Tabayyun

Ilustrasi

Setelah membaca cerpen “ Memburu Zombie di Desa Kukus” karya Yon Bayu, aku menemukan pesan tentang perlunya tabayyun dan berpikir rasional.

Tokoh dalam cerita ini rela menempuh perjalanan jauh ke desa yang sudah lama tak dikunjunginya hanya demi satu hal. Membuktikan kebenaran desas-desus yang beredar.  Padahal, pembawa pesannya tidak jelas. Hanya (orang) yang tidak diundang, dan pergi tanpa permisi. Kebetulan saja Prio pernah mengenalnya. Ini artinya, berita itu tidak memiliki sanad yang jelas. Dhaif.

Banyak dari kita, khususnya pengguna sosial media, meremehkan hal yang satu ini. Terkadang kita terjerumus berita hoax bahkan ikut menyebar luaskan tanpa peduli dengan kebenarannya. Mudahnya akses berita tak bertanggung jawab serta tersedianya tombol share tanpa filter, sering kali memakan korban. Korbannya siapa? Kita sendiri yang terlalu ingin tahu sesuatu yang tak perlu.

Dari sini aku belajar untuk tidak terlalu mengurusi hal-hal yang tidak relevan. Seperti keinginan Prio membuktikan keberadaan zombie itu, justru malah dirinya sendiri yang digiring menjadi calon makanan. Bahkan, tanpa sadar ternyata orang terdekat sekaligus kepercayaan  yang begitu ngotot ingin memburu zombie, justru bagian dari makhluk itu sendiri.

Secara logika, jika memang zombie itu benar-benar ada, kepergian Prio untuk mencarinya sama saja menyerahkan diri pada marabahaya. Berbekal pengaruh Sarman bahwa hanya Prio yang bisa mengatasinya, ditambah bujukan Re untuk menurutinya, ternyata di balik itu ada niat terselubung Re. Sedangkan Prio tahu dirinya tidak pernah belajar cara menakhlukkan zombie bukan?

Jadi, teman, penting sekali bagi kita untuk tabayyun terhadap suatu kabar atau berita, tetapi kita harus tetap waspada dan rasional mengambil keputusan.

 

[SWD]