Melewati Makam Angker

Ilustrasi Hipwee

 

Terdengar kabar duka di TOA Masjid, almarhum Mbah Surip akan dimakamkan sehabis sholat magrib. Kala itu langit mendung menggelayut, membuat para tetangga malas untuk keluar rumah. Alhasil sedikit sekali yang datang untuk melayat.

 

Bagi Untung sosok Mbah Surip selama hidup begitu peduli pada warga sekitar. Sejak almarhum mengalami penyakit yang tak wajar, semua orang takut untuk mendekat. Mereka beranggapan bisa jadi penyakit Mbah Surip menularkan wabah. Namun, Untung dan Rohmat tidak percaya. Bahkan selalu datang berkunjung sekadar untuk menjenguk.

 

"Sabar, Bude Retno. Semoga Mbah Surip tenang di alam sana," ujar Untung kepada anak Mbah Surip.

 

Bude Retno mengusap linangan air di pelupuk mata yang mengucur deras. Kesedihan bukan hanya ditinggal mati oleh Sang Bapak. Melainkan ucapan Pak RT tadi sore membuatnya kecewa.

 

Rohmat yang tahu hal itu mulai berbisik di telinga Untung, "Mbah Surip tidak diizinkan dimakamkan di Pemakaman umum."

 

"Yang benar kau, Mad!" Untung tak percaya.

 

Kemudian menuju ke tempat Pak RT yang duduk di teras rumah.

 

"Ini bagaimana bisa begitu Pak RT? Mau dimakamkan di mana almarhum Mbah Surip?" tanyanya serius.

 

"Saya sudah menyediakan tanah kosong di Makam Ujung di dekat sungai."

 

"Pak RT yakin di sana?"

 

Makam lama yang jarang dipijak warga menjadi tempat pemakaman almarhum. Hari kian malam, waktu yang seharusnya ditentukan mundur. 

 

Keranda mayat dibawa dengan mobil ambulance. Karena tempatnya lumayan jauh. Almarhum tak bisa dimakamkan di dekat makam Sang istri. Bude Retno memaklumi, kondisi sekeliling menjadi alasan dalam masalah ini.

 

Hanya beberapa orang yang mengantarkan jenazah sampai ke Pemakaman. Rohmat menyusul bersama Untung dengan motor Honda butut keluaran tahun 2007. 

 

Mereka datang terlambat, jenazah sudah terkubur oleh tanah. Para pelayat menaburkan bunga di atas gundukan tanah. Rohmat dan Untung mendoakan sampai rintik hujan mulai deras, baju dan celana yang mereka kenakan basah kuyup. Semua orang sudah pergi tersisa mereka berdua. 

 

Untung mengajak Rohmat berteduh di sebuah rumah kosong, berdinding anyaman jerami. Atapnya bergeser membuat bocor di langit-langit. Mereka kedinginan, tapi hujan belum juga reda. Lampu jalan meredup, Untung menyalakan senter hp jadul.

 

Angin menyapa mereka dengan lembut, membuat bulu kuduk Rohmat berdiri kaku. Ia melihat bayangan di balik pohon kamboja. Bayangan hitam yang sembunyi.

 

"Ntung, pinjam senter, cepet," Rohmat berhasil merebut hp dari tangan Untung. 

 

Mengarahkan cahaya ke tempat itu. Sosok bayangan itu semakin terlihat jelas, meski samar. Tapi, ada dua gigi tajam di sudut kanan-kiri mulutnya yang mengeluarkan tetesan darah segar. Rohmat tegang, lalu menjatuhkan hp Untung. Mengetahui itu Untung begitu marah. 

 

Rohmat mengajak Untung pergi dari tempat itu. Sadar betul, dengan wajah panik Rohmat. Untung mulai penasaran dengan apa yang dilihat Rohmat. Sebelum sempat melihat penampakannya. Rohmat berjalan duluan diiringi langkah cepat oleh Untung.

 

"Motor, mana motor?" 

 

"Ah, kau ini kenapa baru ingat sekarang," Rohmat makin bingung. 

 

Kalau kembali ke tempat itu, Ia urung. Namun, jika tidak Rohmat sendirian di pintu makam. Mau tak mau mereka kembali ke gubuk yang tadi. Motornya masih berada di sana.

 

Dengan pencahayaan seadanya, kendaraan mereka di dorong bersama. Mau dinaiki tanahnya becek, dan sulitnya lagi banyak pohon. 

 

Kali ini mereka berdua, melihat ada seseorang membawa obor menyala di tengah rintik hujan. Anehnya, nyala api tetap tenang. 

 

"Pak, pak tunggu. Pak," teriak Untung dibarengi suara Rohmat. 

 

Semakin mereka mengikuti apinya semakin menjauh. Berputar ke tengah makam. Padahal mereka sudah keluar dari pintu makam. Gara-gara mengikuti orang yang membawa obor, terpaksa mereka masuk ke dalam makam lagi. Mereka tersesat, saat setelahnya. Untung sadar, jika yang mereka ikuti hanya api yang melayang-layang. 

 

Bukan manusia yang membawa obor, mereka menyaksikan sendiri detik-detik api yang berkobar masuk ke dalam gundukan tanah. Tanah yang masih segar dengan taburan bunga. 

 

"Kalau tidak salah itu makam di dekat kuburan Mbah Surip," kata Rohmat.

 

Dengan tenaga penuh Untung dan Rohmat segera kabur dengan mendorong kuat motornya. Hingga sampai keluar pintu makam, ada jalan setapak yang penuh kerikil, tak ada tanah becek lagi. Mereka saling menatap, sujud syukur bisa selamat. 

 

Lalu Untung menyalakan motornya, Rohmat duduk di belakang. Gantian. Mereka pulang dengan membawa perasaan takut yang belum kunjung hilang.

 

TAMAT

 

***

 

PML, 160421