Kutukan Pagi Hari

Ilustrasi/ist

Pagi hari adalah kutukan yang mesti kuhadapi tiap kali mata terbuka. 

Ingatan tentang masa lalu, lelaki keparat, dan anak yang tak banyak berguna itu terus mengikuti bahkan hingga aku memutuskan pindah ke kota ini, menyulapku menjelma monster yang lupa cara berbahagia. 

Takdir membuat semua begitu, memaksaku bosan akan impian atas nasib yang ramah dan lemah lembut. 

Aku menjadi pembenci nyaris semua hal, termasuk dua orang yang menghadirkanku ke dunia ini. Aku tahu, sebesar itu pulalah kebencian ayah dan ibu padaku, hingga mereka senantiasa suka rela menghadiahkan lebam dan luka di tubuh mudaku, nyaris setiap hari. 

Masih abadi dalam ingatan saat ibu menarik kerah bajuku dan menenggelamkan kepalaku ke dalam bak mandi sementara satu tangannya menahan leher belakangku. Aku memang mengambil beberapa lembar uang simpanannya, sebuah pasar malam menggodaku untuk memenuhi ajakan kencan pertama. 

Juga ayah yang melemparkan secangkir kopi panas ke wajahku saat aku terlambat pulang, menyisakan kulit pipi dan dagu yang melepuh dan mengelupas esoknya.

Sungguh, omong kosong besarlah yang orang bilang bahwa masa kecil merupakan masa terindah dalam hidup. 

Tapi tunggu, aku teringat tawaran seseorang tentang jalan pintas untuk mengakhiri ini semua. Dia berkata bahwa usiaku belum terlalu tua dan tubuhku masih cukup menyenangkan. Aku bisa bergabung dengannya di klub, untuk kemudian memulai karir yang baru dan mendapatkan uang banyak. 

Tak ada yang kuinginkan selain itu, ya, uang yang banyak. Dengannya aku bisa meninggalkan rumah kecil yang busuk ini dan menyewa sebuah apartemen mewah dengan pemandangan kota tampak dari balkon yang akan kunikmati sembari minum kopi pagi hari. 

Tapi aku benci hati yang mudah tergoda, hati yang ada di dalam tubuhku, hati yang pernah membuatku tertipu oleh seseorang di masa lalu yang pergi setelah benihnya tumbuh di dalam perutku. 

Kali ini lelaki lain yang begitu menawan menjanjikan kehidupan sungguhan padaku, tak hanya gairah semalam yang kerap kami habiskan sebagai penutup hari di klub. Bodohnya aku percaya dan meyakini dia adalah mesiah yang diciptakan untukku. 

Kami mengkhianati klub, dan kontrakku terputus selamanya. Ia bilang kami akan menikah. Namun begitu aku tak lagi menghasilkan uang, lelaki itu menghilang secara tiba-tiba. Beberapa uang hasil pekerjaanku sebelumnya bahkan ada bersamanya. 

Benar-benar neraka yang abadi. Menurutmu, apa lagi yang bisa membuatku bersikap baik terhadap hidup setelah semua kebusukan ini? 

Namun ternyata sesuatu menyala dalam kepalaku. Bagaimana jika aku melakukan trik yang sama yang dilakukan lelaki itu padaku, untuk orang lain? 

Aku tahu, aku belum cukup bodoh untuk jadi miskin selamanya. 

[-] 


Cerita ini merupakan spin off cerpen Ikhwanul Halim yang berjudul Kekasih yang Sempurna

#spinoff