Jangan Ada Kata Pisah

Ilustrasi, detik Islam

 

Pernikahan adalah menyatunya dua insan dengan latar yang berbeda. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing adalah kunci untuk mengurangi terjadinya perselisihan, pertengkaran, dan bahkan perceraian. Meski perbedaan pendapat dan benturan  sering terjadi, mengalah adalah salah satu solusi demi menjaga selarasnya harmoni. 

Memilah dan memilih dari sekian banyaknya naskah Sobat Risalah Misteri, bukanlah hal mudah, hingga kutemukan satu judul yang menurutku mengandung hikmah mendalam untuk diambil pelajaran. Pegat. 

Dalam kisah Pegat, digambarkan pasutri yang sedang diuji. Sekian tahun usia pernikahan, belum juga mendapatkan keturunan. Di sisi lain, ucapan dan hasutan beberapa orang, bahkan sahabat sendiri, begitu menusuk ulu hati. Sehingga membuat pemikiran sang tokoh utama seakan digerogoti rasa malu, bimbang, dan perasan tertekan. 

Sangat jelas bahwa tokoh 'aku' memiliki karakter yang labil, mudah terpedaya dengan omongan orang. Mungkin saking banyaknya fakta yang terus dijejalkan, membuat ia berbelok, meyakini sesuatu yang seharusnya tidak perlu dihiraukan. 

Ironis sekali. Di jaman modern ini, mempercayai, meyakini hal berbau klenik masih saja terjadi. Bahkan dengan mudah bisa browshing di internet apa dan bagaimana akibatnya jika dilanggar. Weton, neptu, dijadikan sebuah satuan yang menghasilkan kesimpulan di luar nalar. Namun sesungguhnya, jika mampu berpikir cerdas, itu adalah mitos belaka. Tak harus dijadikan sebuah panutan. 

Justru yang terjadi sebenarnya, karena terlalu memikirkan omongan orang yang belum tentu kebenarannya, mencari fakta-fakta melalui situs yang tidak bertanggung jawab adalah pemicu prahara dalam rumah tangga tokoh utama dan Mas Dewo, suaminya.  Fakta sesungguhnya adalah keberadaan orang ke tiga yang tidak rela melihat keduanya bahagia. Si penghasut menghendaki tokoh berpisah dari Mas Dewo demi perasaan cinta yang masih saja tersemai di hatinya. 

Seperti jargon Papa Zola dalam Serial Boboiboy, "kebenaran tak pernah bisa dikalahkan" he he, pada akhirnya terungkaplah fakta bahwa Seno, -sahabat lama tokoh utama- punya misi dibalik aksinya. 

Saya bersyukur sekali ketika mengetahui bahwa Mas Dewo mampu meredam amarah dan dendam saat mendengar permintaan pegat dari sang istri. Semua demi mempertahankan keutuhan. Sosok pengertian dan penuh kasih sayang itu pada akhirnya mampu menyadarkan sang istri hingga kembali ke peluknya yang hangat dan nyaman. Senyaman mentari pagi.  

Hikmah yang ingin disampaikan oleh penulis sebenarnya klise, namun tetap saja menarik untuk dicermati, karena pada kenyataannya konflik yang memicu retaknya hubungan suami istri tersebut masih saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Rasa kepercayaan terabaikan. Padahal, gunjingan orang bukanlah maha benar. Saat sedih, saat terpuruk, sebaik-baik tempat curhat adalah keluarga. Sebaik-baik tempat memohon hanyalah Allah SWT. Apapun yang menjadi masalah dalam perjalanan sebuah rumah tangga, jangan pernah ucapkan kata pisah. 

Terakhir, membaca kisah Pegat, banyak sekali yang membuat saya mensyukuri  segala nikmat Illahi. Setahun usia pernikahan, saya sudah menimang buah hati. Hingga sekarang ini, saya cukup hanya melahirkan tiga dari lima anak -dalam planning suami- wkwkwk. 

Cukuplah bagi saya memiliki tiga, asal bisa membesarkan, membimbing dengan sepenuh hati. Seluruh jiwa raga kami. 

Terima kasih, Pegat. Kisahmu begitu menyentuh hati, mengajarkan bagaimana harus menjadikan suami adalah satu-satunya imam, pengayom, sekaligus pelindung keluarga. Mengajarkan cara bersyukur tiada henti atas segala yang saya miliki hingga kini. 


Kisah penuh hikmah saya ambil dari sebuah naskah karya Mak Umi Sakdiyah Soetedjo.  https://risalahmisteri.com/detail/909/pegat-481822#.YHAOS6FLHls.whatsapp