Pesantren Angker-Pondok Megah Penuh Kejutan

Ilustrasi-Galeri Ani Wijaya

Jangan pernah membayangkan kalau pesantren tempat aku mondok merupakan bangunan tua. Dengan kamar mandi yang jauhnya seakan bertambah puluhan kilometer saat malam-malam ingin buang air kecil. Harus tidur di atas dipan reot dengan kasur tipis yang dihuni kutu busuk. Aduh!

Pesantren khusus putri tempat aku menuntut ilmu berada di komplek perumahan yang terbilang mewah. Bukan lembah atau bahkan pegunungan yang jauh dari peradaban. Setidaknya semua itu tak dapat kujadikan alasan untuk menolak meneruskan pendidikan di pondok pesantren selepas lulus sekolah menengah pertama.

Bangunan berlantai empat yang masih menyisakan bau cat. Semua serba terlihat segar dan baru. Mengingat tahun ini adalah angkatan pertama di pondok. Ruang kelas dan ruang tidur para santri dilengkapi pendingin ruangan.  Guna meredam suhu panas kota Jakarta. Kamar mandi berjajar dan berhadapan, persis seperti toilet di mall besar. Jadi tak akan ada lagi antrian panjang saat akan mandi atau mengambil wudhu. 

Di setiap lantai juga disediakan beberapa dispenser listrik hingga tak perlu jauh-jauh ke dapur saat ingin minum. Tak terhitung berapa jumlah lampu di koridor yang menyala setiap malam. Membuat setiap ruangan terang benderang seperti siang. Kamar para tholibah, sebutan untuk para santriwati di sini dan ustadzah terletak di lantai tiga. Ruangan kelas dan kantor pondok ada di lantai dua. Sedangkan Mushola, dapur dan ruang tamu juga ruang makan di lantai dasar.

Aku yakin akan merasa kerasan tinggal di sini. Bayangan tentang cerita-cerita seram di pesantren yang kudengar dari teman-teman langsung terusir jauh. Tak ada yang harus aku takutkan sama sekali. Di antara kami berdelapan, di kamar A hanya aku yang bukan penakut. Tak pernah sekali pun aku merepotkan mereka untuk minta ditemani ke toilet. 

Seperti biasa gangguan tengah malam datang. Daripada gelisah menahan dorongan di kandung kemih. Aku terpaksa bangun dan berjalan menuju kamar mandi yang hanya berjarak sekitar dua puluh langkah dari ruangan tidur. Belum lagi tuntas buang air kecil, aku mendengar pintu toilet sebelah terbuka. Lalu ditutup, kemudian dibuka kembali beberapa kali. Siapa nih yang iseng main pintu. Pikirku, pasti teman sekamarku yang berniat menakuti.

Sekarang giliran lampu yang tiba-tiba dimatikan. Terdengar jelas suara saklar yang dipencet berulang-ulang. Hingga ruangan kamar mandi kelap kelip. 

"Siapa sih! Iseng amat …." Aku berseru sambil  memeriksa satu persatu ruangan kamar mandi, untuk memastikan. Tapi tak ada siapapun. Semua teman di kamar tertidur lelap. Begitupun kamar B di sebelah yang tampak senyap. Ah, sudahlah.

Di malam yang lain, seperti biasa Ustadzah membangunkan kami sekitar pukul tiga dini hari untuk melakukan shalat malam. Beberapa temanku memang sulit sekali dibangunkan. Membutuhkan waktu agak lama dan usaha keras untuk membuat mereka membuka mata.

Aku yang sudah terlebih dulu bangun, berjalan sendirian menyusuri koridor. Entah kenapa malam ini langkah terasa lebih berat. Belum lagi mencapai tangga yang berada di ujung ruangan. Tiba-tiba saja satu persatu lampu mati. Gelap gulita, sekaligus teramat senyap. Seakan jarak menuju tangga yang tak sampai tiga puluh langkah. Menjauh beberapa ratus meter. Angin dingin meniup tengkuk padahal tak ada AC atau pun kipas angin di sepanjang koridor.

Walaupun sekuat tenaga mempercepat langkah, tetap saja seakan aku berjalan gerakan slow motion. Sejenak aku mengambil napas, saat akan menuruni tangga. Lalu menapakinya selangkah demi selangkah. Belum lagi hilang degup tak beraturan di dada. Sesosok perempuan bergaun merah melintas, menuruni tangga terburu-buru. Rambutnya tergerai sebahu, raut pucatnya sempat terlihat olehku. Jelas-jelas bukan salah satu dari tholibah maupun ustadzah. 

Didorong rasa penasaran, meski lutut terasa lemas aku turun mengejarnya.  Tetapi saat sampai di lantai dasar, sosok itu menghilang. Aku mengembuskan napas panjang, seraya menelungkupkan kedua tangan pada wajah. Lalu duduk bersimpuh dengan punggung bersandar pada pagar besi di pinggiran tangga.

"Dzakiyya, kenapa malah tidur di sini?" Suara lembut Ustadzah Tia terdengar, "Ayo cepat wudhu biar gak ngantuk."

Aku tak lagi berani ke kamar mandi sendirian. Saat waktunya shalat malam pun dengan segala kekuatan aku membangunkan agar ada teman saat turun ke lantai dasar. Tak peduli mereka memperolok karena aku berubah jadi begitu penakut.

Sebulan telah berlalu, esok adalah waktunya orang tua para tholibah diizinkan untuk menjenguk. Sekaligus menghadiri acara pengajian rutin bulanan. Rindu pada ibu pun terobati. Pihak pondok menyiapkan hidangan istimewa, nasi kebuli kambing yang disajikan di atas nampan.  Kami makan beramai-ramai sambil mengelilingi nampan yang masing-masing disantap oleh empat orang. 

Setelah acara selesai para tholibah bertugas merapikan ruangan. Benar-benar melelahkan. Selepas makan malam kami berniat untuk langsung tidur. Berulang kali, ustadzah mengingatkan agar kami langsung membuang sisa makanan ke tempat sampah yang ada di luar. Juga mencuci peralatan makan kotor.

Beberapa kali juga kami menjawab iya, tapi sama-sama tak ada yang beranjak dari koridor tempat kami barusan makan bersama.

"Besok aja kali ya, kan libur. Sekarang capek banget, ngantuk," usulku sambil menguap berkali-kali. Dijawab dengan anggukan oleh teman-teman lain. Lalu kami menumpuk nampan yang masih berisi tulang-tulang juga sisa-sisa nasi. Tepat di sebelah dispenser.

Rasanya belum lama aku terlelap, tapi rasa gatal di tenggorokan membuatku batuk-batuk hingga terbangun. Terpaksa aku menyeret kaki menuju dispenser di koridor. Dengan kedua kelopak mata yang benar-benar terasa lengket. Aku mengucek mata berkali-kali demi melihat sosok tinggi besar tengah jongkok sambil meraup sisa makanan dengan kedua tangan. Lalu memasukkan sekaligus ke dalam mulutnya yang lebar. 

Ia sempat menengok, bola matanya mengkilat seraya menyeringai. Tampak terganggu dengan kehadiranku. Ingin rasanya berteriak, namun tenggorokan ini malah tercekat. Bergerak pun sulit sekali, seluruh sendi begitu lemas. Entah makhluk apa itu namanya belum pernah aku melihat wujudnya dalam film horor manapun.

Seruan Kak Aulia dan goyangan tangan di bahu, seketika membuat kesadaran kembali. Ia segera menyodorkan segelas air minum. Aku mengedarkan pandangan, rupanya makhluk yang tadi aku lihat sudah menghilang. 

"Kak, anterin buang sampah yuk keluar." Kak Aulia yang terkesan keheranan, menurut saja saat aku menarik tangannya. Ia menunggu di depan pintu dapur saat aku mencuci semua piring dan gelas kotor. 

“Kamu lagi kenapa sih? Tumben cuci piring jam segini,” Kak Aulia menguap beberapa kali, menahan kantuk. Aku hanya menengok sambil nyengir kuda lalu buru-buru membilas peralatan makan.

Aku segera naik ke tempat tidur, mencoba memejamkan mata lagi sambil berdoa dan terus berdzikir. Belum lagi terlelap, tubuhku terasa berayun-ayun. Tempat tidurku berguncang, padahal ranjang terbuat dari kayu jati kokoh. Tak mungkin tangan-tangan kecil kami mampu menggoyangkannya. 

Semua tholibah di kamar ini tampak telah terlelap. Mengingat itu, sekilat gerak  aku menarik selimut sampai seluruh tubuh tertutupi. Memaksa kedua kelopak mata ini terpejam. Seraya mengusir bayangan, tentang makhluk apalagi yang akan kutemui. Andai mengintip dari balik selimut.

[Awg]