Kisah Aroma

Imel-PicsArt

Karena alasan kuliah dan mencari pekerjaan, aku hidup jauh dari keluarga selama lima tahun, dan perubahan terbesar di rumahku adalah ayah yang sudah tidak ada lagi di dunia. Hanya sesekali pulang dalam setahun membuat kami tampak canggung.

Aku, ibu, dan adik laki-lakiku duduk mengitari meja makan dengan atmosfer berat menyelimuti ruang dapur. Kami sama-sama menjaga perasaan masing-masing. Jujur, aku tidak menyukai situasi macam ini. Durasi berkabung memang tidak memiliki batas jelas.

“Besok aku mau ketemu bapak. Kamu ikut?” Aku menatap adikku sesantai mungkin.

Dia memusatkan perhatian pada piringnya. “Enggak bisa. Aku ada kerjaan besok.”

Dia masih kelas sebelas, tapi sudah berpikir soal mencari uang. Aku kasihan padanya.

“Ya udah, aku pergi sendiri. Ibu harus ke pasar, ‘kan?”

Wanita berkulit sawo matang itu mengangguk. “Sore baru pulang.”

Begitu saja, makan malam kami berakhir begitu saja. Setelah ini, kami akan kembali ke kamar masing-masing. Baru hari keempat. Kami pasti bisa mengatasi suasana canggung ini dalam satu bulan. Aku yakin soal itu.

Malam beranjak ke pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit, tapi aku belum bisa tertidur. Sesuatu yang janggal mendesakku untuk tetap terjaga. Sambil telentang menatap plafon kuning gading, hidungku berusaha mengenali bau yang ikut mengalir bersama udara.

Sebentar muncul, lalu menghilang. Sebentar menusuk, lalu menipis dengan sendirinya. Bagian menyebalkannya adalah, bau ini seratus persen berasal dari seonggok bangkai.

Langit-langit gaduh oleh langkah hewan. Tikus, tentu saja. Jalan sudah sepi sejak dua jam yang lalu. Kamar ibu dan adikku juga seolah-olah tidak berpenghuni.

Gedoran cepat di pintu kamar sontak membuat jantungku melompat. Aku segera bangkit dari dipan, lalu membukanya. Nihil. Hanya ada ruang tamu temaram yang dihiasi dua sofa panjang di sini. Televisi layar datar, yang tertutup oleh sulaman benang wol ungu dan merah muda, sudah lama dimatikan.

“Dif? Adif? Kamu ya, Dif?”

Suaraku terdengar nyaring. Tidak ada sahutan, dan aku bisa mendengar desah napasku sendiri.

GOR-GOR-GOR!

Lagi, gedoran memburu itu kembali terdengar. Kali ini di pintu dapur menuju halaman belakang rumah. Aku menyalakan lampu ruang tamu dan area dapur.

“Adif! Jangan main-main dong. Enggak lucu, ah!”

Dengan sapu di tangan, aku memberanikan diri mendekati pintu bercat cokelat muda tersebut. Untungnya, kunci masih terpasang. Aku menempelkan telinga. Sekitar lima detik kemudian, pendengaranku menangkap helaan napas berat dan cepat di luar sana.

“Siapa??” bentakku.

“Kak Adis?”

Dia tahu namaku. “Iya. Kamu siapa?”

Isak mulai terdengar. “Kak Adis, aku Olin, temannya Adif. Tolong aku, Kak..”

Tanpa menunggu, pintu kubuka. Di teras sempit kami, Olin berdiri dengan tubuh basah kuyup. Dagu dan keningnya dihuni oleh luka gores dan memar. Dia sepertinya baru saja dipukuli, lalu disiram dengan banyak air.

Aku membuang sapu, lalu meraih handuk setengah basah yang tergantung di jemuran portable. Kulilitkan handuk itu ke tubuh menggigilnya. Saat kuajak masuk, dia menolak.

“Kenapa?”

“Aku mau pulang aja, Kak. Kasihan ibu sendirian.”

“Lha, memangnya kamu dari mana?”

“Aku barusan pulang dari rumah teman. Di jalan, aku dikejar sama orang. Penguntit. Aku jatuh pas lari.”

Aku cemas sekaligus lega. Tadinya, aku pikir dia baru saja habis dihajar salah satu anggota keluarganya. Tetapi, menjadi target penguntit juga bukanlah kabar baik. Menemaninya pulang mungkin adalah pilihan paling tepat.

“Aku ambil jaket dulu. Nanti aku temani kamu sampai rumah.”

Dia mengangguk cemas. “Iya.”

Setengah berlari, aku menuju kamar. Saat melewati kamar ibu dan Adif, situasi masih sama. Mereka tidur mati. Tidak begitu mengejutkan karena aku juga sama. Kalau sudah terlelap, petir dan angin kencang tidak bisa membangunkanku. Mungkin kebiasaan khas keluarga.

Setelah meraih jaket katun hitam, senter, dan ponsel, aku kembali menemui Olin. Akan tetapi, remaja perempuan yang belajar di kelas yang sama dengan adikku itu raib. Handuk pemberianku tergeletak begitu saja di lantai teras.

“Olin? Di mana kamu?”

Apa dia sudah pulang? Mustahil. Untuk apa ke sini kalau dia berani pulang sendirian. Apa jangan-jangan kenalannya kebetulan lewat? Ah, aku tidak tahu lagi.

Aku melangkah ke rumah Olin setelah memastikan pintu terkunci dengan benar. Dingin. Angin pertanda akan hujan bertiup pelan, namun menusuk. Sambil merapatkan jaket, aku membelah jalan utama perumahan. Sepi, hanya ada suara samar televisi yang berasal dari dua-tiga rumah warga. Kendaraan juga sudah tidak berkeliaraan.

Itu dia, rumah satu lantai milik keluarga Olin sudah terlihat. Iya, jarak antara kediamanan kami hanya dipisah oleh enam bangunan. Terang, rumah itu tidak mematikan lampu. Penghuninya masih terjaga.

“Olin. Olin!” seruku setibanya di depan pintu.

Suara sayup televisi hilang.

“Olin, ini Adis, Lin. Olin!” Aku juga mengetuk.

Langkah tergesa-gesa dalam bentuk siluet tergambar di tirai mereka. Pintu dibuka dengan buru-buru, dan muncullah wajah ibunya. Mata mendelik wanita ini memompa detak jantungku.

“Tante, di mana Olin?” kataku memecah keheningan.

Matanya terpejam sebentar, lalu dia pun luruh ke lantai. Aku segera memegangi lengannya.

“Kenapa, Tante?”

Dia menggeleng sambil balas memegang pundakku erat. “Enggak tahu. Olin belum p-pulang selama seminggu ini. Mati aku, Dis..”

“Kok bisa??”

Aku ragu-ragu menceritakan soal Olin yang datang ke rumah barusan. Tetapi, wanita ini sedang menderita.

“Tante tenang dulu. Kok Olin bisa enggak pulang selama itu? Barusan, barusan dia datang ke rumah Adis lho.”

Dia sontak mendongak. “Di mana?? Jangan bohong kamu, Dis!”

Aku menggeleng kuat-kuat. “Enggak, Tante. Ngapain Adis bercanda di saat darurat begini.”

“Antar Tante ke sana!” Dia memaksa bangkit, dan aku membantunya.

Aroma amis menguar. Firasatku sangat busuk saat ini. Aku tidak ingin membuat kesimpulan dulu, walaupun bayangan jawaban itu sudah mengambang di depan mata.

“Tante tunggu di sini aja, ya.”

Dia mendorongku ke samping. “Enggak mau!”

Aku menahannya. “Tadi Olin bilang dia mau pulang. Kalau dia ke sini, tapi rumah malah kosong, gimana dong?”

Dia setop. “Jadi?”

“Tante tunggu di sini. Nanti aku panggil pihak keamanan buat bantuin aku meriksa sekitar rumah kami. Tante tinggal menunggu teleponku aja, okay?”

Dia duduk di atas pagar rendah teras. Mengelus dada tanpa melepas pegangan tanganku. “Bantu Tante, Dis.”

“Iya. Tante pokoknya di sini aja. Aku bakal cepat-cepat periksanya.”

Setelah dia melepas genggaman tangannya, aku langsung menelepon bagian keamanan. Hanya dua kali deringan, seorang laki-laki bersuara dalam menyambut panggilanku. Dia bilang, dia dan rekannya akan sampai dalam lima menit.

Aku berlari secepat mungkin ke rumah.

Pintu depan masih tertutup rapat, namun saat aku beralih ke halaman belakang, ibu dan Adif ada di sana. Mereka berdiri mematung. Atmosfer ganjil menyelimuti tubuh dan tatapan keduanya.

Cahaya dari dapur menerangi halaman. Di beberapa bagian yang berumput sangat tipis, jejak roda sepeda motor dan kaki tampak membekas pada tanah basah sisa hujan kemarin siang.

Cabang. Ada cabang jejak yang menuju ke samping rumah. Hanya ada kebun di sana.

Aku mendekati mereka. “Tadi ada Olin. Aku kira dia sudah pulang ke rumah, tapi ternyata enggak. Dia juga sudah enggak pulang selama seminggu. Apa kalian tahu soal itu?”

Kupindai gelagat keduanya. Ibu lebih banyak menghela napas dan membuang pandangan ke dalam rumah. Adif mengatup rahang. Mata adikku memancarkan kemarahan.

“Kalian tahu, ‘kan!?”

Adif mendadak maju, lalu mendorong sebelah bahuku. “Makanya jangan ikut campur.” Dia mendorongku lagi hingga senter di tangan jatuh. “Kalau aja kamu enggak pulang, semuanya pasti beres.”

Aku memang pulang lebih cepat satu bulan dari rencana. Aku juga muncul tanpa mengabari mereka.

Ketika Adif bermaksud mendorongku lagi, aku mengelak. “Di mana Olin?”

Ibu mendadak meraung. Dia duduk di atas tanah sambil menutup wajah. Aroma amis yang kucium sebelumnya semakin pekat. Tidak! Bukan hanya amis, tapi busuk. Hidungku menangkap aroma busuk, ketika angin berembus dari arah depan, arah kebun ibu. Sekilas membingungkan, tapi aku tetap yakin.

Dua sepeda motor memasuki halaman rumah kami. Ekspresi adikku berubah pahit.

“Di sini, Pak!” seruku.

Tiga orang pria datang dengan perlengkapan keamanan masing-masing. Mereka berkerumun di sekitarku.

“Panggil yang lainnya, Pak. Ikat adik dan ibuku. Mereka tahu di mana Olin berada.” Dadaku seolah-olah dicabik-cabik oleh tangan gaib ketika mengatakan ini.

_

Hai, hai, Imel balik dengan proyek cerpen baru yang bertema “Kisah”.

Highlight kita kali ini adalah:

Kisah. Nyata atau tidak, kalianlah yang menentukannya.