Cermin

Ilustrasi, IDN Times

 

Malam terus merayap. Desau angin masuk melalui jendela yang terbuka. Di bawah sana, Kiya tergeletak tak sadarkan diri. Sementara Wina harap cemas, menunggu cukup lama di sisi luar jendela. Namun tak ada tanda-tanda Kiya akan keluar dari ruang gelap tersebut. Sambil mengawasi sekitar, jangan-jangan ada yang melihat aksinya, Wina yang penasaran melongokkan kepala untuk memastikan keberadaan sahabatnya. Tanpa disangka, pintu jendela menutup dengan keras. Hampir saja mengenai wajahnya jika ia tak sesegera mungkin mengelak. Bersamaan itu, terdengar cekikikan wanita dari dalam.

"Pergi! Pergi!"

Hati Wina berdebar cukup kencang. Ia takut sekaligus khawatir terhadap sahabatnya yang masih berada di dalam sana. Namun suara wanita itu cukup membuat dirinya kehilangan nyali. Hingga tanpa pikir panjang ia lari meninggalkan lokasi. 

Selang beberapa waktu, ayah Kiya dan istri mudanya tiba. Perlahan pintu kamar terbuka. Betapa terkejut keduanya mendapati Kiya tergeletak di lantai kamar. 

"Hai, bocah ingusan! Ngapain kamu di sini?" bentaknya sambil menyiramkan segelas air ke wajah Kiya. 

Gadis manis itu gelagapan. Dia menoleh ke kiri dan kanan, menyadari dirinya berada di tempat yang asing. 

"Mengapa saya di sini?" tanya Kiya kebingungan.

"Aku yang harusnya tanya. Apa yang kamu lakukan di kamarku, hah?"

Perdebatan hebat pun terjadi. Ayah Kiya yang mengetahui putrinya diperlakukan kasar tak mampu berbuat apa-apa. Hanya memandang tanpa sepatah kata. Malam itu Kiya diusir dengan kasar diiringi sumpah serapah yang sungguh merobek hancur perasaan. 

Sakit hati Kiya kian bertambah. Amarah membuncah. Karena tidak terima atas kejadian malam itu, ia mengajak Wina kembali menemui nyai. 

"Sihir itu sangat kuat. Selama belum bisa menghancurkan cermin itu, kamu tak akan bisa mendapatkan ayahmu kembali."

Hati Kiya bergetar. Dendam semakin tumbuh subur. Ia teringat cermin kecil berbentuk oval yang berdiri di meja rias perempuan ayahnya. Tampak biasa saja. Hanya ukiran ular melingkar yang menampakkan kesan mistis. Ya, cermin yang memperlihatkan wajah wanita aneh malam itu masih melekat dalam ingatannya. 

Keinginan Kiya untuk mengalahkan perempuan gila itu tak pernah surut. Ia merasa berhak mendapatkan kembali ayahnya yang dulu. Dalam kekalutan, ia memohon kepada nyai agar menemukan cara lain untuk mengalahkan sihir wanita itu. 

"Aku tidak bisa membantu sebelum kau mendapatkan cermin itu."

Dengan perasaan kecewa, malam itu, berbekal mantra sang nyai, Kiya kembali mengendap masuk ke dalam kamar sang wanita pemilik cermin. Kali ini dia lebih waspada. Sedangkan Wina, cukup memantau sekitar dengan bersembunyi di pepohonan rindang samping jendela. 

Kiya berhasil masuk dalam ruangan gelap seperti sebelumnya. Ia mendapati pembakaran kemenyan telah mati. Mungkin ini kesempatan baik untuk mencuri benda itu. Dia berhati-hati mendekati meja rias dengan meraba-raba. Senter di layar handphone dinyalakan untuk mempermudah pandangannya. Dapat. Cermin sudah dalam genggaman. Bergegas ia menuju arah jendela. Tanpa diduga, seseorang masuk kamar dengan membawa tungku kecil dengan pijar dupa di tengahnya. 

"Ayah!" 

Seketika, cermin dalam genggaman Kiya seakan bergerak sendiri. Ular yang tadinya hanya hiasan itu hidup, menjulur-julurkan lidahnya. 

"Aagh!" 

Cermin terlepas. Kepulan asap menyeruak. Baunya cukup menyengat, mengiring munculnya sosok buruk rupa dari cermin. Sepasang mata wanita itu melotot, seolah ingin keluar dari kelopaknya. Dan tiba-tiba sepasang tangan mengulur, mencekik leher Kiya dengan kuat di hadapan ayahnya sendiri. Meski sekuat tenaga berontak, tenaga Kiya bukanlah tandingannya. 

Kiya terkulai lemas tak berdaya. Perlahan, wanita iblis itu melepaskan tangannya, saat sosok wanita lain bergaun putih mendekat. Cantik, lembut, dengan tatapan penuh kasih sayang. Mama! 

Mama memeluk tubuh Kiya erat. Gadis itu bahagia bisa bertemu dengan mamanya. 

"Jangan pergi lagi, Ma!" tangisnya pecah seketika dalam pelukan mama. Sementara wanita yang melahirkan Kiya ke dunia itu tetap rersenyum hangat, mengajaknya pergi meninggalkan ruangan gelap yang bagai neraka. 

Meski belum dapat mengalahkan ibu tiri pilihan ayah, Kiya sekali lagi bersyukur bisa bersama mama malam itu. Sedangkan Wina, dia hanya bisa menangis mendapati jasad Kiya yang dingin, tergeletak di teras rumah ayah dan ibu tirinya. Raungan tangis wanita itu adalah sebuah kebahagiaan, karena tak akan ada yang menghalangi niat busuknya untuk menguasai ayah Kiya seutuhnya.

 

FF dari judul https://risalahmisteri.com/detail/144/lintrik#.YG7377nmkHt.whatsapp karya Bunda Wiwied Kinasih