Pesantren Angker - Pak Tua Penjaga Asrama

Ilustrasi

Tak banyak barang bawaan Irul. Secepatnya dia memindahkan isi tas ke lemari kecil di sebelah kasurnya. Santri lain juga sedang sibuk menata kamar mereka sendiri. Suara mereka yang terdengar riuh memenuhi area asrama, menelusup lewat kisi-kisi jendela, mendadak senyap. Sunyi, seperti tak ada lagi ada penghuni. Teman sekamarnya juga tak nampak. Mungkin sudah pergi berkeliling asrama, karena tempat tidur mereka sudah tertata rapi. Irul melongok lewat jendela berkaca kusam yang tepat di sisi kasurnya. Tanpa sengaja bersitatap  dengan sepasang mata gelap lelaki tua berpakaian serba hitam. Lelaki itu kemudian membalikkan badan setelah membetulkan kopiah usangnya, lalu menghilang ke balik sebuah bangunan. Irul masih terbengong di tempat, mengikuti gerakan lelaki itu. Lalu, dia dikejutkan oleh seraut wajah dingin yang mendadak muncul di luar jendela, tepat di depannya. 

"Lihat apa?" tanya anak itu.

"Eng ... anu, tadi ada bapak-bapak ...,"

"Pak Puh? Beliau penjaga asrama." Sambil mengatakan itu, anak yang mungkin salah satu santri lama itu berlalu. 

***

Pak Puh, begitu mereka menyebutnya. 
Lelaki parobaya yang sehari-hari menyiapkan kayu bakar untuk kebutuhan dapur pondok. Ada hutan jati tak jauh dari pesantren, dari sanalah kayu-kayu itu dibawa. Perlu berhari-hari memangkas ranting dan membiarkannya kering dulu sebelum diangkut melewati pintu pagar belakang. Pintu itu biasanya selalu terkunci dan hanya Pak Puh yang   boleh membukanya. Namun, beberapa kali dia melihat Ubai berjalan ke arah sana dan berdiri lama di dekat pintu yang terkunci itu. Kabarnya  juga, ada jalan pintas menuju asrama putri, melewati hutan kecil di sana.

Sore, saat Irul dan temannya sedang bermain basket di halaman, dua santri bercanda dan memperebutkan bola, mainan bulat itu melayang melampaui pagar, terlempar ke balik tembok. Sejenak mereka berpandangan.

"Ayo minta tolong Pak Puh," ajak Irul. Mereka berjalan ke pondok kecil di  belakang asrama. Namun, rumah yang terbuat dari kayu itu tampak sepi.

"Mungkin Pak Puh sedang mengambil kayu."

Mereka kembali ke tempat semula. Setelah berunding sebentar, Irul mengajukan ide untuk melompati pagar saja. Kalau menunggu lama, takut bolanya keburu hilang. Dengan susah payah, Irul memanjat pagar tinggi itu dan melompat ke luar. Sesaat dia bergidik melihat suasana hutan jati di depannya. Dia menyisir semak dan dedaunan kering, mencari bolanya. Tiba-tiba sebuah sentuhan di pundak serasa membuat jantungnya meloncat keluar. Irul terpaku, membalikkan badan pelan dan tubuhnya lemas melihat lelaki yang memegang golok di depannya. Lidahnya menjadi kelu.

"Hati-hati bermain," hardik Pak Puh menyerahkan bola yang diapitnya di ketiak. Lalu berjalan mendahului, "ayo masuk!" katanya sambil membuka pintu pagar.

***

Saat makan bersama, Pak Puh membantu menyiapkan makanan. Menyusun nasi dan lauknya di sebuah tampah beralas daun pisang. Lima hingga enam santri akan mengepung setiap tampah dan makan bersama. Hanya Ubai yang tidak. Dia selalu duduk menyendiri di tikar paling ujung, dekat tiang. Seperti sudah tradisi, Pak Puh akan menghampirinya dan mengangsurkan sebuah piring almunium yang telah diisi jatah makanannya. Ubai menerima dengan  membuang muka. Tapi, entah Irul saja yang memperhatikan atau santri-santri lain juga meyadarinya. Saat makan, teman segerombolan Irul mulai berbisik-bisik.

"Teman Masku yang sudah lulus tahun lalu bilang, katanya dulu ada yang meninggal di hutan belakang pesantren ini,"

"Yang betul?"

"Iya, salah satu santriwati dari asrama sebelah. Sejak saat itu, pagar sekeliling pondok ini diperketat pengawasannya oleh ...,"

"Selama kalian tidak keluar dari pagar pesantren dan istiqomah belajar, kalian akan aman."  pelan Pak Puh mengatakannya sambil menambahkan nasi ke tampah, membuat segerombol santri terkejut. Diam dan melanjutkan makan tanpa bicara lagi. Irul tak sengaja melihat ekspresi kecut Ubai saat Pak Puh menghampiri mereka.

Malamnya, Irul merasa sulit tidur.
Sudah hampir jam sebelas malam, tetapi kantuk tak juga datang. Dia sudah mencoba membaca doa dan surah-surah pendek, tak lupa juga berwudhu sebelumnya. Kesadarannya justru semakin terjaga, mendengar suara tangis sayup-sayup. Mungkin Irul hanya berhalusinasi. Tetapi, lama-lama suara itu semakin jelas dan dekat.

"Azizaah ... Azizah ...!" Suara itu tidak asing. Ya, itu suara Ubai. Semua santri terbangun, termasuk para pengasuh pondok. Mereka lalu menenangkan Ubai yang semakin histeris. Ustadz Bustomi dan Ustadz Syafiq membawa pergi Ubai dengan mobil pondok. Esoknya, tak ada yang berani membahas atau menanyakan kejadian itu pada pengasuh pondok. Mereka hanya saling berbisik tentang Ubai.

***

Saat sedang menyimak pelajaran yang diberikan oleh Ustadz Bustomi, secara tak sengaja Irul melihat Ubai digiring ke ruangan konseling. Bukan yang pertama, sudah beberapa kali sebelumnya Irul melihat hal yang sama. Tapi apa kesalahan Ubai?  Bukankah dia santri yang pendiam dan cenderung dingin.  Apa ada hubungannya dengan  kejadian malam itu?

Akhirnya terjawab, Ubai akan dipindahkan ke yayasan lain. Begitu informasi yang diterima Irul, saat dia mencoba bertanya pada Ustadz Bustomi. Dia memang tidak bersahabat dekat dengan santri yang kabarnya telah tiga tahun tertinggal di pesantren oleh teman-teman angkatannya. Mereka sudah lebih dulu lulus dan membaur dengan masyarakat luar. Lalu untuk apa lagi, Ubai mondok? Kenapa dia tidak lulus juga.

Jam 03.00 dini hari, semua santri bangun untuk shalat malam. Usai berwudhu, Irul  melihat seseorang yang familiar berjalan ke arah belakang asrama padahal santri lain menuju mushala. Ubai kah tadi?
Irul bergegas mengejarnya namun Ustadz Bustomi  memanggil.

"Mau kemana? Ayo shalat,"

Irul berhenti sejenak lalu mengikuti langkah pengasuh pondok itu menuju mushala. Usai shalat, semua santri mengambil kitab dan  mulai mengaji. Lagi-lagi, tanpa sengaja Irul melihat  seseorang duduk di teras bersandar pada tiang dan tidak mengaji seperti yang lain. Meski temaram dan tak melihatnya dengan jelas, Irul yakin itu Ubai. Irul mengalihkan pandang kembali pada kitab untuk menyelesaikan ayat dan ketika dia menoleh lagi ke arah teras, sosok mirip Ubai itu sudah lenyap.

Fajar mulai menyingsing dan satu per satu santri keluar dari mushala. Irul menghampiri Ustadz Bustomi yang keluar belakangan.

"Assalamu'alaikum, Tadz." Irul menunduk.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah, ada apa Rul?"

"Eng ... Azizah itu siapa Tadz?" Tak disangka pertanyaan Irul membuat Ustadz Bustomi terkesima. Namun tak urung menjelaskan juga.

"Almarhumah putrinya Pak Saiful atau kalian panggil Pak Puh."

"Almarhumah?" Irul semakin penasaran.


_________

WNG, 12 April 2021

[SWD]