Pesantren Angker- Diganggu Jin Pintar Ngaji

griyaalquran.id/edit book cover

 

Kisah ini berawal, ketika Umi mendapatkan pesan terakhir dari Abi. Pesan tersebut disampaikan Umi kepadaku menjelang kelulusan SD.

 

"Amar, setelah lulus dari SD. Kamu harus mondok di pesantren. Menempuh pendidikan SMP di sana," ucap Umi dengan nada halus.

 

Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, aku tak berani menolak keinginan Umi. Agar anaknya hidup mandiri dan mengenal kehidupan yang keras di luar sana.

 

Hari yang ditunggu pun tiba. Malam itu Umi membereskan semua pakaianku dari lemari. Memilah satu persatu pakaianku yang akan dibawa ke Pondok Pesantren. 

 

Tepat pukul 08.00 pagi, sebuah Travel akan datang menjemput kami bertiga, termasuk aku, Umi, dan Leo. Perkenalkan dulu, Leo itu anak dari tetangga sebelah. Besok Orang tuanya ditugaskan ke luar kota. Oleh karena itu, Umi bersedia membantu. Jujur, aku sih senang. Karena Leo juga ikut Mondok di Pesantren. Setidaknya aku tidak sendirian.

 

Dua jam menempuh perjalanan, sampai juga di Pondok Pesantren Al-Huda. Di gerbang pondok, kami di sambut oleh puluhan santri. 

 

Ustaz Hadi selaku wakil kepala pesantren mengantar kami menuju ke dalam sebuah gedung. Pelataran yang ditumbuhi pepohonan tinggi. Kami menaiki tangga menikung, dindingnya bercat hijau membuat tempat ini begitu sejuk.

 

Setiap kamar memiliki sekat, di dalamnya terdiri dari sebelas santri. Aku dan Leo menempati kamar paling ujung di lantai tiga. Sepanjang perjalanan aku mendengar para santri berbincang, mereka berbicara dengan bahasa Arab, aku tak mengerti, apa yang sedang mereka bicarakan.

 

Di depan kamar kami disambut oleh ketua kamar bernama Bang Zarkasih.

 

"Jika butuh bantuan kalian bisa bertanya apa saja kepada saya." Bang Zar menjabat tangan kami. 

 

Setelah itu aku baru menyadari Umi sudah pergi sedari tadi, tanpa pamit kepadaku. 

 

Leo tampak biasa saja, tak ada kesedihan di raut wajahnya. Bang Zar memberi jadwal pengajaran, serta waktu untuk istirahat. Ketika sore para santri harus menghafal kosa kata bahasa Arab. Sehari harus hafal satu kata benda.

 

"Gayung, mughrifa," seru Leo ketika membaca halaman pertama buku.

 

Aku mengikuti ucapan Leo dengan logat di kampung, itu terdengar lucu kami pun tertawa bersama. Seperti malam harinya, aku terbangun. Lalu membuka kembali buku pelajaran. Menghafal bahasa arabnya sapu, mukanasa. 

 

Jarum jam menunjukkan pukul 00.00 malam. Tiba-tiba aku ingin buang air kecil. Kamar mandi letaknya di lantai bawah. Terpaksa aku menuruni tangga. Bergegas menuju kamar mandi, yang tampak sepi. 

 

Kamar mandi di Pondok Pesantren, beda dengan kamar mandi umum. Dinding sekat pembatas tidak terlalu tinggi, hanya menutupi separuh dada kami, saat jongkok dapat saling menatap dan mengobrol panjang.

 

Usai buang hajat, aku baru menyadari ternyata tak ada gayung di kamar mandi ini. Di sebelah kiri ada suara cibakan air. Kukira ada orang di situ. Namun, aku belum melihat kepalanya. Kupikir orang di sebelah sedang menunduk atau sedang mencari sesuatu di bawah sana.

 

"Mughrifa.."

 

Aku meminta gayung padanya, tak ada jawaban sama sekali. Setelah aku berdiri, tampak sosok hantu tanpa kepala. 

 

 

Aku baru melihat hantu untuk pertama kalinya. Perasaanku benar-benar takut. Lalu beranjak dari situ, berlari sampai lupa belum membersihkan diri. Dengan langkah secepat mungkin hingga sampai ke kamar mandi Masjid di bawah sana. Aku baru sempat membersihkan sisa kotoran buang hajat dan membasuh muka.

 

Terdengar ada yang membaca ayat Alquran. Suaranya mirip Ustaz Soleh. Aku mencari sumber suara itu yang makin lama cara membacanya semakin tak jelas, tanpa jeda, hingga sampai ke atas mimbar Masjid. Aku menyibak tirai pembatas antara pria dan wanita namun tak ada orang di sana.

 

Aku berlari sepanjang jalan dengan nafas tersengal, bertabrakan dengan Ustaz Soleh. Ia menatapku dengan tatapan bingung. Suara lantunan itu masih terdengar jelas. Aku yakin Ustaz Soleh pun mendengarnya.

 

"Ustaz, itu suara siapa?" ucapku terbata-bata. 

 

"Sudah jangan didengar, anggap saja tidak ada apa-apa. Lekas Amar kembali ke dalam kamar."

 

"Lalu, Ustaz hendak ke mana?"

 

"Mengaji."

 

Esoknya kuceritakan pengalaman semalam kepada Leo. Ia tak percaya, malah menganggapku mengarang cerita. 

 

Seiring berjalannya waktu, salah satu santri ada yang diganggu juga. Mendengar suara lantunan ayat tanpa tajwid yang jelas. Jin tersebut tak pernah menampakkan wujudnya hanya suaranya saja, di jam-jam tertentu terdengar merdu. Percaya atau tidak percaya, Jin pintar ngaji itu hanya ingin berkenalan kepada santri baru. Dan, selanjutnya jin tersebut akan menghilang dengan sendirinya.

 

Lagi-lagi aku terbangun di malam hari. Sekarang berganti mendengar suara di dalam lemari pakaian Mujib. Mujib salah satu santri teman dalam sekamar. Ada rasa penasaran, lama-kelamaan suara itu semakin keras. Tatapan ku tertuju pada lemarinya, lantas bergoyang sendiri. 

 

Aku terperanjat, ingin turun dari ranjang. Leo menahan lengan tanganku. Ia berbisik, "Biarkan saja, Mar." 

 

Dengan tatapan melirik ke arah Mujib, dalam posisi berbaring di ranjang atas atau ranjang bertingkat. Mujib mengambil sesuatu semacam bungkusan kain yang berisi batu bulat seperti kelereng berwarna putih. Dan, mengeluarkan cahaya terang. Batu tersebut digosok dengan kedua tangannya lalu dibungkus kembali ke dalam kain diletakkan ke dalam lemari pakaiannya. Kini tak ada lagi suara yang timbul di dalamnya. 

 

 

Hari Sabtu, pukul 03.30 pagi. 

 

Di pintu kamar ada seseorang mengetuk pintu. Semua santri tengah terlelap, aku terperanjat. Pelan-pelan menapaki lantai, menuju ke arah pintu lalu membukanya. Rupanya Ayah Mujib datang berkunjung, membawa bungkusan makanan. 

 

Mujib selalu menolak pemberian Ayahnya, entah mengapa setiap kali Ayahnya datang. Bungkusan makanan itu pasti diberikan kepadaku. Beliau berkunjung setiap seminggu sekali, pada hari yang sama dan jam yang sama. Aku yang membuka pintu. Sedang Ayah Mujib, akan membawakan bungkusan yang sama. Nasi goreng spesial, bermacam rasa. Aku dan Leo yang selalu melahab habis makanan itu tanpa sisa.

 

Empat bulan aku berada di sini, terdengar kabar dari Ustaz Kodir. Saat pelajaran solat sunah. Keluarga Mujib belum menandatangani surat persetujuan praktek solat untuk memperoleh buku panduan. 

 

"Semenjak Almarhum Ayah Mujib tiada, Ibunya jarang sekali menjenguk," Ustaz Kodir menyampaikan perihal itu kepada Bang Zar, ketua kamar. Perwakilan yang bertugas memberikan buku panduan. Satu satri yang tidak mendapatkan buku panduan hanyalah Mujib. 

 

Mendengar kabar bahwa Ayah Mujib telah meninggal dunia. Mulai dari situ, aku sudah tidak berani lagi membukakan pintu di hari Sabtu, pukul 03.30 pagi. Apalagi memakan nasi goreng pemberiannya.

 

"Pantas saja, Ayah Mujib selalu datang dengan pakaian yang sama, baju putih lengan panjang dan celana berwarna hitam. Dengan wajah pucat seperti mayat," kataku kepada Leo.

 

Kenyataan itu membuat kami semua takut. 

 

Hari Sabtu, pada jam yang sama. Suara ketukan di depan kamar mulai terdengar. Awalnya pelan, lambat laun suaranya semakin kencang. Semua santri di dalam kamar pura-pura tidur meski mendengar suaranya, termasuk aku. Dan, Mujib sendirilah yang membukanya.

 

Ia berkata pada Ayahnya, "Mereka sudah tahu Ayah, Mereka tidak akan menerima bungkusan makanan dari Ayah lagi."

 

"Lalu, mau apakan mereka? Agar menerima Ayah lagi, Nak. Apa perlu Ayah mendatangi mereka satu persatu melalui mimpi."

 

Mujib terdiam. Nada ucapan Ayahnya semakin marah. Kami semua ketakutan di dalam kamar. Untung suara azan Masjid berkumandang. Mengusir Ayah Mujib dan keadaan kembali tenang.

 

TAMAT

 

***

 

Pemalang, 12 April 2021