Pesantren Angker - Panggilan Misterius

Ilustrasi/pesantren/pixabay

Sebagai musyrif santriwati yang bertugas malam, menjaga agar tidak diserang kantuk adalah pekerjaan sulit. Malam sudah tinggi, seluruh penghuni pesantren sudah tidur. Aku meregangkan otot sambil menguap, membetulkan jilbab lebar yang kukenakan, lalu mencoba memejamkan mata sambil menyandarkan punggung pada bahu kursi

Tak sampai Lima menit sebuah nomor pribadi terpampang di layar ponselku. Entah siapa yang iseng seminggu ini terus-menerus meneleponku tanpa nama. Anehnya lagi, setiap kali panggilan itu kuangkat maka akan langsung diputuskan.

Belum lima menit, ponsel kembali berbunyi menandakan ada pesan masuk. Aku bergeming membaca pesan yang tertera. Zahra, salah satu santriwati mengabarkan kalau malam ini dia tidak pulang. Bukan hal baru bagiku. Sejak ibunya masuk rumah sakit, gadis bertubuh kurus itu sering izin pulang untuk menengok orang tua tunggalnya.  

“Siapa?" Suara Fatma mengagetkanku. 

“Zahra.” Aku menjawab sambil memasukkan ponsel ke saku. Fatma adalah sesama musyrif di pesantren ini, lebih tepatnya pondok modern berbasis pesantren.

"Tidak pulang lagi, dia?" Fatma menerka. Aku mengangguk.

"Ustadzah Ilma tahu tentang Zahra?" tanya Fatma lagi.

"Aku sempat cerita tentang kondisi orang tua Zahra."

"Lalu?" Fatma penasaran.

"Sebagai lembaga pendidikan berbasis pesantren semua santri harusnya tidak diizinkan pulang diluar jadwal, tapi karena kondisi Zahra harus menjaga ibunya yang sedang sakit, Ustadzah Ilma memberi kelonggaran untuk pulang," Aku berujar menjelaskan. 

"Untung aja Zahra tinggal satu kota, kalo nggak ... kasian harus bolak-balik," ucap Fatma membenarkan.

"Itulah, kedua adiknya juga masih kecil belum bisa diandalkan," timpalku.

"Kasian Zahra, semoga ibunya cepat sembuh," pungkas Fatma mengakhiri, lalu berdiri menuju ke ruang khusus musyrif.

Aku baru saja hendak mematikan keran air di wastafel yang lupa dimatikan Fatma ketika ponselku menjerit. Lagi-lagi sebuah nomer tanpa nama tampak di layar. Aku mengangkat bahu, dengan cepat merapikan meja yang berantakan, mematikan lampu dan mengunci pintu. Masih ada waktu satu jam sebelum tahajjud call, panggilan untuk bangun melaksanakan rangkaian ibadah qiyamul lail.

Meski sudah mematikan lampu, tapi mata ini tidak juga terpejam. Entah firasat apa pikiranku tertuju pada Zahra. Gadis cerdas yang hampir menyelesaikan hafalan 30 juz itu sungguh seorang gadis yang kuat. Meski kondisi ekonomi keluarganya jauh dari cukup, tapi kecerdasan otaknya mampu bersaing mengalahkan puluhan calon santri untuk mendapatkan bea siswa di pondok pesantren milik seorang Kyai besar di kota ini. 

***

“Kau yakin tidak mau diantar?” tawar Revan malam itu, seorang santri putra yang kulihat sering mencuri pandang pada Zahra.

"Van, bukannya Zahra tidak mau diantar, tapi haram hukumnya berkhalwat dengan yang bukan mahramnya." Aku menjelaskan pada Revan. 

"Cuma menemani aja, Ustadzah. Lagipula kan bareng Tasya." Revan bersikukuh. Aku menggeleng, meski tahu Revan tidak sendiri. Ada Tasya adiknya yang juga teman Zahra pulang bersamanya, tapi aku tidak mau melepaskan santri putri untuk pulang bersama santri putra dengan alasan apapun. Aku segera berjalan meninggalkan Revan yang tengah berdiri di samping mobil yang menjemputnya.

“Ini sudah malam, Ustadzah!” teriaknya di antara suara mesin mobilnya, "Kasian Zahra pulang sendiri."

Aku menghentikan langkah dan menoleh. Zahra tampak sedikit berlari keluar gerbang pondok sebelum berbelok di ujung jalan menuju jalan yang sedikit gelap. Sebenarnya tak masalah mengizinkan Zahra diantar Revan, toh dalam mobil itu ada Tasya juga ayahnya. Namun, entah ... aku justru kembali melangkah menuju gedung utama pesantren. 

Langkahku terhenti, seperti ada yang mengikuti. Aku tak punya keberanian untuk berbalik. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari sekencang mungkin, meninggalkan lorong bangunan bertingkat tinggi itu. Dengan napas memburu, aku bergegas masuk ke kamar, Fatma sudah tidur. Gegas aku mengunci pintu. Rasa takut membuatku langsung merebahkan diri di kasur tanpa ingin mandi. Ah, ada apa ini ....

 ***

“Kamu akan menginap lagi?” tanyaku dengan suara sedikit keras ketika Zahra pamit untuk mengunjungi ibunya siang itu. 

Gadis yang terlihat makin pucat  itu menganggukkan kepalanya sambil memilin ujung jilbabnya. Sebenarnya aku sangat ingin meminta Zahra untuk  pulang malam ini. Dia harus murojaah dan menyelesaikan hafalan Alqurannya dalam satu minggu sebagai syarat mengikuti ujian kelulusan. Biasanya gadis cerdas itu menemaniku piket malam sambil menghafal. Teror panggilan nomor pribadi serta perasaan diikuti seseorang saat berada di ruang utama membuatku merasa tak nyaman di pondok seorang diri. Namun, kuurungkan niat untuk meminta ketika melihat Zahra begitu murung, pasti kondisi ibunya tidak memungkinkan untuk ditinggalkan.

***

Beberapa kali aku menengok jam besar di sudut aula yang digunakan untuk menyetorkan hafalan. Para Santri  satu per satu telah merampungkan tugas, menyetor hafalan Quran sesuai target yang ditetapkan berdasar penilaian kemampuan masing-masing siswa. Hari ini hari terakhir, semua santri kelas dua belas harus mengkhatamkan minimal  sebagai persyaratan ujian kelulusan. 

Di pondok ini siswa akan menempuh pendidikan formal setingkat SMA, dengan Mata pelajaran umum, selain pendidikan diniyah dimana siswa akan belajar tentang Alquran, Taqrib, Tafsir, Nahwu, juga munaqosah Alquran sebagai syarat kelulusan.

Aku menyapukan pandangan, mencari sosok Zahra. Entah kenapa perasaan gelisah tiba-tiba menjajah. Akankah gadis itu hadir sesuai janjinya? Atau kondisi ibunya tidak mungkin ditinggalkan hingga ia tidak bisa mengikuti ujian. Sekali lagi kulirik jam di sudut, tersisa tiga puluh menit. Nama Zahra sudah dua kali dipanggil oleh Ustad  Nasir sebagai ketuatim penguji, tapi gadis itu belum menampakkan batang hidung.

Ustad Nasir kembali memanggil nama Zahra, hening ... tak ada jawab. Semua yang hadir saling pandang dengan harap cemas. Tiba-tiba sebuah cahaya menerobos masuk, semua yang hadir menoleh ke pintu yang terbuka. Tampak sosok seorang gadis bertubuh kurus dengan jilbab lebar yang berkibar memasuki ruangan dengan langkah lambat.

"Zahra," gumamku lega. Kuembuskan napas penuh syukur. Akhirnya gadis itu muncul juga, aku sangat mengkhawatirkan karena peraturan tegas jika tidak menyelesaikan hafalan maka tak bisa meninggalkan pondok meski sudah menyelsaikan pendidikan formal.

Berjalan perlahan menuju podium diikuti puluhan pasang mata yang menatapnya, Zahra melangkah dengan anggun. Aroma melati menyeruak, aku mengerutkan alis. Tak biasanya gadis itu memakai parfum yang menyengat, bahkan haram hukumnya menggunakan wangi-wangian berlebihan bagi santri putri. Namun,  aku abai dan hanya ingin fokus menyimak tartil bacaan Zahra yang mulai terlantun, begitu bening dan syahdu menyentuh jiwa.

Zahra melantunkan juz 29, dimulai dengan kata pertama tabarak alladzi pada surah Al-Mulk ayat satu dan berakhir dalam Surah Al-Mursalat ayat 50. Ayat demi ayat berhasil di lafalkan dengan sempurna. Nyaris tanpa cacat bacaan tajwid, harokat, dan tahsin yang begitu indah. Buliran bening menggenang di sudut mata, sungguh Maha Besar Allah menganugerahkan kesempurnaan pada hamba yang tawakal. Gadis yatim cerdas dan shalihah.

Selanjutnya Juzz 30 akan dilantunkan secara tartil, Zahra mendapat giliran pertama dan semua santri putri menyimak. Asma Allah pun bersahutan dari bibir para Ustad, Ustadzah dan wali santri. Sungguh pemandangan yang tak mampu membendung suka cita dan haru menguras air mata.

Acara berakhir setelah salat Isya berjamaah dan semua santri putri kembali ke kamar masing-masing. Bunyi ponsel berdering saat membersihkan aula. Aku dan Fatma saling berpandangan sesaat. Sedikit ragu aku menerima panggilan tersebut. Lagi-lagi tak ada suara selain bunyi panggilan yang diakhiri.

Teror telepon masih saja berlangsung. Ponsel itu kubiarkan saja terus berbunyi hingga berhenti sendiri. Fatma hanya tertawa melihat aku yang kesal. 

“Ukhti punya penggemar rahasia tampaknya,” goda Fatma sambil tersenyum. Aku mencebik dan kembali menyibukkan diri.

Setelah memastikan semua pintu ruang utama terkunci dengan baik, aku dan Fatma berjalan bersisian menuju ruang Musyrif. Aku terkesiap, sebuah bayangan berkelebat. Lututku gemetar dan badanku lemas. Melihat aku ketakutan, Fatma menatapku heran

"Ukhti kenapa?" tanya Fatma memelukku. Tanganku menunjuk sesuatu diikuti tatapan Fatma, tapi sahabatku itu hanya melongo tak mengerti. Aku menghela napas panjang meredam rasa takut. Mungkin hanya khayalanku saja, aku membatin mengusir rasa takut.

Saat hendak menutup pintu, harum melati menyeruak, wangi yang sama seperti tadi siang di aula. Angin dingin membelai leherku membuatnya meremang, ada yang aneh kurasakan. Reflek tanganku mencengkeram lengan Fatma, tampaknya ia pun merasakan hal yang sama. Wajahnya mendadak pias, gegas ia menyeretku menuju kamar, menguncinya dan membanting tubuhnya di kasur tanpa melepas pelukannya padaku.

Namun, belum sempat aku mengatur napas karena pekukan Fatma yang sangat erat. tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku dan Fatma saling tatap, tegang menyelimuti. Dengan gemetaran karena takut dan penasaran, aku menerima panggilan tersebut.

"Assalamualaikum," ucapku menyapa dalam takut. Tak ada jawaban, perasaanku sungguh tak enak. Udara mendadak terasa begitu dingin menusuk tulang, dan aroma melati itu kembali menggelitik hidung.

"Assalamualaikum." Aku mengulang salam, menajamkan telinga. Mungkin sipenelepon menjawab lirih hingga aku tak mendengarnya.

Lamat-lamat aku mendengar seperti suara tangis. Aku mengerutkan alis, siapa yang menangis di sana? Aku tak bisa mengenali suara yang terisak pelan itu. Fatma yang sejak tadi mematung meraih ponselku, menekan tombol speaker. Namun, usahanya pun sia-sia karena suara isak itu justru lesap.

***

Aku hampir melupakan kejadian itu ketika dikejutkan suara seseorang sedang mendaras Alquran. Aku mengerutkan alis, merasa mengenali suara itu. Namun, cepat kutepis pikiranku. Bukan, itu bukan suara Zahra. Sejak dinyatakan sebagai santriwati terbaik, gadis yatim itu  pamit kembali ke rumah agar dapat lebih fokus merawat ibunya.

"Siapa yang mengaji?" Fatma tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku mengangkat bahu dan menggeleng.

"Seperti suara Zahra," lanjut Fatma lagi. Aku menggeleng.

"Zahra tidak pulang kemari, dia pamit kembali ke rumahnya,' ujarku menjelaskan

"Lalu siapa yang mengaji? Suaranya mirip Zahra." Fatma menatapku tajam. 

Aku langsung menuju ruang depan memastikan siapa yang belum kembali ke kamarnya. Tidak boleh ada santri putri yang berada di luar kamar di atas jam 10 malam kecuali atas izin musyrif atau kepala kamar. Fatma mengekor sambil memegang ujung jilbabku.

Suara lantunan ayat suci itu makin keras, tapi seperti dilantunkan dengan nada yang menyayat. Perlahan kubuka pintu ruang utama, seorang mirip Zahra duduk membelakangi pintu. Aku mengernyit.

"Zahra?"

Lantunan ayat suci berhenti, gadis itu menoleh. Namun, aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena penerangan dalam ruangan sudah dimatikan.

“Kamukah itu Zahra?" Aku mempertegas kalimat, "sedang apa kamu di sini? kenapa datang tidak melapor pada musyrif?"

Sosok yang kuduga Zahra itu bergeming, aku mendekat diikuti Fatma. Melalui cahaya bulan yang menerobos lewat lubang angin, aku melihat wajah Zahra begitu pucat dengan mata cekung. 

"Tidurlah, ini sudah malam!" perintahku. Gadis itu berdiri meletakkan Alquran di tempatnya lalu dengan cepat menghilang tanpa suara. Tiba-tiba aku merasa menggigil, tulangku seperti ditusuk-tusuk, aroma itu ... membuat kepalaku pusing, cepat aku meraih lengan Fatma yang juga terasa dingin. Kami berdua setengah berlari menuju kamar dengan napas tersengal.
 
***
Seorang warga dusun Lebon menemukan mayat seorang wanita saat hendak mencangkul ladangnya. Diduga korban dibunuh setelah diperkosa dan jasadnya dikubur di pekarangan kosong tak jauh dari Pondok Pesantren Griya Shalawat. Melihat kondisi korban, polisi menduga korban dibunuh sebulan lalu. Ditemukan juga sebuah ponsel jadul di saku baju mayat yang sudah tidak bisa dikenali itu ...

"Zahra ...." Hanya itu yang sempat terucap dari mulutku sebelum semuanya menjadi gelap.

Sidoarjo, 15 April 2021