Pesantren Angker - Dunia Lain di Pesantren

Ilusttasi, koleksi pribadi

 

Waktu menunjukkan pukul enam lebih tiga puluh menit pagi hari. Asrama yang berjejer dengan nama-nama kota dari tanah suci tergantung di pintu, tampak masih lengang. Seperti biasa, para santri sudah mulai mempersiapkan diri menuju fashlu al awwal

Suara riuh terdengar di sudut Asrama Minna yang dihuni oleh sepuluh santri, mengantri untuk mandi. Namun tidak untuk Haikal. Santri pindahan yang baru tiga bulan itu masih membenamkan diri dalam selimutnya yang hangat. Kasur tipis berjajar di lantai tak membuatnya tidur nyaman semalaman. 

"Haikal, bersiaplah! Antum jangan malas-malasan!" tegur Ahmad, sang ketua asrama. 

"Astaghfirullah, malas itu perbuatan syaiton," sahut yang lain. 

"Iya, iya. Kalian duluan aja! Tidur itu juga nikmat dari Tuhan, tau!" jawab Haikal mengacuhkan kawan-kawannya.

Seperti biasa, para santri hanya bisa geleng kepala, lalu membiarkan Haikal kembali tenggelam dalam buaian mimpi. Setidaknya setelah mengingatkan sebanyak tiga kali.  

Haikal memang sosok yang badung. Di usia ke enam belas tahun, sikapnya masih saja seperti anak-anak. Bahkan, aturan dan jadwal ketat yang diberikan pihak pesantren belum juga mampu mengubah tabiatnya. Tidak mengerjakan sholat tahajud, bangun siang, dan terlambat masuk kelas. Terkadang dia menggerutu dengan jatah makanan dari pondok yang terasa aneh di lidah, karena kebiasaan makan fastfood atau cathering langganan mamanya. 

Haikal sebenarnya anak yang baik. Karena kurangnya perhatian dan kasih sayang, dia tumbuh jadi anak yang bandel dan semaunya sendiri. Jiwanya seolah berontak. Ditinggalkan kedua orang tua setiap hari justru tidak mendidik jadi mandiri. Papanya pengusaha sukses dan mamanya seorang wanita karir yang super sibuk. Saat harus ke luar kota, Haikal hanya di rumah ditemani sopir dan pembantu. 

Dengan pertimbangan yang matang, akhirnya kedua orang tua Haikal menyerahkan pendidikan Haikal ke tangan para ustadz di Pesantren Al Hikmah demi sebuah misi, melatih dia hidup mandiri, dan sekaligus tolabul 'ilmi

"Afwan, Ustadz!" Haikal menunduk. Untuk ke sekian kali ia terlambat masuk kelas, dan mendapat hukuman dari Ustadz Dimas, membersihkan ruang kelas seorang diri.

Selang beberapa waktu ....

"Aargh!" tiba-tiba terdengar teriakan histeris dari dalam kelas. Para santri yang beranjak meninggalkan kelas terpaksa kembali untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Tubuh Haikal sedang mengejang di salah satu sudut ruangan kelas. Keringatnya bercucuran.

"Astaghfirullahhal adzim, Haikal! Antum kenapa?" tanya Ahmad. 

"Pergi!" 

Selanjutnya suara dengan berbahasa Arab terdengar kurang begitu jelas, meracau tanpa henti. Namun anehnya, itu bukan suara Haikal. Terdengar lebih berat. Dari gurat wajahnya, jelas tergambar amarah membuncah. Dan ini sudah ketiga kali ia mengalami hal yang sama. 

Bergegas salah satu santri memanggil Ustadz Dimas dan ustadz lainnya. Dengan menggunakan media segelas air mineral, Ustadz Dimas membacakan doa-doa. Sementara para santri melantunkan sholawat nabi dengan formasi melingkar. 

Tubuh Ustadz Dimas berkeringat dingin. Sepasang matanya nenatap ke arah Haikal dalam-dalam. Dadanya naik turun seolah sedang menahan sesuatu. Tangan kanan Ustadz Dimas memegang kepala Haikal sambil membacakan doa tanpa jeda. Sementara ustadz lainnya memegangi tangan dan ujung kaki sambil mengoleskan lumatan daun bidara yang diambil dari halaman depan kantor pesantren. 

"Assalamu'alaikum." Ustadz Dimas berusaha menjalin komunikasi dengan sosok yang ada dalam tubuh Haikal. 

Nihil. Tak ada jawaban. Sepasang mata memerah itu justru melotot, mengarah ke seluruh santri satu persatu dengan tatapan penuh kebencian. Menyapu seluruh ruangan, tanpa memperhatikan keberadaan ustaz di hadapannya. Giginya saling beradu. 

"Assalamu'alaikum." 

Haikal masih tak bersuara. 

"Untuk apa Antum kemari? Adakah yang bisa ana bantu?" 

Tubuh Haikal bergetar hebat, seolah-olah ingin lepas dari cengkeraman para ustaz. Ustadz Dimas tidak mau kalah. Dia merapalkan rukyah sambil terus meniup ubun-ubun Haikal. Tak berapa lama, tiba-tiba Haikal menjerit kesakitan, lalu memuntahkan cairan keruh. Seketika tubuhnya lemas tanpa daya. Atas instruksi ustadz muda tersebut, para santri mengangkat tubuh Haikal menuju asrama. 

Malam Jum'atnya, selepas sholat isya' berjamaah, para santri melaksanakan kegiatan rutin, yaitu melantunan surah Al Kahfi dan Surah Yasin di masjid yang bersebelahan dengan Asrama Minna. Mereka semua mengikuti acara dengan khidmad. Namun, belum sampai selesai ayat terakhir, teriakan histeris Haikal yang masih berada di dalam asrama mengejutkan. Kali ini lebih hebat dari sebelumya. Suaranya melengking sambil menyebut-nyebut sebuah nama. 

"Ana Hikam, Ana Hikam!" Serunya sambil menepuk-tepukkan tangan ke dada, seolah menantang para santri. 

Ahmad diikuti dengan lima santri lainnya berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Gegas dia mendekat, memasuki ruangan yang lampunya tiba-tiba meredup. Nahas, sang ketua asrama mendapat serangan mendadak. Sebuah pukulan telak mendarat tepat ke dada. Tubuhnya terjerembab. Begitu juga lima santri lainnya, menjadi sasaran empuk Haikal hingga tak sadarkan diri. Suasana semakin mencekam, karena beberapa santri berhambur ketakutan melihat Haikal yang semakin tak bisa dikendalikan.

 Di sisi lain, Ustadz Dimas yang bergegas masuk ke asrama merasa kewalahan menenangkan Haikal. Kali ini, kekuatannya sungguh luar biasa. Akhirnya pihak pondok memutuskan memanggil Ustadz Guntur, sebagai ahli rukyah yang jauh lebih berpengalaman menangani pasien kesurupan. 

Kedatangan Ustadz Guntur membuat Haikal berangsur lebih tenang, meski napas masih memburu dan wajah tampak memerah. 

Dengan metode rukyah, Ustadz Guntur merapalkan doa. Selanjutnya, dengan santai mempersilahkan Haikal duduk di lantai tepat di hadapannya, sebagai awal pendekatan.  Perlahan sang ustadz mengajak berkomunikasi. 

"Assalamu'alaikum. Man anta? Li ayyi syai'in ji'ta ila huna?" tanya Ustadz Guntur, sambil menatap lekat pada wajah lelaki di hadapannya. 

"Ana Hikam. Ana aghdhobu liannahu yaf'alu syai'an la uhibbu," jawab Haikal dengan tatapan tajam. 

Terjadilah percakapan serius antara keduanya. Lama sekali. Dari sana diketahui bahwa jin Islam bernama Hikam marah karena rumahnya dikotori oleh Haikal. Dia merasa keberadaannya terusik oleh kelakuan santri badung itu. Hampir setiap malam buang air kecil di bawah pohon tepat di belakang asrama tersebut hanya karena iseng. Sang mahkluk tak kasat mata itu sudah tidak betah dengan kelakuan manusia yang menurutnya tidak beretika. Wajar jika dia marah, karena merasa lebih lama tinggal di sana, bahkan sebelum majelis ilmu itu berdiri. Sebagai mahkluk-Nya, dia juga punya hak di atas bumi ini.

"Thoyyib, ukhruj. InsyaAllah mafi syai'." 

Setelah sebab musabab dirasa jelas, Ustadz Guntur mengakhiri percakapan dengan Hikam. Lalu, perlahan tangan kanan ustadz berpeci putih itu mengusap kepala Haikal, menggengam, seolah mencabut sesuatu dari ubun-ubun dan melepasnya ke arah atas. Tubuh Haikal mengejang sesaat, lalu lemas tanpa daya. 

Atas instruksi Ustadz Guntur, Ustadz Dimas meminumkan segelas air rendaman bidara dengan dibacakan doa kepada Haikal. Sementara sang ahli rukyah memberikan peringatan kepada para santri bagaimana pentingnya berhati-hati dan tidak berbuat ceroboh di mana pun berada, dengan harapan peristiwa seperti malam itu tidak akan terjadi lagi. 

 

Footnote:

1. Antum, kamu/kalian (laki-laki)
2. Fashlu al awwalu, ruang kelas awal (satu)
3. Afwan, maaf/sama-sama
4. "Assalamu'alaikum. Man anta? Li ayyi syai'in ji'ta ila huna?"  
"Siapa, Anda? Untuk apa datang kemari?"
5. "Ana Hikam. Ana aghdhobu liannahu yaf'alu syai'an la uhibbu." 

"Saya Hikam. Saya marah atas perbuatan anak ini."
6. "Thoyyib, ukhruj. InsyaAllah mafi syai'". 
"Baiklah, keluarlah. Saya jamin semua baik-baik saja."

 

#pesantren_angker