Pesantren Angker- Bayang Bayang Ilusi

alodokter.com

Awalnya hanya berguncang sedikit, lama kelamaan tempat tidurku semakin kuat bergetar. Lelapku terganggu, dengan kesal aku menghardik Maman yang menempati kasur di atas. 

 

"Woooiii…. Bisa diam gak, Lu!" 

 

Hening sesaat! Namanya juga pesantren, kami harus menerima keadaan yang tidak senyaman di rumah. Ranjang berbahan besi bertingkat dua dan berderet di ruangan yang cukup besar. Bentakanku hanya bertahan semenit, kemudian ranjang bergetar lagi. Aku yang tidur meringkuk, segera terlentang dan menendang ke atas kuat-kuat.

 

"Setan, Lu! Ganggu aja dari tadi. Cari mati, hah?" 

 

Satu detik, dua detik, hingga hitungan kelima tetap sunyi. Tidak ada pergerakan apa-apa. Mungkin Maman sudah kapok kena tendangan tadi. Aku menarik selimut dan kembali tidur. Tetapi, baru saja memiringkan tubuh, perasaan aneh timbul. Ranjang di sebelah kanan kosong! Aku tidak ambil pusing, lalu segera memejamkan mata. 

 

Namun, perasaan tak enak kembali menyeruak. Kucoba putar badan menghadap ke kiri. Di ranjang sebelah sana juga kosong. Kemana orang-orang? Apakah mereka kompak ke toilet? Mungkin saja hiburku dalam hati. Tiba-tiba selimut yang kupakai seolah-olah ada yang menarik. Karena kesal, aku bangkit dan duduk seketika! Tidak ada siapa-siapa. Suasana begitu sunyi. Tubuhku tiba-tiba merinding! Saat mata melihat ke sekeliling, tidak ada satupun santri yang tidur. Semua ranjang kosong!

 

Rasa penasaran membuatku turun dari tempat tidur. Lagi-lagi aku terhenyak tak percaya, sebab di atas ranjang tempat biasanya Maman tidur juga kosong. Kemana dia? Sekonyong-konyong berkelebat sebuah bayangan melintas seperti kilat di samping kiriku.

 

"Siapa?" bentakku sekadar untuk meredam rasa ngeri.

 

Tetapi tidak ada jawaban. Aneh! Ini sungguh keterlaluan. Kalau memang ada kegiatan di jam malam, mengapa aku tidak dibangunkan? Aku segera berjalan ke arah saklar lampu yang terletak di samping pintu masuk kamar. 

 

 

Krek

 

 

Seketika ruangan terang benderang. Benar saja, saat memutar tubuh melihat ke segala arah tidak ada siapa-siapa selain aku. Lalu, siapa yang iseng mengguncang tempat tidurku tadi? Belum juga terjawab, aku dikejutkan dengan sebuah pandangan yang memacu adrenalin. Maman! Pemuda tanggung berusia 15 tahun itu tengah duduk di atas lemari, tempat para santri menyimpan perlengkapan pribadi. Letak lemari berbahan kayu berjajar di samping pintu.

 

 

Tetapi, ada yang tidak beres. Wajahnya begitu pucat, lingkaran sekitar mata menghitam. Sambil menatap ke arahku, ia menyeringai! Darah dalam tubuhku terkesiap seketika! Jantungku seakan hendak melompat keluar dari rangka. Celakanya, mata ini tidak bisa beralih pandang ke arah lain. Tatapan seolah terkunci ke arahnya. Bibirku mengatup rapat, tubuh dan kaki tidak dapat bergerak seakan terpaku di lantai tempat aku berpijak. Jantung berdegup kencang tak beraturan, seakan-akan berlomba mengalahkan suara detak jam dinding yang bergema di antero ruangan.

 

Belum selesai kengerian yang kurasa, tiba-tiba terdengar engsel pintu berdenyit. 

 

Kriiieeettttt

 

Suaranya begitu memilas perasaan, ditambah daun pintu bergerak perlahan-lahan. Mataku dapat melihat jelas! Tubuhku kian terguncang. Rasa takut yang teramat sangat mengepung, melihat rombongan santri masuk dengan penampilan serupa mayat hidup. Sama seperti Maman, wajah mereka juga pucat! Lingkaran sekitar mata menghitam, ditambah seringai dari bibir yang juga tak kalah pekat. Celah-celah gusi di deretan gigi kusam terlihat sisa-sisa darah yang mengental. Pandangan mereka begitu buas! Dengkulku lemas, keringat dingin mengucur. Tetapi kesadaranku tak mau hilang, tetap menatap penuh takut ke arah segerombolan makhluk yang sangat mengerikan.

 

Tiba-tiba Maman melompat ke bawah! Ringan kakinya menjejak lantai tanpa suara, seperti selembar kertas yang jatuh berayun dan mendarat sempurna. Jarak aku dan dia kira-kira 1 meter. Seperti dikomandoi oleh pemimpinnya, rombongan santri yang kini menjelma makhluk mengerikan, bergerak serentak perlahan ke arahku. Mereka berjalan terseok-seok, diiringi suara geram tak jelas dalam seringai bernada kelaparan. Aku masih tercengang dan mematung ngeri! Tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan jerit terasa tersumbat di kerongkongan, dengan mulut menganga tanpa mampu mengeluarkan suara. 

 

Semakin lama mereka semakin dekat! Hingga tiba saatnya tubuhku seolah ditarik keras, terjerembab roboh ke lantai. Rambut gondrongku dijambak tanpa ampun, tangan-kaki bagai digerogoti sekawanan curut, seluruh tubuh terasa dicabik-cabik oleh gerombolan serigala lapar.  Sakit, luar biasa sakit.

 

"Aaakkkhhhhh…."

 

Aku menjerit sekuat yang aku bisa. Lama-lama ragaku melemah, tubuh menggigil kedinginan disertai rasa sakit yang teramat hebat. Lalu, semuanya gelap!

 

*

 

Lamat-lamat terdengar suara menggugah kesadaran. Kelopak mata perlahan terbuka, silau! Seketika aku memicingkan mata. Setelah beberapa detik, pandangan mulai mampu menyesuaikan cahaya sekitar. Rupanya aku berada di sebuah ruangan khusus, separo badanku berendam dalam air hangat. Rupanya aku berada dalam sebuah tong besar berbahan kayu ulin hitam. Di sekeliling beberapa santri senior dan Ustadz Rahmat sedang duduk bersila dan berzikir. 

 

Aku coba menggerakkan badan. Rasa ngilu di sekujur tubuh membuatku meng-aduh, hingga seorang santri memalingkan pandangannya ke arahku. 

 

"Alhamdulillah, Romi sudah sadar Ustadz!" serunya.

 

"Alhamdulillah"

 

Ucap mereka hampir bersamaan. Ustadz Rahmat menghentikan zikirnya, lalu meminta beberapa santri membopong tubuhku keluar dari tong. Salah satu santri telah siap membungkus tubuhku dengan handuk kering, karena bagian atas yang bertelanjang dada. Aku hanya memakai celana cingkrang saat berendam. 

 

"Bantu Romi menyalin pakaian bersih dan bawa ke tempat tidurnya!" perintah Ustadz Rahmat. 

 

Aku yang masih lemah, bertanya kepada santri senior tentang apa yang terjadi. Mereka menjelaskan kalau aku kumat lagi. Perlahan ingatanku mulai kembali.

 

Berawal dari sebulan yang lalu, aku dibawa paksa oleh ayah dan ibu ke pesantren ini. Kedua orang tuaku sudah kehabisan akal, karena aku seorang pecandu narkoba. Bahkan berulang kali dibawa ke rumah sakit rehabilitasi, tetap saja ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang tak kunjung hilang. Ayah dan ibu khawatir! Entah atas rekomendasi siapa, akhirnya aku dibawa kemari. 

 

Jika di rumah sakit rehabilitasi, setiap kali aku sakau, selalu diberi suntikan obat penenang. Berbeda dengan penanganan di pesantren ini. Setiap tubuh gemetar menahan candu yang tidak terlampiaskan, Ilusi menjajah jiwa dan otak, berhalusinasi hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, aku mendapati tubuh berendam di dalam air hangat beserta daun-daunan obat. Bau yang menyengat dari air rebusan bercampur suara-suara zikir, mampu menenangkan hati dan pikiranku. 

 

Hingga tak terasa, hampir 7 bulan aku berada di pesantren milik Kyai Hardin Jainudin teman masa kecil ayah. Semakin lama, hasil yang diperoleh mulai terlihat. Selain tubuh yang kian sehat, otak dan pikiran pun mulai tercerahkan. Aku tidak sakau lagi. Kabar kesembuhanku sampai ke telinga ayah dan ibu. Mereka pun datang dan hendak menjemputku pulang. Tetapi aku menolak! Aku ingin meminta waktu, agar dapat belajar ilmu agama lebih banyak. Termasuk ilmu menyembuhkan orang-orang ketergantungan obat terlarang seperti aku. Siapa tahu, kelak akan banyak lagi Romi yang bisa dibawa kembali ke jalan yang benar, Amin.