Pesantren Angker - Santri Dunia Lain

Ilustrasi

Hampir setahun berlalu, aku masih berusaha kerasan berada di pondok. Dalam setahun itu pula, dua kali aku kena tipes, sebab terlalu membatin dan berusaha tegar. Gangguan-gangguan gaib di sekitar pesantren adalah penyebabnya. Apalagi, aku seorang perempuan. Lemah dan takut adalah sifat yang lumrah. 

Tiap kali orang tua sambang, aku selalu mengeluh. Namun, mereka tak pernah menggubris. Terus menyemangati dan membisikiku dengan ribuan rayuan. Bagiku, itu percuma. Tubuhku kian kurus dan sakit-sakitan. Kata para ustaz, hal ini sudah biasa dan bentuk takzim seorang santri. 

Hingga akhirnya, pertemuanku dengan seorang santri yang tak biasa, membuatku berubah pikiran. 

***

Aku mulai memerhatikannya sejak malam Jumat lima hari lalu. Ia bak pahlawan di siang bolong, menyibak kerumunan massa dalam aula, saat acara pengajian kitab Ihya' Ulumuddin. 

Bergegas ia memegang nadi tangan kanan Asyifa yang tengah menjerit dan meracau. Ia membisikkan sesuatu yang tak kami mengerti. Seketika itu juga, Asyifa berangsur tenang dengan napas yang mulai teratur. Asyifa menangis merapalkan istighfar mengikuti panduan sang penolong, Sekar Mayang. 

Tak ada yang berani bertanya pada Sekar Mayang perihal kejadian itu. Ia santri yang terkenal dingin tanpa teman. Suka berperilaku aneh. Kami akhirnya menganggap Asyifa kesurupan, sebab beberapa hari lalu dia dan beberapa santri lain dipindahkan ke deretan kamar Marwah yang dulu kosong dan terkenal wingit. 

Setelahnya, kabar itu menjadi heboh. Sekar Mayang, gadis hitam manis yang semula tak pernah dikenal, menjadi buah bibir seluruh penghuni pesantren. Mulai dari santri putri yang mencari kutu berjajar di tangga, mbak-mbak ndalem, serta mas-mas ndalem yang biasa riwa-riwi mengurus kebutuhan pesantren. Semua tengah membicarakannya. 

Aku mendapat kesempatan bicara dengannya ketika berada di musala saat senja. Waktu itu, aku sedang menjalankan hukuman dari teman sekamarku, sebab ketiduran saat pengajian siang tadi. Hukumannya adalah menata mukena pada shaf paling depan. Hal ini sudah biasa di pondok. Kami selalu berlomba dan berebut shaf terdepan. 

Semua teman mengerjaiku, mereka tahu aku selalu takut sendirian. Kudekap tumpukan mukena mereka dan berjalan penuh was-was. Sedang teman yang lain berebut mengambil wudu di sumur belakang.

Kegiatan wudu adalah hal yang paling dinantikan semua santri. Sebab meski berbeda tempat, jalan menuju sumur untuk santri putra dan putri tetap satu jalur. Inilah kesempatan untuk saling curi pandang. 

Kulihat Sekar Mayang tengah menimba air di sumur kecil sebelah musala. Kebiasaannya aneh, ia selalu memilih waktu surup untuk mandi. Tak peduli petang dan sepi, bahkan kelihatannya memang disengaja. Ia memilih mandi di toilet musala yang jarang digunakan sebab tempatnya di pojok dan gelap. Tentu saja pertemuan santri di sumur lebih menarik ketimbang memilih di musala. 

"Kamu santri yang sakit-sakitan itu, ya?" tanyanya tiba-tiba, membuatku menoleh ke kiri dan kanan. Memastikan tak ada orang lain selain kami berdua. 

"I-iya." Aku bergidik, aura sosok Sekar Mayang begitu eksotis dan mistis. Pantas saja tak ada yang berani mendekatinya, bahkan ia tak punya teman barang seorang pun. 

"Seharusnya kamu lebih tegar. Seperti namamu, Nur Hayati, cahaya kehidupanku." Seketika kupandang wajah teduhnya yang masih menarik timba. Bagaimana ia bisa tahu namaku? 

"Kamu seperti dukun, pandai menebak. Juga jago mengatasi orang kesurupan," sindirku membalas. 

Ia memberi timba padaku untuk membasuh kaki sebelum masuk musala. Ia lalu mengambil mukena dalam dekapanku dan duduk di kursi semen pojok kiri, sebelah kamar mandi. "Oh, Asyifa maksudmu?" tanyanya, aku menoleh sembari menarik timba yang terasa berat dari bawah sumur.

"Apa yang terjadi dengannya waktu itu?" Aku tak mau kehilangan kesempatan. Ia terkekeh. 

"Dia terkena imbas perbuatannya sendiri." Ia mulai membuka peniti kerudung dan membuka lebar jidatnya. Tampak alis yang tebal dengan jidat sedikit jenong. Namun, ada yang aneh dengan alisnya seperti habis dicukur ujungnya. Kata orang dulu, itu pertanda ia bisa melihat hantu. 

"Apa maksudmu?" tanyaku kembali. 

"Asyifa memahabbahi Kang Darma, senior kita itu. Keponakan Romo Kyai Abdullah. Kamu tahu sendiri, Kang Darma itu punya banyak amalan. Ilmunya menolak kiriman pengasihan itu." Aku manggut-manggut mengerti. 

"Bagaimana kamu bisa tahu?" Rasa penasaranku kian tak terbendung. Ia mendesah. 

"Banyak cara orang mendapat ilmu. Ada yang tirakat, ada yang berguru, ada pula yang diwariskan melalui darah. Dan ilmuku, berasal dari yang terakhir kusebut."

Ia berdiri, mengembalikan tumpukan mukena padaku lantas masuk dalam kamar mandi. Meninggalkanku sendiri di depan sumur dan pepohonan rindang yang mengitari. Seketika tengkukku meremang, menatap suasana sekitar yang mulai remang-remang. Sebab senja mulai tampak. 

Bergegas kusiram kaki dengan sebelah tangan dan berlari kecil masuk musala. Langkahku terhenti, ketika mendengar timba berderit, aku menoleh kasar, berharap itu Sekar Mayang. Tetapi, tak ada siapa-siapa. Ingin rasa memanggil namanya, namun ketakutanku lebih besar dan mendominasi. Terbirit aku masuk berharap mendapat perlindungan di dalam surau. 

Kejanggalan demi kejanggalan seperti itu, kerap mewarnai hari-hariku. Bahkan ketika malam hari, sering terdengar langkah kaki melalui tangga. Sementara tak ada siapa pun menaikinya. Aku juga sering mendengar riuhan tawa di deretan kamar Marwah, seperti ada yang sedang bercanda. Bahkan, bau kopi juga nasi matang kerap kali mengepul tengah malam dari dapur santri belakang. 

Pikiranku semakin kacau, kesehatan menurun. Meski beberapa kali dirukyah oleh para santri senior, aku tetap ketakutan ketika menghadapi hal-hal mistis sekitar pondok. 

Kegamangan hati ini semakin memperburuk keadaanku. Aku benar-benar tak kuat lagi, ingin pulang. Semua menyayangkan, sebab aku tergolong santri cerdas. Hafal nahwu sorof juga bersuara merdu. Sering meraih kemenangan ketika ditunjuk mewakili pondok dalam acara MTQ juga banjari. 

Sekali lagi, sosok Sekar Mayang yang akhirnya menjadi pahlawan di tengah kegundahanku. Ia mulai mendekatiku, memberi bacaan-bacaan kekebalan. Juga menjadi teman setia, tiap kali kubutuhkan. 

Kebimbanganku berangsur pudar, aku semakin sehat. Lebih sering tertawa bersama Sekar Mayang. Beberapa teman santri sekamar sedikit menghindar, sebab takut dengan sosok hitam manis tersebut. Aku hanya bisa menyanggahnya dengan berkata nyaman ketika bersamanya. 

Beberapa teman dan ustaz bersyukur. Berkat kehadiran Sekar, kondisiku berangsur membaik dan semakin tegar. Begitu pun denganku, tak henti kuucap terima kasih padanya yang dengan sabar menemani dan membuatku kerasan. 

***

Subuh ini, Sekar Mayang dipanggil ke rumah ndalem. Beberapa kawan santri berbisik curiga, mereka mengira Sekar bakal dijodohkan dengan kolega pondok. Tetapi aku tidak. Pesantren di mana-mana sama saja. Yang mau dijodohkan hanya mereka yang molek, sementara Sekar tak ayu. Tak punya kemampuan istimewa selain 'ilmu yang tak kumengerti' saja.

Segera kuikuti langkahnya saat kutemukan ia ke luar dari pintu rumah ndalem. 

"Ada apa?" cecarku seketika, kami berjalan beriringan dengan langkah sedikit cepat. Ia hanya tersenyum. 

"Romo Kyai menyuruhku untuk mewanti kalian semua, terutama kamu, Nur," jawabnya tegas. 

"Dari apa?" Alisku mengernyit penasaran. Ia menghentikan langkah sebentar, lalu menyeretku pergi ke sumur dekat dapur. Aku diajak duduk di kursi kayu bawah pohon kersen sebelah sumur.

"Jangan pernah takut lagi dengan keadaan di sini, Nur. Mulai hari ini akan banyak lagi santri baru yang bakal datang." Aku semringah, berharap keadaan pondok bakal lebih ramai. 

"Tapi santri ini lain. Kamu tahu, Romo Kyai Abdullah itu sakti mandraguna. Jadi, muridnya terdiri dari dua golongan, yang tampak dan tidak tampak." Seketika aku mendelik, entah ia bercanda atau tidak. Aku hampir tak bisa berkata apa-apa. 

"Mulai senja nanti, keadaan bakal lebih wingit. Suara-suara gaib yang selama ini kalian dengar, adalah kegiatan dari mereka. Santri dari golongan jin. Tak usah takut, mereka juga santri. Mengaji, memasak, juga berkegiatan layaknya manusia."

Aku meneguk ludah. Memandang mata yang selalu memakai celak mekkah; butiran kecil serupa kristal hitam yang dioleskan pada mata.

"Aku mau ke dapur dulu, bantuin mbak-mbak ndalem masak. Juga menyampaikan amanah Kyai Abdullah untuk selalu mengisi dan memenuhi wadah-wadah beras, kita musti berbagi dengan 'mereka'." Ia pergi meninggalkanku yang masih tak percaya, bergeming. Aku bergidik. 

Kuembuskan napas dan berdiri mendekati sumur, menderek tali timba untuk mengambil air. Kubasuh wajah ini agar lebih tenang. Jilbabku kini telah basah, juga dingin. 

Sapuan angin pelan melewati pipiku, menggigilkannya. Aku terkesiap. Merasa ada seseorang melewatiku. 

Bibir ini merekah penuh arti, mengangguk sopan seakan menyapa. Bahkan mata ini seolah melihat sosok yang sedang tersenyum, meski tak bisa kumelihatnya. 

Aku tahu itu kalian, santri tak kasat mata. Mulai saat ini, aku akan berusaha membiasakan diri. Menata kembali hati, memantapkan keyakinan untuk terus menimba ilmu di pesantren ini. Demi orang tuaku, juga Sekar Mayang, sahabatku.