Pesantren Angker - Teror Hantu Mighrofah

Ilustrasi: istimewa

"Kalau ke kamar mandi hati-hati, kudu ngajak temen."

"Emang kenapa, Kak?"

"Ada hantu mighrofah, hihihihi ...." Kak Yumna tertawa cekikikan seperti kuntilanak sambil mengacungkan gayung warna merah ke atas. Aku yang memang penakut merinding ngeri sambil memegang erat ember berwarna hitam berisi gayung dan peralatan mandi.

"Emang mighrofah itu apa, Kak?"

"Gayuuung, hihihi ...." Tubuh Kak Yumna berbalik dan matanya mendelik ke arahku. Sontak aku berlari kembali ke mobil yang parkir di bawah pohon rambutan di depan pesantren, dan baru mau beranjak ke meja lapor diri santri baru setelah diantar oleh kedua orang tuaku.

Kak Yumna yang merupakan santri kelas 4 (setingkat kelas X SMA) tertawa lebar. Ia segera menarik tanganku dan mengantar ke asrama di lantai dua, lalu kembali lagi ke ruangannya di lantai satu.

***

Seminggu di pondok, aku masih dibantu oleh Kak Yumna yang bertugas sebagai pendamping santri baru (mudabbirah). Kakakku sangat suka membaca dan jago bahasa Arab dan Inggris, sehingga bertugas di seksi bahasa.

Sebenarnya, pendampingku bernama Kak Silva. Kamarnya ada di ujung deretan kamar santri baru di lantai dua. Tapi kalau punya kakak mudabbirah, kenapa nggak dimanfaatkan?

Setelah seluruh kegiatan selesai, seluruh santri naik ke ranjang masing-masing dan bersiap tidur. Tiba-tiba aku teringat kalau tadi belum buang air kecil. Karena takut mengompol, aku selalu melakukan ritual ke kamar kecil sebelum tidur.

Karena tak ada satu pun yang mau menemani ke kamar mandi, aku akan minta tolong Kak Yumna. Kamar mudabbirah lantai satu terletak paling ujung, dekat jalan menuju kamar mandi. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui nih. Aku akan pura-pura minta diajari bahasa Arab biar bisa sekalian minta antar ke kamar mandi.

"Kak Yumnanya lagi ke kamar mandi, Nayla. Susul aja," ujar seorang santri perempuan bergamis hitam dan berkacamata yang membuka pintu - tanpa menanyakan keperluanku mengetuk kamar - sambil mengacungkan jempolnya ke arah kamar mandi.

Setelah mengucapkan terima kasih, aku bergegas menyusul ke deretan kamar mandi yang kurang lebih berjarak seratus meter. Malam semakin gelap dan dingin. Bulan bulat semurna yang tergantung di langit tiba-tiba menghilang tertelan awan.

Suasana pondok menggigil dalam belaian angin malam yang bertiup cukup kencang dari arah perbukitan di kejauhan. Bunyi serangga berdenging memutari kepala ditingkah suara-suara aneh binatang malam yang belum pernah aku dengar di belantara beton Jakarta.

Tanpa perlu mencari lebih lama lagi, aku menuju kamar mandi di tengah. Kak Yumna pasti di sana, karena hanya ruangan sempit itu yang lampunya menyala dan pintunya tertutup. Dari dalam terdengar bunyi air mengalir dari kran, gemercik jatuh di bak mandi.

Aku segera masuk ke kamar mandi di sebelahnya. Karena tidak membawa gayung seperti biasanya, aku pun berteriak ke kamar mandi sebelah untuk meminjam gayung.

"Kak, pinjem gayung!" Sepi. Hanya suara gayung yang sedang menciduk air dari bak mandi. Oiya, lupa kata kuncinya. Dia kan seksi bahasa, jadi harus memakai bahasa Arab. Duh, bahasa Arabnya gayung apa ya?

Aku memutar otak, berusaha mengingat deretan kata di kamus saku bahasa Arab yang biasanya selalu aku simpan di kantong gamis.

"Kak, pinjem mighrofah-nya dong." Aku menggedor dinding penyekat antar bilik kamar kecil ini. Berhasil! Sebuah gayung berwarna merah terulur dari atas dinding penyekat. Bergegas aku menyambutnya dan menyelesaikan hajatku untuk buang air kecil. Huft, nyaris saja terjadi kebocoran di celana.

Setelah urusan paling penting di dunia itu selesai, aku keluar kamar mandi dan menunggu Kak Yumna di depan kamar mandi sebelah. Pintu masih tertutup dan kran air masih menyala.

"Kak, buruan! Udah ngantuk, nih!" Kuketuk pelan pintu kamar mandi. Sekali, dua kali, tiga kali, tak ada jawaban.

“Kakak tidur, ya?” Teriakku mengatasi bunyi air yang terdengar deras mengucur di bak kamar mandi.

Tiba-tiba sebuah tangan berkulit putih terulur dari balik pintu kamar mandi.

"Aina mighrofatii?" Sebuah suara bernada marah terdengar dari dalam kamar mandi. Terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Seperti bukan suara kakakku. Duh, pasti Kak Yumna marah karena aku menggangunya, makanya suaranya melengking aneh.

Dosaku kali ini pasti tak termaafkan. Mengganggu mudabbirah di kamar mandi, berisik, dan tidak menggunakan bahasa Arab.

"I-i-ini, Kak." Tergagap, aku segera memberikan gayung ke tangan yang terjulur. Secepat kilat, tangan itu merebut gayung.

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lebar. Tak ada Kak Yumna atau santri lain di dalam. Sebuah  tangan berkulit putih pucat yang memegang gayung merah terlihat melayang di udara.

"Hantu mighrofah!" Aku menjerit sejadinya dan lari lintang pukang. Saat melewati kamar mudabbirah terdengar sebuah suara memanggil.

"Nayla! Kamu dari mana malam-malam begini?"

Reflek aku memperlambat langkah dan menoleh. Sesosok tubuh bergamis putih mengacung-acungkan sebuah gayung berwarna merah menyala.

"Astaghfirullah, hantu mighrofahnya nyusulin!" desisku tak percaya. Dengan sisa kekuatan yang ada, aku kembali memacu langkah tanpa memedulikan panggilannya.

"Hantu mighrofah! Tolooong!"

Sandal jepitku putus dan aku terjatuh sebelum menyentuh anak tangga pertama. Ratusan kunang-kunang mengitari kepala, lalu aku masuk dalam kegelapan yang sempurna.

 

(Tamat)

Jakarta, menjelang sahur 22/04/2021 

#uss 

#pesantrenangker 

 

Catatan:

Aina mighrofatii? = mana gayungku?