Terkuaknya Misteri Gadis Kecil Gunung Wayang

Ilustrasi. Google pic Gunung Wayang

Semua orang yang hendak naik gunung pasti tahu aturan wajib bagi pendaki; jangan mengambil sesuatu kecuali foto, jangan meninggalkan apapun kecuali kenangan, dan jangan berbicara tak sopan. Maya paham aturan itu jauh sebelum dia menjadi relawan tanam pohon di bukit dan gunung-gunung. Bersama beberapa relawan yang lainnya.

Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk berbahagia, tak terkecuali Maya. Perempuan mandiri, energik dan cekatan tersebut tak pernah kosong jadwal libur kerjanya. Pasti ada saja alasan untuk mengisi waktu, termasuk jadwal tanam pohon yang dilakukan pagi ini. Menghijaukan pantai, gunung dan bebukitan yang kosong selalu ingin dia usahakan. Jika bukan dari kita yang sadar, lantas siapa yang bakal menghijaukannya? pikir Maya sendiri.

Karena kedatangannya yang terlambat membuat dara duapuluh tahun tersebut tertinggal kereta. Dengan otomatis dia harus menyusul sendiri ke Pengalengan.

"Sok atuh, angkat heula, abdi badé nuturkeun." Suara Maya seperti berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon selular. Berharap seseorang di seberang suara berjalan duluan saja.


***

Sampailah pada Gunung Wayang melalui jalur Pengalengan sesuai dengan petunjuk melalui aplikasi hijau berlogo telepon. Yah ... tak ada yang salah, seharusnya satu jam tidaklah terlambat untuk menyusul mereka, gumam Maya. Akan tetapi, dia seakan mencari petunjuk melalui GPS yang ada di ponselnya. Telepon selularnya berusaha diangkat tinggi-tinggi, berharap GPS-nya memberi tanda yang dia inginkan.

Bolak-balik Maya kebingungan, harus melangkah ke mana dirinya. Ke kanan ataukah ke kiri? Dia mencoba menerobos arah sebelah kiri yang lebih sedikit onak duri dan ilalalang. Itu artinya banyak orang yang melewatinya, batinnya berbicara sendiri. Namun, naas langkahnya yang terburu membuat kakinya terpeleset jatuh ke terjal turunan beberapa meter.

"Nyasab, ya, Teh?"

Seorang gadis kecil dengan badan sangat kurus, berambut keriting, serta cantik menyapa Maya. Sontak membuat Maya berjingkat dalam posisi duduk.

Bagaimana ada orang lain di daerah yang sepi seperti ini?

Tak ada suara, hanya rintih yang terdengar. Tangan kecil gadis tersebut meraih telapak tangan Maya. Seperti tersihir, Maya menuruti saja ajakan gadis kecil tersebut. Usianya sekitar 13 atau 14 tahunan.

Gantungan di ransel membuat langkah Maya bersuara. Sebelah kanan ada hand sanitizer juga pisau lipat. Sebelah kiri cairan cabe bubuk yang sengaja dia bawa ke mana pun dia pergi. Untuk berjaga jika terjadi hal tak diinginkan, mengingat Maya selalu berjalan sendiri.

"Sudah dekat, Teh. Teteh bisa istirahat dan berganti baju," tutur gadis kecil tersebut.

Maya mengedarkan pandangannya, rumah besar tak terawat seperti bekas villa yang terbengkalai. Di bukit seperti ini ternyata ada juga villa? Maya bermonolog. Bekas tergelincir tadi menyisakan memar pada kedua telapak tangan, pasir dan beberapa tusukan duri belukar dicabutnya perlahan.

"Ini air hangat dan campuran garam, Teh, rendam untuk meredakan luka Teteh." Senyum pasi yang tercipta di bibir Maya membuat gadis kecil tersebut menjaga jarak. Sehingga tak banyak suara yang diucapkan untuk menjawab jika wanita yang tersesat ini sadar siapa dirinya dan dengan siapa dia tinggal.

"Petak 20 di sebelah mana, Neng?" Akhirnya Maya membuka percakapan yang selama ini bungkam. 

Dari jarak tiga meter tempatnya berdiri gadis kecil tersebut menjawab, "Nanti, saya antarkan. Teteh ganti baju saja di sini." Tunjuknya pada sebuah kamar yang tertutup.

Jika dilihat bangunan ini seperti ornamen klasik Belanda, sebab ukiran dan jenis lampu yang menggantung tampak unik bertengger di sana.

Maya berjalan perlahan dengan tas ransel yang masih melekat di punggungnya. Saat langkahnya memasuki kamar, dengan segera seseorang menutupnya dari belakang. Sedangkan seseorang lain yang berada di kamar yang tak tahu siapa, mencengkram hebat lengan kiri Maya. Cairan hangat menetes mengenai punggung tangannya, dengan tangan sebelah kanan ia meraih gantungan berisi cairan cabe bubuk. Lantas menyemprotkan ke arah depan di segala arah.

Meski tak tampak jelas siapa yang sedang di hadapinya. Maya harus tetap tenang, tangannya meronta-ronta. Suara teriakan Maya dan erangan disertai auman yang tak jelas silih berganti terdengar. Genggaman yang tadi mencengkram akhirnya mengendur, suara erangan semakin ngilu terdengar.

Membuat gadis kecil yang ditemuinya kembali membuka pintu. Lantas menyalakan stop kontak dan terang cahaya menyinari seisi kamar.

Kesempatan ini digunakan kabur oleh Maya, menerobos tubuh gadis tersebut. Dan cepat mendorong tubuh gadis tersebut ke dalam kamar. Dorongan pintu dan gagang yang terus naik turun mencoba dibuka. Maya mengerahkan sepenuh kekuatan yang tersisa, meski meringis menahan perih sisa-sisa terjatuh tadi. Suara teriakan berbeda melengking ngeri, teriakan kesakitan beradu suara erangan yang sangat panjang.

Beberapa saat terasa dorongan tersebut mengendur. Maya baru menyadari ternyata anak kunci masih melekat di rumahnya. Segera mungkin ia menekan anak kunci berbeda arah hingga terdengar suara klek, ketika ia memutarnya.

Maya lemas di depan pintu dengan posisi terduduk. Bayangan makhluk besar berbulu serupa beruang berwarna putih kusam masih menghiasi pikirannya[.]

 

***

Ending berbeda dari Kisah Cerita Asli: Gadis Kecil di Belantara Gunung Wayang

Kiki MD 

April, 2021