Khasiat Azimat Tanpa Rupa untuk Keberuntungan Hidup

Ilustrasi/ist

Siapa bilang menjadi wanita, terutama ibu, tak memerlukan sesuatu bernama azimat? Termasuk di jaman digital serupa sekarang, ternyata azimat tetap dibutuhkan, sebagai sandaran hidup wasilah menggantungkan cita-cita dan segala harapan baik. 

Begitulah pesan yang dituturkan Lilik Fatimah Azzahra dalam kisahnya. Cerita tentang azimat tanpa rupa yang diamalkan oleh seorang ibu nyaris sepanjang hidupnya, yang diwariskan pula pada anak-anaknya, membawa mereka pada hidup yang selalu terselamatkan meski keadaan tidak mesti mudah. 

Bukan main-main dampak dari azimat tersebut. Si penulis mengulas cerita yang amat apik tentang Risma, gadis manis berusia dua puluh tahun yang kini tengah menimba ilmu di Negeri Sakura. Ya, Jepang. Siapa tak kenal dan tak ingin mengunjungi negeri digdaya satu itu? 

Risma adalah buah bukti kekuatan hati dalam menggenggam azimat tersebut. Sejak kecil, kelas satu SD tepatnya, Risma telah mulai menghafal dan mengamalkan azimat yang diajarkan ibunya. Pesan sang ibu senantiasa diingat, lafazkan azimat itu tiap lepas prosesi penyerahan segala daya. Risma patuh, menjaga lisannya tetap selalu menyebut nama Sang Mulia Baginda, hingga azimat itu bekerja dengan caranya sendiri dalam hidup Risma yang sederhana. 

Memiliki seorang ibu berprofesi pembantu dokter dengan gaji tak seberapa, suatu kali membuat Risma gundah. Pasalnya, azimat yang membawanya meraih beasiswa pascasarjana di Negeri Sakura kembali mengujinya. Risma butuh uang, dua puluh juta jumlahnya, demi keperluan test swab dan karantina di masa awal perkuliahannya nanti. Ah, uang dari mana? 

Akan tetapi lagi-lagi azimat itu tak ingin tertinggal dari ingatan. Harapan yang dibarengi usaha tanpa lelah niscaya membuahkan hasil, Risma akhirnya menemukan jalan keluar. Sujud kesyukuran ia lakukan, azimat itu kembali menjadi sayap yang membantu mimpi-mimpinya terbang. 

Dalam tataran pesan dan hikmah, kisah ini mengenai titik paling sensitif di hati saya sebagai seorang perempuan, terutama ibu. Saya sadar, ada yang harus selalu saya tanamkan dalam diri pribadi dan anak-anak, agar jiwa kami tak pernah kosong, supaya terus kuat berdiri dalam keadaan paling tak menyenangkan sekalipun. Meski itu hanya merupakan hal-hal ringan, namun jika ajeg dilakukan dengan ketulusan hati maka kelak ia akan menjelma keajaiban, terutama jika hal tersebut berkaitan dengan azimat yang  terhubung ke langit.

Kisah ini menjadi alarm sekaligus motivasi bagi saya, untuk memulai kembali mendaras azimat yang lama terlupakan. Sebab seperti Risma, saya pun masih punya mimpi, dan ingin terus merenda sayap agar mimpi-mimpi saya terbang menuju langit. 

Juga seperti Ibunda Risma, selain mengiring dengan do'a, saya ingin memberi warisan azimat agar anak-anak kelak memiliki pegangan yang dapat mereka jadikan sandaran sedari kecil hingga maut memutus umur. 

Akhirnya, seperti kedua tokoh di atas, saya mulai memeluk si kecil sambil membisikkan azimat tanpa rupa ke telinganya, "Allahumma shalli solatan kaamilatan wasallim salaman...," hingga selesai, karena saya percaya, azimat terbaik adalah menyebut-nyebut nama kekasih dari Yang Maha Kasih. 

[-] 

Sebuah hikmah dan motivasi yang mengena dari tulisan Doa Ibu dan Shalawat Nariyah Mengantarnya Menuju Negeri Sakura. Kepada Ibunda Risma-Lilik Fatimah Azzahra, terimakasih telah menulis ini.