Sebuah Panduan Menyikapi Isyarat dari Istikharah

Ilustrasi Danau (Foto: Gatra.com)

Aku tengah menikmati dinginnya Ahad pagi yang mendung ditemani secangkir kopi panas ketika Daud berkunjung ke rumahku dengan wajah bingungnya. Setelah saling mengucapkan salam dan dia kupersilakan masuk, mulailah kami bercengkerama di kursi panjang teras rumahku.

“Kok kelihatannya lesu gitu ada apa, Ud?” Tanyaku sebelum mematikan suara murottal Ahmad Saud dari speaker bluetoothku. Raut muka Daud menunjukkan keterkejutan. Mungkin ia tak meyangka akan langsung ditembak dengan pertanyaan seperti itu. 

“Anu, Gus ….”

“Ona-anu-ona-anu, kayak lagi ngomong sama Yai Sepuh saja kamu ini. Tunggu sebentar!”

Aku beranjak dari tempat duduk, masuk ke dalam rumah, dan menuju dapur untuk mengambil kopi beserta sepiring singkong rebus yang memang telah kusiapkan sebelumnya setelah menerima ‘pertanda’ semalam.

“Waduh repot saja sampeyan, Gus.”

Aku tersenyum, menaruh kopi beserta kudapan tadi di meja, dan mempersilakan Daud menikmatinya kemudian masuk ke rumah lagi. Kali ini menuju ke kamar almarhum Mbah Kakungku untuk mengambil Al Qur`an sesuai pesan Mbah Kakung di mimpiku semalam dan segera kembali ke teras.

“Kamu punya wudhu?”

“Baru saja batal, Gus.”

“Yawes habiskan dulu singkongnya, terus ke belakang, wudhu.”

“Nggih, Gus.” 

Daud mengunyah singkong dengan sedikit terburu-buru. Entah kenapa, alih-alih kasihan aku justru tersenyum geli melihatnya. Dia bangkit dari kursi lalu pamit ke belakang dan kubalas dengan anggukan kepala.

“Ini, dijaga baik-baik,” pesanku kepada pemuda berambut gondrong itu sembari mengulurkan Al-Qur`an sekembalinya dari belakang. Nampak raut keheranan bersemayam di mukanya yang masih basah oleh air wudhu. Namun tangannya tetap menjulur untuk menerima pemberianku sebelum kembali ke tempat duduknya. Dengan ekspresi penuh tanda tanya, lelaki yang berusia dua tahun lebih muda dariku itu memandangi Al Qur`annya 

“Kok sampeyan kayak ngerti kalau aku mau minta pendapat soal Quran, Gus?”

“Itu … anu.” Aku mengambil cangkir dan menyeruputnya sebelum kemudian menjawab pertanyaannya, “Semalam Mbah Kakung hadir di mimpiku dan berpesan supaya memberikan Al-Qur`an itu kepadamu.”

“Ya Allah, Mbah Yai, Gus?” Daud terkejut dan matanya berkaca-kaca. 

Aku tersenyum. "Kalau punya guru seorang alim ulama yang dekat dengan Allah ya memang gitu. Walau sudah tiada, tapi masih bisa mendampingi murid-muridnya. Kapan kamu mau berangkat ke Jogja?"

"Nah itu! Rencana ke sini tadi mau konsultasi soal niat menghafalkan Quran. Kepingin dibantu istikharah biar hati lebih mantap untuk lanjut ke Jogja buat menghafal Quran."

Aku menggaruk janggut. "Kalau menurutku sih, ya, niat baik yang semacam itu gak usah diistikharahi. Cukup niatnya ditata lillahi ta'ala, lalu iringi tiap langkah dengan basmalah dan sholawat. Istikharah itu agaknya lebih pas kalau kita bimbang di antara dua pilihan yang terlihat sama baiknya.

Ingat tidak? Dulu ada kisah orang yang keluar malam-malam buat sedekah kepada siapa pun yang ditemuinya pertama kali, siangnya dia mendengar gunjingan banyak orang karena disebut ada sedekah salah sasaran. Gara-garanya tiga orang yang diberinya sedekah ternyata pencuri, pezina, dan orang kaya. Namun kemudian di suatu malam, dalam mimpinya ia mendapat sebuah jawaban, sedekahmu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya. Infakmu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali. Sedangkan sedekahmu kepada orang kaya, mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfakkan harta yang diberikan Allah kepadanya.

Dari situ kita bisa menyimpulkan terkadang kebajikan yang nampak salah sasaran pun tetap punya hikmah sendiri. Itu soal sedekah, lha apalagi menghafal Quran. Jangan sampai kita yang awalnya mencari kemantapan hati atas sebuah niat baik, malah batal gara-gara salah membaca ‘pertanda’ pas istikharah."

Daud mengernyitkan dahi. “Bisa gitu, Gus?”

Aku membetulkan posisi duduk dan berkisah, “Dulu pernah ada orang mau mewaqafkan tanah untuk dibuat masjid, tapi batal gara-gara salah mengartikan mimpi sehabis sholat istikharah. Dia bermimpi tanah yang hendak diwaqafkan itu jadi danau yang jernih dan di dalam mimpi itu dia kebelet kencing. Akhirnya dia lari ke danau itu dengan niat kencing tapi malah kecebur. Pas bangun dia terkejut karena celananya basah. Dia ngompol.”

Aku tertawa kecil. “Setelah kejadian itu, dia lalu mulai menebak-nebak maknanya. Karena dia merasa mengalami kejadian yang apes, danau itu diartikan kurang baik. Suatu waktu dia sowan ke Mbah Kung. Sama Mbah Kung dijelaskan kalau maknanya tanah yang hendak diwaqafkan itu bakal membawa kemaslahatan untuk dirinya dan orang sekitarnya. Isyaratnya danau itu. Nah, ketika ditanya soal dia yang merasa sial karena ngompol itu Mbah Kakung mengatakan itu akibat dia menahan rasa kepingin buang air kecil sebelum tidur. Setelah dijelaskan gitu orang tersebut seolah menyadari sesuatu dan langsung menangis. Ternyata tanahnya gak jadi diwaqafkan dan sudah dijual gara-gara salah mengartikan mimpi tadi.”

Daud manggut-manggut mendengarkan kisahku. Tak lama kemudian dia pamit setelah memutuskan untuk segera berangkat ke Jogja guna mengurus pendaftaran masuk ke sebuah pesantren tahfidz di sana. Seperginya Daud, aku kembali memutar murottal sembari menikmati kopi yang mulai dingin dan hangatnya cahaya mentari yang menyibak mendung.

Malang, 07 April 2021