Menyimak Gambaran Berbeda tentang Hari Tua yang Santai dan Damai

Dok.pri

Apa yang pertama kau lakukan saat membaca kisah Lelaki Bijaksana? Saya tertawa, sambil menahan ngilu di kepala. 

Ya, hidup seringkali terlihat lucu dengan caranya sendiri. Begitupun Bayu, seorang pensiunan penyuka gowes, beristrikan Mariska yang kian hari makin menunjukkan gejala menua. 

Demikianlah hidup. Dalam hal-hal yang tampak sederhana, mereka menyimpan kerumitan. Sementara dibalik kerumitan hidup menyembunyikan kesederhanaan. Tak ada yang benar-benar terlihat mudah, kan? Itu kenapa hidup mesti dilakukan dengan dinamis dan mengayun ringan. Hanya saja, semua butuh porsi yang tepat. 

Dari kaca mata Bayu, kita mengerti bahwa hidup ini begitu mudah. Menjalani masa pensiun dengan bergabung bersama komunitas gowes yang gemar makan siang di resto rekomendasi chef Juna. Istri ingin bekerja untuk menambah penghasilan, tak perlu dilarang. Istri lelah, suruh ia beristirahat. Istri tak sempat membayar tagihan-tagihan rumah tangga? Beri saran padanya bahwa tanggal masih bisa menunggu dan ditunda. Dan sederet saran santai lainnya yang disampaikan sungguh tanpa perlu menarik otot yang memicu kejang urat syaraf. 

Namun dari kaca mata Bayu pula kita mengerti, hubungan dua makhluk hidup terlebih suami istri tidak pernah sesederhana itu. Tahu diri, lah! Begitu mungkin yang akan terucap jika Mariska diberi kesempatan mengumpat. Karena bersuami seorang pensiun yang memiliki hobi gowes dan makan siang di resto mahal sementara istri harus bekerja untuk membayar tagihan listrik, air, BPJS dan lain-lain, bukan merupakan aktivitas hari tua yang menyenangkan, jika tak boleh dibilang menyebalkan. 

Sekali lagi, saya tertawa usai membaca kisah ini. Satir yang getir, sebuah penggambaran pasangan tua yang sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita. Saya lantas berkaca, akankah saya seperti Mariska jika tua nanti? 

Oh this is big no! 

Maka saya mencoba melihat kembali seperti apa pola komunikasi saya dengan keluarga terutama suami dalam menjalani hari-hari kami. 

Kerap kami saling bertukar mimpi, untuk menjalani hari tua tanpa rasa bosan. Tapi apakah benar mimpi saya adalah mimpinya? Benarkah inginnya adalah ingin saya? 

Bukan, bukan hubungan yang saling memaksakan yang saya inginkan. Saya ingin kami bebas menjadi diri semasing. Maka saya mulai merinci ulang semuanya. 

Jika kelak suami saya menginginkan aktivitas gowes dan makan di restoran mahal sebagai pengisi hari tuanya, terlebih dahulu saya akan berkata sejak hari ini, siapkan dulu investasi kita, yang akan membuat kita menjadi pengangguran bahagia di hari tua. Dengannya saya tak akan serepot Mariska, yang mengeluh lelah setiap harinya, dan memusingkan masalah tagihan tiap bulannya. 

Ya, komunikasi dan persiapan yang baik bagi hari tua akan tercetak di ingatan dengan huruf tebal. Saya mulai termotivasi untuk tekun mempelajari PR-PR tersebut, demi sebuah masa santai di usia yang tak lagi ingin banyak kerumitan, di hari depan. 

Sedikit hikmah dan banyak pelajaran dari cerpen Ikhwanul Halim yang berjudul Lelaki Bijaksana. 

[-]