Lancang

pikist.com

Aku terperangkap, tidak berdaya. Tetapi aku masih di sini di tempat yang menjadi hakku. Bik Uti, ya! Ini semua gara-gara perempuan itu. Jika saja dia tidak membawa orang-orang asing itu ke rumah, mungkin saat ini aku masih tenang dalam kenangan ayah dan ibu.

"Ayah … ibu, oh!" lirihku dalam keputusasaan. 

Sekilas tadi aku sempat melihat mereka, tetapi sekarang di sekelilingku sepi. Suara-suara yang kudengar masih sama, hanya saja sayup-sayup dan teramat jauh. Entahlah!

Aku terpaku di sudut ruangan paling gelap. Tiba-tiba ekor mataku menangkap bayangan berkelebat diiringi suara lantang menjerit.

"Mbakyu! Kau dimana?" 

Suara itu tak asing di telingaku. Langkah kaki berdebam membuat tubuhku sedikit bergetar. 

"Aku di sini, Uti!" sahut suara lainnya.

Beberapa saat terdengar percakapan dua orang, salah satunya Bik Uti. Aku kenal betul intonasi dan jenis suara beliau. Aku berjalan perlahan-lahan ke arah mereka. Dari jarak aman aku mengamati dengan seksama. Wajah bibik tampak cemas, berbicara serius dengan seorang wanita yang lebih tua darinya. 

Tak seberapa lama, seorang gadis menghampiri mereka. Seketika bibik mundur beberapa langkah dan menatap ke wajah gadis tersebut dengan pandangan was-was. Melihat sikap Bik Uti, wanita paruh baya satunya tersinggung. 

"Ini putriku. Apa kau sudah gila, Uti!" bentak wanita itu murka.

Si gadis pelangak-pelongok melihat ibunya marah-marah.

"Mbakyu, kau harus percaya kepadaku. Bawalah putrimu pergi dari sini, sebelum semuanya terlambat!"

"Bukankah tempo hari semua sudah selesai? Bahkan aku sudah mengeluarkan uang banyak untuk perempuan berturban yang kau bawa kemari!"

Mendengar perkataan wanita paruh baya itu, seketika darahku mendidih. Aku tidak menyangka, ternyata selama ini Bik Uti lah yang mencoba mengusirku dari rumah peninggalan ayah dan ibu. Dengan amarah memuncak, aku berlari ke arah tiga perempuan beda usia. Tak sengaja tubuhku menabrak gadis yang tengah berdiri di antara keduanya.

"Iya, aku tahu Mbakyu. Tapi …."

Belum selesai ucapan bibik, tangan gadis seusiaku itu terangkat dan mencengkeram erat batang leher mereka. Nafas Bik Uti dan ibunya tercekat di kerongkongan. Mereka mencoba melepaskan diri dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Tetapi cengkeraman si gadis terlalu kuat! Itu amarahku, kekesalan yang timbul akibat kelancangan mereka. Aku tidak takut lagi!

Note: FF dari karya Ani Wijaya

https://www.risalahmisteri.com/detail/944/arwah-yang-ketakutan361644