Secuil Hikmah di Balik Kisah Duit Tiban

Ilustrasi duit tiban

Memang, fitrahnya manusia adalah serakah. Pencinta dunia, salah satunya harta. Terkecuali mereka yang disebut Para Wali atau ilmu kesufiannya yang sudah tingkat tinggi. 

Ini wajar dan manusiawi. Apalagi jika dihadapkan dengan duit, siapa yang tak suka? Bahkan semua berlomba-lomba mengumpulkan duit demi kesejahteraan hidup. 

Namun, tak sedikit yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan lebih. Ini yang harus dihindari. Seperti yang dilakukan Yuk Ning—pemilik warung rawon— dalam kisah ini. 

Dalam kisah 'Duit Tiban' karya Kiki MD. Telah mengajarkan kita betapa pentingnya pondasi agama yang kuat dan kokoh, agar tidak mudah tenggelam dalam kemusyrikan duniawi. 

Rezeki memang sudah tertakar, tetapi harus dikejar dan diusahakan. Ikhtiyar, istilahnya. 

Bukan berarti nemu duit pun adalah rezeki. Seperti dalam agama islam. Jika kita menemukan suatu barang atau biasa disebut Luqathah. Kita wajib mengumumkannya terlebih dahulu, sampai diketahui siapa pemiliknya. Sebab, meski nilainya sedikit, barang temuan tentu tidak sah dan masih menjadi hak milik orang lain. 

Jika pemiliknya ikhlas, tak sedih dan keberatan, tentu tidak masalah. Akan tetapi, jika barang temuan tersebut memberi mudarat, pasti akan memberatkan kita juga nantinya. 

Seperti yang terjadi pada Alia, ia menggunakan duit temuannya untuk kepentingan sendiri hingga berujung celaka. Sebab, ternyata duit itu adalah bentuk tumbal dari si empunya warung rawon. 

Dari sini, kita bisa mengambil pesan untuk berhati-hati dalam bertindak. Tidak Grusa-grusu, serta percaya bahwa hal-hal tak kasat mata tentu ada di sekitar kita. Beriringan dan berdampingan dengan manusia. 

Dari kisah pemilik warung, kita bisa petik pelajaran. Meski di luar tindak kemusyrikannya, Yuk Ning memberi kita pesan bahwa kerja keras dan semangat tinggi tentu akan menuaikan hasil. Warungnya menjadi rame sampai antre panjang. Namun, tetap bekali diri dengan ilmu agama. Sebab hanyalah agama, rem yang paling cakram dalam bertindak. Tanpa agama, manusia akan celaka. Mudah tersesat dan terjerumus dalam lubang kemaksiatan. 

Sebagai orang tua, Bapak dan Ibu Alia adalah contoh yang baik. Mereka tak lelah untuk melakukan berbagai cara, demi kesembuhan sang putri. Mulai dari penanganan medis sampai metafisik. Sungguh perjuangan yang patut diteladani.

Pesan sosial juga bisa kita ambil dari Angga dan pamannya yang ikhlas membantu Alia. Kita adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jika kita berbuat baik, kebaikan pula yang akan kita dapatkan. Timbal balik akan selalu ada dalam tiap tindakan dan perbuatan. Seperti halnya sebab-akibat, yang selalu berdampingan dalam tiap kisah. 

Terima kasih Kak Kiki MD untuk kisah yang sungguh inspiratif ini. Semoga selalu memberi ilham dan gagasan kepada pembaca dalam setiap karya yang ditulis. 


~LR~