Pesantren Angker- Pembawa Kabar Maut

Keranda yang terdapat di pesantren

Mata Ulung membulat sempurna, mendengar kabar dari Emak. Sontak, dia mencium kedua tangan keriput yang telah membimbingnya seumur hidup dengan penuh kesabaran.

"Ya, Allah. Mimpi apa aku semalam, Mak? Kyai Syafei mengijinkanku tinggal di pesantrennya."

"Yah, disyukuri saja, Lung ... tapi ada syaratnya. Kata Kyai, selain rajin mengaji harus membersihkan pesantren setiap hari," ucap Emak dengan lembut. Ulung sempat terdiam sesaat, kemudian menegaskan itu bukan masalah baginya karena yang utama saat ini adalah dapat belajar di tempat impian bagi pemuda desa sepertinya. Namun, terselip kekhawatiran di hati remaja berusia lima belas tahun itu, harus meninggalkan Emak yang sakit-sakitan sendirian di rumah. Seperti dapat membaca pikiran anaknya, Emak menegaskan akan baik-baik saja sepeninggal Ulung.

Emak melepas kepergian Ulung menuju pesantren. Semua bekal telah dipersiapkan, dari baju, alat salat, serta keripik gandung kesukaan anaknya.

"Lung, ini Emak ada sedikit uang untuk bekal kamu. Ingat, turuti semua perintah Kyai Syafei jangan pernah membantah perkataannya."

Ulung menahan tangis, dia tahu uang yang diberikan Emak adalah hasil tabungan dari upah menyadap getah karet di kebun Juragan Omar. Rencananya akan dibelikan rukuh baru,  karena yang biasa dipakai Emak sudah penuh tambalan.

"Emak juga hati-hati, jangan terlalu lelah. Nanti Ulung usahakan rutin pulang, entah seminggu atau sebulan sekali. Huhuhuhu ...." Pecah juga tangisan Ulung. Anak beranak itu memang belum pernah terpisahkan. 

Hampir senja Ulung tiba di pesantren dengan menumpang truk sayur. Pemuda yatim tersebut langsung disambut seorang pria yang usianya lebih tua, dua atau tiga tahun darinya. Namanya Jaja, dia santri yang bertugas memberi pengarahan pada Ulung karena Kyai Syafei pergi berobat ke kota sekaligus mengunjungi anaknya.

Ulung terkagum menyaksikan pesantren khusus laki-laki tersebut, teramat tertata. Bangunan kokoh dan bersih. Santrinya tampan-tampan mengenakan baju serta sarung yang bagus. Mungkin mereka anak orang kaya, berbanding terbalik dengan dirinya.

"Lung, setiap habis Subuh selain menyapu seluruh pekarangan pesantren kamu juga bertugas mengisi kolam kecil, tempat wudu di samping surau," ucap Jaja saat tiba di depan kamar yang diperuntukkan Ulung bersama beberapa Santri seusianya. Ulung mengangguk, berarti dia harus pandai membagi waktu agar tidak ketinggalan saat Ustaz pengajar berbagi ilmu.

"Loh, keranda?" Ulung terkejut saat matanya terpaku menatap benda bagi sebagian orang menakutkan, tergeletak di samping surau yang terletak tepat di depan kamarnya.

Jaja tersenyum aneh, lalu berkata, "Kamu takut? Aku dengar dari Kyai Syafei, kamu seorang pemberani makanya itu salah satu alasan beliau memilihmu menjadi Santri di sini tanpa perlu membayar."

"Apa yang harus ditakutkan dari benda mati? Aku hanya bingung, sepertinya sudah lama tak terpakai, tapi kenapa masih disimpan tidak dibuang saja?" ujar Ulung, sambil terus memperhatikan dari kejauhan keranda yang terbuat dari batang bambu tertutup kain batik lusuh.

"Jangan sembarangan ngomong, Lung! Keranda keramat itu, sudah berada lama di pesantren ini dan tidak bisa dipindahkan, walau beberapa Kyai bahkan orang sakti mencobanya. Kamu tahu? Keranda juga akan bergerak sendiri disertai suara tahlilan saat malam, jika ada yang akan meninggal atau terjadi musibah."  Penjelasan Jaja tentang keranda tersebut membuat Ulung sedikit bergidik. Setelah dirasa cukup menjelaskan tugas dan tata tertib di pesantren, Jaja pamit karena sebentar lagi memasuki waktu Magrib. 

Gegas, Ulung membersihkan diri dan bersiap menuju surau menjalankan salat berjamaah dengan Santri lainnya. Ketika tadarusan setelah salat, mata Ulung sempat melirik ke arah keranda karena merasa seperti ada yang memperhatikan. Rupanya cerita Jaja sudah melekat di pikirannya.

***

Hari-hari dijalani Ulung di pesantren dengan semangat. Tak terasa hampir dua minggu berada di tempat itu. Namun, sampai saat ini belum berjumpa dengan Kyai Syafei. Dengar kabar, pria bersahaja yang baru ditemui sekali, saat dia menjuarai lomba membaca Al-Quran di kabupaten masih berada di kota. Padahal Ulung ingin bertemu, menyampaikan rasa terima kasih telah diberikan kesempatan yang luar biasa bagi dirinya.

Suatu malam Ulung hendak menjalankan salat Isya bersama Dullah dan Parta--teman sekamar--terdengar suara riuh di depan surau. Dipikir, Santri-santri yang berniat sama dengan dirinya, tetapi ternyata keriuhan tersebut bersumber dari keranda. Benda tersebut terangkat ke udara, lalu jatuh ke tanah berulang kali seperti ada tangan raksasa tak terlihat yang menggerakkan. Alunan tahlil juga bergema dari dalamnya. Menyaksikan itu semua membuat tubuh Ulung gemetar, andai saja tidak dipegangi Parta pasti dirinya sudah terjatuh ke tanah. Entah kenapa pikirannya jadi tertuju pada Emak 

"Tenang, Lung! Hal seperti ini sudah biasa terjadi, sebaiknya kita segera ambil wudu dan salat berjamaah, lalu berdoa agar dijauhkan dari marabahaya," ujar Parta menenangkan Ulung. Meski kekalutan masih menyelubungi diri, Ulung mengikuti saran temannya. Berharap bisa mengurangi kekhawatiran terhadap orang tua satu-satunya.

Pikiran Ulung menjadi kalut setelah menyaksikan peristiwa semalam. Menjadikannya tidak bergairah memulai aktivitas hari ini. Setelah Subuhan, dia duduk merenung di bawah salah satu pohon yang banyak terdapat di pesantren. Hingga suara meneduhkan terdengar di belakangnya.

"Assalamu'alaikum, Ulung."

Kabut tebal masih menyelubungi kawasan pesantren, membuat pandangan Ulung sedikit kabur. Namun, dia mampu mengenali sosok yang menyapa adalah tokoh  paling dikaguminya. Gegas, dia beranjak dari duduk, menghampiri.

"Waalaikumussalam. Ya Allah ... senang bisa bertemu Kyai," ucap Ulung, seraya mencium tangan pria itu. 'Terasa dingin. Mungkin udara yang menyebabkannya,' pikir Ulung.

Kyai Syafei tersenyum, lalu berkata, "Aku percaya kamu bisa menjaga amanahku. Tekun belajar terutama mempelajari kitab suci Al-Quran. Buatlah Emakmu bangga, Lung!" Seiring ucapan tersebut, angin kencang berembus mengakibatkan mata Ulung perih. Ketika bisa mengatasinya dan Ulung hendak berterima kasih pada Kyai, sosok tersebut menghilang bersamaan menipisnya kabut.

Belum hilang rasa terkejut Ulung atas kehadiran dan kepergian Kyai Syafei yang tiba-tiba, dari kejauhan tampak para Santri berlari menuju gerbang pesantren. Wajah mereka terlihat panik, bahkan beberapa menangis. Ulung bertanya pada salah satunya.  Jawaban didengar membuat dengkulnya lemas, tetapi tidak menghentikan langkah mengikuti Santri-santri tersebut.

Suara sirene terdengar mendekat. Sebuah mobil jenazah melaju dengan pelan, diikuti rombongan warga desa di belakangnya. Ada yang menaiki sepeda motor, bahkan berjalan kaki. Persamaannya wajah mereka menandakan kesedihan teramat menusuk hati.

Mobil diparkirkan di depan gerbang pesantren, karena akses menuju ke dalam tidak dapat dimasuki kendaraan roda empat. Ketika pintu belakang mobil dibuka, pecahlah tangisan orang-orang yang berada di situ termasuk Ulung.

Di dalam keranda besi terdapat sosok yang sangat dikagumi, karena sikap baik dan kedermawanannya. Terbujur kaku dibalut kain kafan putih. Raut wajahnya menenangkan, dihiasi senyum tulus. Dialah Kyai Syafei penerus ketiga dari Pesantren Al-Amanah. Terbersit sesaat di benak Ulung, ternyata benar adanya keranda keramat itu, pembawa kabar maut.