Rindu

Sosok wanita misterius yang menemanidi malam hari

 

Hawa panas menyelubungi rumah. Padahal pendingin ruangan sudah dinyalakan, tetapi anakku Rakha tetap susah tidur dikarenakan keringat menganak sungai di wajah dan tubuhnya, sedangkan waktu menunjukkan pukul dua belas malam.

"Ibuuu ... gerah! Aku enggak bisa bobo." Rakha terus saja merajuk.

"Iya, Sayang. Bobo, ya ... biar ibu kipasin," ucapku sambil menggerakkan kipas anyaman bambu. Merasakan kenyamanan, bocah tampan berusia tujuh tahun itu pun tertidur pulas.

Rasa kantuk juga menyerang diri, tetapi hati terasa gamang, karena jika menghentikan gerakan tangan, khawatir Rakha terbangun. Namun, perlahan tanpa dipinta, mata mulai terpejam. Lamat-lamat di telinga terdengar suara orang bersenandung, lagu penuh kerinduan dan kesedihan. Bulu tengkuk terasa berdiri. Aku membuka mata memastikan itu suara manusia atau makhluk lain.

Tampak di samping tempat tidur, duduk sesosok wanita. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajah.

Tanpa membuka mulutnya, sosok itu mengeluarkan suara, "Tidur, Neng ... biar Ibu yang kipasin sambil menyenandungkan lagu pengantar tidur." Senyum tipis terlihat di bibirnya, saat aku mengangguk dan merebahkan diri di samping Rakha. Sosok yang mengaku Ibuku, terbang melayang. Gaun putih panjang yang dikenakannya, diangkat dan dikibaskan. Udara sejuk mulai terasa. Tanpa takut, aku menikmatinya lalu tertidur pulas.

Kejadian itu terus berulang, jika hawa panas datang. Terakhir aku bertemu sosok tersebut saat selesai menunaikan salat malam. Dia memelukku dari belakang, menangis dan menyuruhku untuk menjaga diri baik-baik. Jujur ... aku sempat, merindukan sosok tersebut.

Sebagai wanita mempunyai indera keenam, melihat makhluk halus sudah terbiasa bagiku, sehingga rasa takut tak pernah ada jika mereka muncul menampakkan wujudnya. Terkadang sebagian menceritakan tentang dirinya, ada juga yang usil dengan niat menakuti. Namun, sekali lagi sosok mengaku Ibu lah, salah satu membuatku penasaran sehingga beberapa kali menanyakannya pada makhluk lainnya, tetapi tidak ada jawaban memuaskan. Biarlah hal tersebut terekam di lubuk hati dan pikiranku, seraya doa teriring, semoga suatu saat dia mendapatkan ketenangan di sisi-Nya.