengkap dengan dzikir yang mengalir dari bibirnya. Dari tempatnya duduk, terdengar sayup-sayup suara para santri. Di salah satu ruangan kelas, mereka sedang mengaji bab Aqidatul Awwam.

 

Sembari duduk, mata Ustadz Akhmad menerawang melayari angkasa. Langit masih sama seperti malam sebelumnya. Cerah. Gemintang bertabur menemani fase bulan cembung yang tak kalah terangnya. Tapi embusan angin yang dirasakan Ustadz Akhmad hari ini berbeda. Bukan sehari dua hari ia menempati kamarnya. Sudah empat tahun dia tinggal di sana. Sebuah pesantren di bumi Raja Kertanegara lahir sekaligus mangkat.

 

Merasakan embusan yang aneh, Ustadz berpostur jangkung itu mengira sebuah bisikan akan menuntunnya lagi. Beberapa kali ia mengalaminya. Namun entah siapa. Hanya suara begitu lembut tanpa rupa. Bisikan itu sering membantunya memergoki para santri bengal yang melanggar aturan pesantren. Merokok adalah salah satu larangan sehingga pelakunya, dianggap melakukan pelanggaran. Meskipun oknum santri bersembunyi di sudut ruang jemuran, tertutup oleh parade cucian, Ustadz Akhmad selalu berhasil menangkapnya. Oknum santri tidak mungkin lagi mengelak, saat mulutnya ketahuan memproduksi asap.

 

Ustadz Akhmad masih duduk merenung dan menikmati alunan suara para santri. Matanya memejam, tidak lagi menguliti wajah rembulan. Malam ini, dia tidak sedang bertugas di kelas, sehingga leluasa untuk menghabiskan waktu untuk bermuhasabah, merapal sholawat. Angin yang menyerbu mukanya masih sama. Terasa aneh. Membuat merinding permukaan kulitnya.

 

Di saat dia ingin tetap duduk bersholawat, perutnya meronta meminta dipenuhi hajat. Dia baru ingat, sejak siang belum sempat menikmati hidangan pesantren yang selalu lezat. Jangan dibayangkan kadar lezatnya seperti makanan ala restoran. Karena bagi penghuni pesantren, apa yang tersedia semua terasa nikmat.

 

Ruangan dapur berada di tempat agak jauh dari kamarnya. Ia harus melalui beberapa kamar santri. Kemudian menyeberang halaman yang tidak terlalu luas. Kakinya melangkah perlahan. Sembari merasakan angin aneh yang dari tadi seperti menguntitnya. Nyala lampu dapur sudah terlihat dekat saat tiba-tiba sesuatu menghantam punggungnya.

 

“Aaaakh!"  Pekiknya nya tertahan.

 

Sambil merasakan nyeri, matanya melihat ke sekeliling. Barangkali ada pengasuh pondok atau santri iseng. Nihil. Tidak ada siapa pun. Suara para santri masih tetap mengalun seperti tadi. Ustadz Akhmad membungkukkan tubuh tingginya. Ada benda aneh jatuh di dekatnya. Sebuah parang lengkap dengan warangkanya. Penasaran ingin tahu, lelaki jangkung itu membawa benda berukuran hampir setengah depa ke dapur. Ia butuh lampu untuk melihat detilnya.

 

Parang itu bergagang kayu sepanjang sekitar 30 cm. Kokoh. Sebagian ukirannya berbentuk kepala ular yang memamerkan barisan taring tajam. Sebagian lagi adalah lekukan yang menggambarkan sisik lebar. Terdapat ukiran surai rambut di belakang kepala ular. Matanya menonjol seperti membelalak menakuti lawan.

 

Ustadz Akhmad sempat takjub, meski tubuhnya mengalami getaran hebat. Siapa orang yang telah sengaja melempar parang itu ke punggungnya. Jika berniat untuk melukai, pasti parang itu terhunus tanpa wadah. Lantas apa tujuannya? Dalam gamang, Ustadz Akhmad memilih duduk sambal memejamkan mata. Ia ingin tahu, benda itu milik siapa.

 

Hujan peluh luruh pada wajah ustadz Akhmad. Ia seolah sedang berdiri di sebuah padang kurusetra. Menyaksikan kejadian mengerikan yang lebih kejam dari film-film kolosal. Tepat di depannya, berdiri seorang prajurit kerajaan. Sosoknya tegap dengan lengan berotot kekar. Tubuhnya mengenakan kain batik dilipat separuh, melilit pinggang hingga lutut bercelana beludru. Tangan kanannya memegang erat parang berkepala ular.

 

“Ciaaaat...."

Creeesss....

 

“Menyerahlah sebelum parang ini menebas tubuhmu!” teriaknya lantang.

 

Mayat-mayat bergelimpangan. Anyir darah menyeruak menusuk hidung hingga membuat perut siapa pun mual. Medan perang beraroma kebengisan itu terus berlangsung. Parang bergagang kepala ular masih liar menebas lawan. Tubuh yang tersambar limbung lantas roboh dengan darah bersimbah.

 

Laga belum usai saat Ustadz Akhmad membuka kembali matanya. Dadanya berdebar, napasnya tersengal menyadari apa yang dilihat dalam meditasinya tadi. Seperti melintasi lorong waktu, Ustadz Akhmad melihat kejadian yang tak pernah disangkanya. Perang apakah yang sedang terjadi? Siapakah lelaki tegap pemilik parang ini? Rentetan pertanyaan memenuhi kepalanya. Sedang peluh masih juga merembes dari pori-pori kulitnya.

 

Masih dengan tangan gemetar, parang bergagang kepala ular itu kemudian dibuka perlahan. Bagian bilah tajamnya, sudah berwarna coklat karena karatan. Tanda usianya telah melewati banyak jaman. Darah Ustadz Akhmad berdesir. Kengerian masih menguasai matanya. Dengan hati-hati, Ustadz Akhmad meletakkan parang itu sejajar dengan warangkanya. Dengan kamera gawai, ia mengabadikan parang aneh di depannya.

 

Pikirannya berkecamuk. Antara menyimpan atau membuang. Setelah menimbang baik buruknya, Ustadz Akhmad kembali menyarungkan parang itu pada wadahnya. Ia berjalan menuju halaman. Suasana masih sama. Gemintang mengerling menyapa rembulan. Suara para santri masih terus mengaji. Dengan melafaz basmalah dan penuh keyakinan, Ustadz Akhmad melempar parang itu ke atas. Sejauh yang ia mampu. Ajaib. Parang itu lenyap seolah ditelan gelap. Ustadz Akhmad memastikan, tidak ada benda jatuh karena pengaruh gravitasi di halaman pesantren tempatnya berdiri. Beriringan dengan lenyapnya parang, embusan angin aneh tak dirasakannya lagi.

 

“Kenapa berdiri di situ, Tadz?” Sebuah suara mengejutkan Ustadz Akhmad. “Ayo kita makan. Atau menunggu anak-anak sekalian?” lanjutnya.

 

Ustadz Akhmad tersenyum menjawab tanya temannya. Ia lupa bahwa perutnya tadi berteriak minta asupan. Langkahnya kembali menuju dapur. Bersama Ustadz Arif, ia menikmati hidangan makan malam.

 

Oo0oO

 

Selesai

SW2K, 25042021- Alaskembang Mlg