Pesantren Angker - Hijaz yang Tak Pernah Padam

Ilustrasi/ist

Ini hari ketiga penghuni kamar Hijaz berdebat soal lampu. Nirmala menolak tidur dalam gelap, sementara aturan pondok mengharuskan mereka mematikan seluruh lampu kamar sebagai penanda jam tidur. 

"Aku takut, Kak," katanya pada Haifa dengan alasan yang selalu sama. 

"Ada apa sih, Nir? Kamu kan bisa cerita sama kita. InshaaAllah aman," jawab salah seorang anggota kamar. 

Beberapa teman lain juga memberi tanggapan serupa, tapi tidak cukup mampu membuat Nirmala menyerah. 

Kemarin saat Haifa memadamkan lampu kamar, Nirmala sontak menangis. Ia bilang takut, berkali-kali bilang takut. Sampai akhirnya mereka menyerah dan paginya Haifa harus berhadapan dengan musyrif. Untuk apa lagi, menerima hukuman tentu saja. 

"Nirmala, ada apa sebenarnya? Tolong bicara yang jelas. Jangan beri saya sesuatu tanpa alasan karena keinginan kamu ini berkaitan dengan aturan." Sebagai kakak kelas penanggung jawab kamar sekaligus yang tertua di Hijaz akhirnya Haifa menengahi. 

Nirmala memandang mereka cemas, bola matanya bergerak cepat dari satu orang ke orang lain. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi takut mereka menjauhinya kemudian. 

"Kak Haifa, teman-teman, maaf, aku ini bocor." 

Orang-orang yang mendengarnya saling pandang, tak mengerti dengan maksud Nirmala.

"Karena kamu haid?" tanya salah seorang teman, tapi Nirmala menggeleng. 

"Aku bisa melihat sesuatu yang nggak bisa kalian lihat. Dulu sudah ditutup, tapi selama di sini terbuka lagi. Ada sesuatu yang aku lupa." Mata Nirmala mulai berkaca. 

"Maksud kamu, kamu bisa lihat setan?" tegas Haifa agar semua tak berlarut adanya. Mereka dalam saat-saat genting, bel tidur berbunyi lima belas menit lagi. 

Nirmala tidak mengangguk, tapi juga tidak menggeleng. 

"Nir, jangan lupa baca Tri Qul, Al-fatihah, dan tebah kasurmu. Sebelum itu usahakan kamu sudah wudhu." 

"Sudah, Kak. Aku selalu biasakan itu. Tapi kebocoran ini menembus hal-hal yang semestinya tertutup. Aku seperti kena teror tiap malam." Air mata Nirmala mulai berjatuhan. 

"Begini aja, deh. Apakah kamu bisa ceritakan pada kami bentuk dari kebocoranmu itu?" 

"Maksud Kak Haifa tentang apa yang aku lihat?" 

Haifa mengangguk, bersamaan dengan raut wajah Nirmala yang berubah pias. 

*** 

Awal datang kemari aku sangat senang, karena jujur saja telah lama kuimpikan kehidupan seperti di pesantren ini. Menghuni kamar bersama, tidur di dipan susun, ibadah hingga terkantuk-kantuk, hafalan terpantau rapih, jadwal belajar yang ketat, dan dunia tanpa gangguan gadget karena akan sibuk belajar kitab.  

Harus kuakui gadget membuat masa SMPku berlalu dengan begitu banyak pemborosan, sedangkan aku tipikal yang tak tahan godaan. Setiap hari mengikuti perkembangan band populer Asia kesukaanku membuat ayat demi ayat menjauh. Aku kesulitan mengembalikan arsip-arsip hafalan yang hilang dari memori di kepala. 

Awalnya ayah menolak saat kuutarakan maksud untuk tinggal di pondok saja. Aku mengerti. Kebocoran yang pernah terjadi pada diriku ini masih rentan terbuka saat energi dalam diriku dan sekitar sedang tidak baik, dan ayah khawatir itu akan terjadi di pesantren, atau di manapun tempat asing yang tidak ia ketahui lingkungannya. 

Namun berkat kegigihanku meyakinkan, restu ayah turun. Sekira satu minggu lalu ayah, ibu, dan adik-adik mengantarku kemari, dengan harapan aku pulang dalam kondisi hafalan yang lebih baik. Siapa tak hendak memakaikan mahkota cahaya di kepala orang tuanya di hari kiamat nanti? Aku pun ingin.

Sayangnya ada yang luput dari perhatianku. Euforia lingkungan baru membuatku terbawa suasana. Nyaris seminggu pertama ini aku sibuk berkenalan dan adaptasi, tertawa dan berbagi cerita bersama teman-teman baru, hingga tertinggallah zikir yang menutup kunci kebocoran itu. 

Sampai pada suatu malam, malam ketujuh aku menghuni kamar ini, sesuatu terjadi. 

Dari dipanku yang berada di atas, aku melihat seseorang duduk di dipan Kak Haifa di bagian bawah yang berseberangan denganku. Keadaan remang membuatku tak melihat dengan jelas apa yang dilakukannya, tapi ia seperti menggaruk-garuk rambutnya yang tampak kusut. Aduh, teror kutu mulai datang, pikirku saat itu.

Namun setelah lama, nyaris satu jam, orang yang kupikir Kak Haifa itu tak kunjung kembali tidur. Jam analog yang menyala redup di dinding baru menunjukkan angka satu, masih jauh dari waktu bangun. Karena mengantuk, kuputuskan untuk tidur saja dan tak memikirkan apa yang dilakukan si penanggung jawab kamar itu. 

Baru ketika kami bersiap menuju masjid putri untuk Salat Subuh, aku menyadari Kak Haifa benar-benar tak ada di antara kami. 

"Kak Haifa udah duluan, ya? Kok dari tadi aku nggak lihat," tanyaku pada Putri. 

"Kak Haifa? Kan semalam dia tidur di kamar sekretariat, persiapan pagi ini kita upacara pengukuhan santri baru." 

"Jadi nggak ada Kak Haifa di sini semalam?" 

Teman-teman sekamarku serempak menggeleng.

"Kamu langsung tidur lepas Isya semalam, Nir. Sampai nggak ikutan acara fun room jam sembilan. Untung bukan acara wajib." 

Aku memang kelelahan, belum terbiasa dengan jadwal belajar sepadat ini. 

"Jadi semalam siapa yang tidur di dipan Kak Haifa?" tanyaku lagi pada mereka. 

Semua kembali menggeleng bersamaan. 

"Nggak ada yang berani tidur di dipan Kak Haifa, Nir. Kenapa memangnya?" 

Hampir saja aku menjawab, tapi urung. Jangan-jangan semalam aku hanya mimpi. Ah, konyol! Sebaiknya aku lupakan.

Hari itu berlalu dengan lancar saja. Upacara pengukuhan santri baru, penyematan gelar pada para penanggung jawab kamar dan presiden asrama, peresmian musyrif di tiap gedung, dan pengumuman resmi jadwal belajar dan aktivitas selama di pondok. Aku berusaha siap, PR terbesarku memanglah menyesuaikan diri dengan semua ketentuan aktivitas di sini. Aku toh menginginkannya, juga menjalani semua dengan gembira. Tak ada yang terlalu berat, kecuali jadwal tidur jam 10 malam, dan jadwal bangun tepat pukul tiga. 

Aku kerap sudah kelelahan manakala waktu lepas landas meninggalkan Isya. Begitu tiba saatnya Kak Haifa mematikan lampu kamar, betapa bahagia rasanya. Seperti malam ini, aku segera jatuh pulas tanpa aba-aba lagi. 

Tak terpikir olehku untuk melihat ke arah penunjuk waktu saat seseorang seperti menggoyangkan kakiku kencang, memintaku bangun meski tanpa suara. Aku yang khawatir terlambat bangun mengira bahwa Ustazah Maulida yang turun tangan membangunkanku langsung. Betapa malunya! 

Namun saat aku dalam posisi duduk dan sempurna sadar, tak ada siapapun. Kamar masih gelap, semua orang masih tidur termasuk Kak Haifa. Beberapa menit lamanya aku mencoba berpikir jernih, berusaha lebih sadar lagi sebab mengira aku kembali bermimpi. 

Tapi lagi-lagi ada yang mengguncang kakiku. Cahaya merah remang dari jam analog di dinding membuatku cukup tahu bahwa tak ada siapapun yang menyentuh kakiku, tapi kaki itu masih bergerak sendiri, terguncang seperti seseorang tengah mempermainkannya. 

Perlahan tapi pasti guncangan itu mereda, berubah menjadi usapan yang pelan, lembut, dan dingin. Usapan itu benar-benar terasa dingin, kakiku seperti disentuh oleh jemari yang .... 

"Astaghfirullah ..., astaghfirullah ...." Aku tak bisa mengucap kata lain bahkan untuk minta tolong saat sosok itu mewujud. Dia duduk di ujung dipan, menatapku diam dan jari-jarinya yang kurus terus hilir mudik di atas betisku. 

Harusnya aku menarik kakiku dan melompat turun dari tempat tidur, tapi tubuh sebatas pinggang ke bawah layaknya es batu yang tak tersambung dengan syaraf-syaraf tubuh. Beku, kaku. 

Aku menangis, namun hanya air mata yang keluar. Suara isak yang coba kuteriakkan juga nihil. Aku mulai paham bahwa tak ada seorangpun di kamar ini yang tahu aku tengah diganggu. 

Kemudian sosok itu berhenti menyentuhku, dan aku melihat dengan sangat jelas ia turun dari dipan. Tubuhnya yang menjulang menyentuh atap berjalan menuju pintu arah kamar mandi yang terletak di lorong belakang kamar kami, dan menghilang di sana. 

Bersamaan dengan itu kakiku menghangat, aku bisa menangis dengan lepas, tapi kali ini isakku tertelan bel qiyamullail yang berdering nyaring dari mini sound system di sudut kamar. Sudah pukul tiga rupanya. 

Aku memiringkan tubuh menghadap tembok. Teman-teman akan melaksanakan salat malam, mungkin ini kesempatanku untuk beristirahat dari ketegangan barusan. Mereka tak akan membangunkan teman yang sedang haid. 

"Astaghfirullah, Nirmala, kamu tembus banyak banget!" seru seseorang dengan penuh kejut. 

Aku gegas membersihkan sisa air mata lalu menoleh, mendapati teman-teman menatapku ngeri. Ya Tuhan, darah haid membasahi nyaris seluruh bagian belakang tubuhku, juga merata di sekitar selimut dan seprai. Kenapa aku tidak sadar bahwa tubuhku basah? 

Dengan hati-hati aku bangkit, dan meminta salah satu teman menemaniku ke kamar mandi dengan alasan sulit membawa seprai dan selimut sekaligus. Padahal yang sebenarnya adalah, aku masih ingat makhluk itu berjalan ke arah kamar mandi setelah menggangguku. Aku takut bertemu dengannya untuk kedua kali. 

Namun ternyata semua aman saja. Tak ada apapun lagi yang menampakkan diri di hadapanku, sekalipun aku merasa takut. Dan seharian itu aku sukses menjalani hari dengan pertanyaan yang lahir hampir dari setiap orang yang berpapasan denganku, "Nirmala, kamu pucat banget. Sakit?" 

Aku hanya tak habis pikir, kenapa bisa mengeluarkan darah haid sebanyak itu. Padahal siang hari sebelumnya semua biasa saja. Aku bahkan merasa tak perlu mengenakan pembalut. Tapi semua melaju banjir saat aku tidur. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, tubuhku bergidik otomatis setelahnya. Jangan-jangan sentuhan itu penyebabnya. 

Kesadaran barusan mencipta teror tersendiri di dalam diriku. Konsentrasi belajar buyar, boro-boro hafalan. Beberapa kali aku harus ditegur sebab tidak menyahut saat ditanya oleh ustazah. Teman-teman bilang aku melamun, padahal sebenarnya aku kembali merasa takut mengingat kejadian semalam. 

Rasa takut itu menjadi-jadi saat waktu melewati pukul sembilan malam. Waktu yang dulu kutunggu-tunggu, waktu berakhirnya segala aktivitas dan seluruh santri diharuskan tidur, kini adalah waktu yang ingin kuhindari. Aku tak menyangka ketakutan akan kejadian kemarin membuatku demikian tersiksa. Bagaimana jika malam ini dia datang lagi? Apa sebenarnya yang diinginkan dariku? 

Tap! 

"Aah, astaghfirullah!" Tiba-tiba saja aku tak tahu harus melakukan apa selain menangis saat Kak Haifa memadamkan lampu kamar. 

Mereka lantas bertanya padaku tentang apa yang terjadi, tapi entah kenapa sulit sekali rasanya mengutarakan ketakutan ini. Aku hanya mampu berkata lirih agar Kak Haifa tidak mematikan lampu. 

Meski bimbang, Kak Haifa menuruti keinginanku setelah sebelumnya mengucap do'a agar aku lekas sembuh. Teman-teman memang menganggapku sedang sakit, semacam pendarahan menstruasi padahal seharian ini tak ada masalah apa-apa denganku selain wajah pucat dan -kata mereka- aku jadi gemar melamun. Kami tidur dalam keadaan terang benderang malam ini, meski dibayangi oleh hukuman yang akan didapat esok pagi.

Dalam tidur yang baru bisa nyenyak di atas pukul sebelas, aku merasa napasku sesak. Aku miring ke kiri dan kanan, mencari posisi agar napas kembali lega, namun tak ada perubahan. Bahkan organ napasku kian terasa sempit, udara menjauh perlahan. 

Aku mencoba duduk, dan kaget luar biasa saat kudapati tubuh tak bisa bergerak. Aku sadar, tapi seperti tidur, dan yang paling membuatku kalap adalah hidung dan mulut seperti dibekap. Sulit bernapas, tak bisa bicara apalagi berteriak. Aku seolah memberontak pada belenggu yang menahan tubuhku, tapi semua terasa sia-sia belaka. Sesuatu menjeratku kuat, bahkan terasa semakin kuat dari waktu ke waktu. 

"Kenapa, Nir? Ada apa?" Aku terbangun lega di hadapan sembilan pasang mata penghuni Hijaz yang tengah menyorotkan pandang khawatir padaku. 

"Aku mimpi buruk. Maaf," jawabku sambil mengusap kedua tangan ke wajah, menghirup dan embuskan napas sebanyak yang kumau.

Kak Haifa yang telah naik ke atas dipan mengulurkan telapak tangannya ke keningku untuk mengukur suhu. 

"Nggak panas, kok. Malah kamu berkeringat banyak sekali, Nir. Rambutmu sampai basah begitu." Dari wajah kakak kelas itu terbit keheranan. 

"Maafkan aku ya, semuanya... Kalian jadi bangun," ucapku merasa bersalah. 

"Tadi kakimu menghentak-hentak kasur keras banget, Nir. Aku sampai kaget," timpal Nifi yang tidur di dipan tepat di bawahku. Pasti ia yang merasa paling terganggu, sementara aku sendiri tak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu hanyalah berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang membebat hidung, mulut, bahkan hingga seluruh wajahku. 

Setelah memastikan aku baik-baik saja, teman-teman memutuskan tidak kembali tidur. Kurang dari setengah jam lagi bel qiyamullail akan berbunyi, terasa tanggung jika balik ke alam mimpi. Masing-masing dari mereka mulai menggelar sajadah di tengah ruangan, menyisakan aku yang masih haid, terbaring dengan mata terpejam meski tidak sedikitpun bisa tidur hingga hari benderang dan aktivitas pondok dimulai. 

---- 

"Jangan matikan lampu, Kak. Aku takut," antara berani dan tidak aku memohon setelah tuntas pembicaraan kami yang sedikit tergesa itu, meski tahu esok hukuman akan datang lagi. Aku takut dihukum, tapi lebih ngeri lagi pada malam hari. Waktu menjelang tidur adalah detik-detik teror yang menerkamku dalam gelap lampu kamar dan pejam mata. 

"Nir, tapi kita harus mematikan lampu. Kita udah dihukum kemarin." Suara Kak Haifa tenggelam oleh bel tidur yang menggema. 

"Jangan, Kak! Aku mohon kita jangan matikan lampu malam ini." Aku sedikit memekik melihat jemari Kak Haifa kembali menyentuh sakelar. 

Kak Haifa juga teman-teman lain tampak memandangku sedih dan tak mengerti. 

*** 

Satu kamar diizinkan menyala, kamar lain menuntut serupa. Hijaz yang tak pernah padam menjadi sumber masalah tersendiri, sebab ketika satu pelanggaran kecil diizinkan, maka ia akan menjadi pintu bagi pelanggaran lainnya yang lebih besar. 

Simpul masalah pada akhirnya harus dibawa ke meja Sang Mudir, K.H. Taufan Malik. Lalu keputusan terakhir adalah dianggap yang terbaik dari semua pertimbangan, setelah diskusi panjang dengan beberapa perwakilan santri dan orang tua Nirmala. Tak ada yang lebih baik bagi bocah indigo tersebut dibanding dekap aman orang tuanya sendiri.

"Nir, apa kamu nggak betah tinggal di sini?" 

Malam itu Hijaz masih diperbolehkan benderang, sebagai simbol perpisahan bagi Nirmala yang esok siang akan kembali pulang. 

"Aku udah lama mengimpikan bisa tinggal di pondok seperti ini. Menyenangkan banget punya teman-teman seperti kalian. Tapi aku lalai." Nirmala sungguh menyesali keteledorannya kali ini. 

"Maafkan kami yang nggak ngerti apa-apa ya, Nir," tanggap Haifa, ia merasa sungkan pada posisinya sendiri sebagai penanggung jawab kamar. 

"Nggak, Kak. Nggak ada yang patut disalahkan. Mungkin memang aku belum jodoh dengan pondok ini." 

Tepat saat bel tidur memenggal waktu bicara mereka, semua berpelukan. Meski tak lama, hanya satu minggu lebih sedikit, setidaknya Nirmala pernah menjadi bagian dari Hijaz, dari mereka bersepuluh. Haifa yang memeluknya paling erat, terlebih malam ini -sesuai perintah- Nirmala akan tidur bersamanya dalam satu dipan. 

Satu jam, dua jam, tiga jam. Mereka semua tidur begitu lelap, termasuk Nirmala. Namun tepat mendekati pukul dua pagi, Nirmala tersentak duduk dari tidurnya, membuat Haifa sedikit melonjak kaget. 

"Kenapa, Nir?" Haifa melihat mata Nirmala masih seutuhnya rapat. 

"Nir ...." Diulanginya lagi memanggil dengan lebih halus. 

"Pintu sudah terbuka. Yang terbuka tidak akan tertutup lagi." 

Lalu Nirmala kembali rebah, nyenyak seperti tak terjadi sesuatu. 

----

Lambaian tangan itu sebagai bukti berat hati Nirmala meninggalkan gedung asrama pondok pesantren modern pilihannya ini, terutama para penghuninya yang menyenangkan. Masih belum puas ia memperhatikan tiap sudut bangunan dan suasana untuk dikenangnya di rumah nanti saat ayah menggamit lengan mengajaknya memasuki mobil. 

"Nggak apa-apa. Kita belajar di rumah, dengan jadwal yang harus lebih tertata." Begitu ayah membesarkan hatinya. 

Sementara itu di dalam sebuah ruang, Mudir Taufan tengah berdiskusi dengan seorang ustaz senior yang telah lebih empat dekade mengabdi di sana.

"Mungkin semacam peringatan, Taz." Sebuah tanggapan lahir bagi kegelisahan yang melahirkan gusar di wajah kiai sepuh itu. 

"Ya, harusnya tahun lalu kita tidak menghapus tradisi bebersih itu. Saya sungguh tidak memperhitungkan bahwa kita mungkin saja menerima santri dengan kelebihan khusus." 

Mereka tengah membicarakan tradisi yang terlewat: membersihkan pondok dengan serangkaian aktivitas mengaji dan sedekah hasil bumi pondok pada masyarakat sekitar. 

"Saya pun luput, Taz," tanggapan hadir kembali, "mengira bahwa setelah sistem kita sudah mayoritas dialihkan pada digital dan gaya pikir seluruh pesantren sudah modern, gangguan tanah ini tidak akan datang lagi. Tapi ternyata barangkali memang ada hak makhluk lain yang terlupa kita tunaikan." 

Mudir sepuh itu mengangguk. Dalam kepalanya yang telah terbiasa berpikir cepat, ia tengah menggagas kegiatan bebersih itu sepuluh bulan lagi. Persiapan yang dirasanya cukup jika dimulai pekan ini juga, termasuk saat harus menyelaraskan jadwal Menteri Agama yang biasa mengisi moment sekapur sirih dalam acara akbar lima tahunan pondok modern terbaik kedua di seantero negeri itu. 

*** 

Haifa terbangun dari tidurnya yang gelisah. Hijaz kini telah kembali gelap, membuatnya teringat akan Nirmala dan cerita-ceritanya kemarin. Kata-kata terakhir yang didengarnya dari adik kelas itu adalah tentang pintu yang terbuka. Haifa tak menangkap maksud Nirmala, dan semula hanya mengira itu igauan semata. Namun kini kekata itu entah kenapa justru mengambil porsi dalam pikirannya. 

Sejenak ia melihat sekeliling, menatap para adik kelasnya yang sibuk dalam lelap masing-masing. Sekilas dilihatnya dipan Nirmala, di sisi atas seberang dipannya sendiri, membuat kening gadis itu mengkerut seketika. 

"Siapa yang memasang kasur Nirmala lagi?" 

Ia sadar betul tadi siang bersama penghuni Hijaz lainnya telah merapikan dipan Nirmala, mengangkat kasur busa di dalamnya dan meletakkannya di sudut kamar yang lega agar tak kotor dan disarangi tungau, sampai dengan ada penghuni baru yang membutuhkannya. 

Lalu kenapa sekarang kasur itu kembali ke tempatnya? Semestinya tak ada yang boleh melakukan itu tanpa memberi informasi padanya. Haifa bangkit dan memeriksa kasur itu dengan tangannya langsung. Benar, kasur itu terpasang rapih di dipan. 

Dalam konsentrasinya memeriksa, Haifa merasa punggungnya disentuh seseorang. 

"Kasur Nirmala siapa yang pas ...." Kekata Haifa terhenti saat membalik badan dan tak mendapati siapapun. Semua orang masih tertidur. 

"Awas, ya, yang ketahuan iseng sama punggung saya besok kena iqob!" seru Haifa yang disambut kesunyian pula. 

Tepat saat ia kembali pada kasur yang diperiksanya, Haifa merasa mulai mengerti maksud kata-kata Nirmala, sekalipun rasa takut dan terkejutnya jauh lebih besar. 

Haifa berusaha melafal ayat apa saja yang diingat, tubuhnya tak bereaksi apapun padahal otak telah memerintahkan untuk menjauhi dari situ. Sosok entah apa yang duduk di situ, di kasur Nirmala, tengah menjulurkan tangan ke arahnya. 

[-] .

 

Musyrif: pendamping di pondok pesantren

Mudir: ketua pondok pesantren

Iqob: hukum