Kontemplasi Topeng yang Terluka

Ilustrasi dari jawapost dan Kompasiana dalam editan Canva

Tidak ada sesuatu yang sia-sia di dunia ini, jika kita memberikan sedikit waktu untuk menguliknya. Sama halnya dengan cerita atau kisah fiksi entah berlatar kisah nyata ataukah hanya fiksi yang dihimpun dari kisah nyata. Pasti semua itu ada makna yang dapat diambil.

Terkadang banyak orang menghujat hujan yang turun di belahan bumi, di sisi lain juga banyak orang yang memohon doa untuk diturunkannya hujan, demi tanaman atau sawah mereka terairi. Sama halnya dengan hujan dan air mata, ketika ia datang bersamaan menutupi seribu luka yang pernah hadir.

Dari kisah catatan kelam Topeng yang Terluka saya belajar ikhlas menerima yang belum milik kita. Belum menjadi takdir kita. Meski berkali-kali orang terdekat kita sendiri yang telah memperingatkan tetap tidak digubris. Sampai dengan terguran Tuhan hadir untuk menuntun kita ke arah yang lebih baik lagi.

~Cinta memang selalu begitu, selalu seperti itu. Mampu memperbudak tuannya.~ penggalan dari penekanan dalam kisah kelam ini.

Bagaimana cinta pertama anak gadisnya kalah dengan cinta yang tumbuh menggebu yang merekah karena perkenalan, melayang ke langit ke tujuh. Sampai mengesampingkan peringatan orang terdekat--orang tua-- atau orang sekitar kita.

Saya merasakan ini pada orang tua saya sendiri, yang mengajari saya segalanya. Bagaimana saya terus berontak dengan memaksakan diri memilih pilihan diri sendiri. Bahwa kecewa, luka dan kesedihan adalah awal dari sebuah penyesalan yang berkepanjangan.

Saya sadar saat telah menjadi orang tua saat ini. Bahwa serat megatruh yang didendangkan sama dengan filosofi dalam keyakinan orang tua saya.

"Kabeh iku mung manungsa kang pinujul." Yang artinya adalah hanya manusia yang memiliki kelebihan.

Kelebihan di sini adalah intiusi antara orang tua kepada anaknya, yang merasa bahwa pasangannya tersebut bukan seorang yang baik untuk masa depan anaknya kelak.

Ini persis terhadap flashback kisah saya, perasaan orang tua tidak pernah salah. Jika dia baik maka akan diberi kemudahan, jika buruk akan diberi petunjuk. Nyatanya peringatan dan petunjuk justru ditubruk demi keinginan menggebu seorang anak.

Apakah jika terjadi kegagalan orang tua tidak ingin disalahkan? Jawabnya adalah tidak, meski gagal orang tua akan selalu membersamai anaknya, merangkul anaknya.

Kisah kelam Topeng yang Terluka memberikan hikmah mendasar, bahwa peringatan Tuhan lebih membahagiakan dari pada sakit hati yang datang secara tiba-tiba dan sakitnya bertubi-tubi. Yang nantinya bakal menjadi awal kebahagiaan yang hakiki. Berpikirlah bahwa jika tidak terbongkar kebusukan malah akan membawa petaka besar di kemudian hari, untuk Surti, Surti yang lainnya[.]
 

Hikmah dari kisah kelas Mbak Lilik Fatimah Azzahra.
https://www.risalahmisteri.com/detail/1290/topeng-yang-terluka281140

Kiki MD
Malang, April 2021