Maafkan Kakak, Han

Foto: Pinterest

Sudah kuduga!

Aku bergeming saat sebuah bantal mendekap wajahku begitu kencang. Kutahan nafas sekuatnya sambil berusaha memicingkan mata sewajar mungkin, ingin tahu apalagi yang hendak diperbuatnya malam ini.

Sandiwaraku langsung buyar ketika kupergoki dirinya hendak menyuapkan mulut buah hati kami yang belum genap dua purnama itu, dengan cairan yang sama seperti lima menit sebelumnya.

“Istigfar, Han, apa yang sedang kamu lakukan?” Kucekal tangannya, lalu selembut mungkin kurebut benda itu dan melemparnya ke tepi ranjang. “Ada apa dengan kamu sebenarnya, Han?”

Istriku tak menjawab. Hanya kegelisahan membayang pekat di wajahnya.

“Katakan, Han, apa masalah kamu sebenarnya,” ucapku halus sambil menghalangi dirinya dari gelas berisi cairan kuning hitam, yang kuduga campuran kopi dengan minuman energi cap banteng tumblekan, yang akhirnya kubuang keluar jendela.

“Aku sudah tak kuat lagi, Kak.”

Kupeluk wanita yang belum genap satu tahun kunikahi itu seerat mungkin sambil berkali-kali meminta maaf, hingga akhirnya segala tolak dan ronta miliknya berubah air mata di dekap hangat dadaku.

“Maafkan kakak, Han. Benar-benar maafkan kakak.”

Pagi-pagi sekali kuboyong istri dan buah hatiku ke rumah orang tuaku. Ada sirat kemarahan di wajah ayahku yang memang berwatak keras.

“Apa perlu ayah buat surat waris sekarang juga, untuk melimpahkan semua harta menjadi milik kamu!” gelegar ayah tanpa tedeng aling-aling, membuatku langsung tersungkur di kaki beliau.

“Maafkan aku, Yah. Aku hanya ingin mandiri, berjuang semuanya dari nol bersama istri.”

“Tapi bukan berarti harus membahayakan istrimu seperti itu!” bentak ayah sambil melempar kunci motor, yang itu artinya aku tak boleh lagi naik angkot ke mana-mana.

Sigap kusambut kunci yang melayang itu sambil mengecup tangan ayah. Bila banyak cerewet, bisa-bisa beliau malah memaksaku untuk membawa BMW miliknya.

“Ibu yang akan mengurus semuanya, kamu tenang saja mencari nafkah. Biar banyak asal halal,” gurau ibu penuh doa. Kepada beliau aku memamng sempat berbisik-bisik di dapur mengenai praduga istriku mengidap baby blues syndrome atau post partum depression atau entah apapun sejenis itu, membuatku terpaksa meminta cuti diam-diam untuk menjaga ia dan sang buah hati, meski ternyata semua butuh lebih dari sekadar itu.

Tapi kini langkahku ringan.

Benar bahwa aku akhirnya belum berhasil mandiri sejak menikah, seperti yang kucita-citakan sejak mula.

Tapi itu jauh lebih baik ketimbang aku bertaruh dengan sesuatu, yang kelak dapat membuatku menyesal seumur hidup.

“Maafkan kakak, Han,” bisikku sambil mengecup keningnya, dan berjanji untuk melakukan hanya yang terbaik untuknya. Untuk kami, agar tak pernah ada secoretpun catatan kelam pernah singgah dalam biduk cinta bersama.

“Maafkan kakak, Han,” bisikku lagi pada kecintaan yang kini memeluk dan membanjiriku dengan tatap cinta, yang menjadi bekal menemaniku dalam rutinitas mendulang nafkah.

***

Note: Cerita ini mengubah ending kisah “Andai Aku Tak Butuh Tidur” karya Ani Wijaya.