Anin, Sang Pemburu

canva

Hantu Teluk. Begitu mereka menyebut makhluk itu. Seorang Minai mati karena ditumbalkan pada makhluk yang sampai sekarang belum diketahui wujud aslinya. Yang bisa kulakukan hanya berlari menghindar dan kembali lima puluh tahun lagi ke tempat di mana aku dibuang, untuk menjemput mereka yang telah terpilih.

 

“MALING! MALING!” teriakan seseorang membuatku menegakkan tubuh. Dari tempatku berdiri saat ini, di dahan pohon besar di pinggit hutan, bisa kulihat nyala senter dan lampu minyak seperti nyala kunang-kunang di kegelapan. Gerakannya acak dan tak karuan. Sepertinya penduduk desa sedang berlari ke segala arah untuk menangkap si maling.

 

Aku meluncur menuruni batang pohon dan mendarat mulus dengan kedua kaki. Berdiam diri di kegelapan dan menunggu seseorang melintas di sini.

 

Tepat seperti dugaanku, keresak daun kering yang semakin dekat membuatku yakin kalau orang yang dibilang maling oleh penduduk desa lari ke hutan. Di mana-mana, hutan selalu menjadi tempat bersembunyi terbaik bagi para penjahat dan orang-orang yang tak punya identitas.

 

BUG!

 

Sengaja kujulurkan kaki untuk menjegal orang yang dibilang maling dan dia pun terjatuh.

 

“Si-siapa? Kamu siapa?” tanyanya panik. Tubuhnya berputar dan bergerak tanpa kendali.

 

Aku terkekeh pelan. Dia tidak bisa melihat dengan baik dalam cahaya yang sangat minim tapi aku bisa. Panca inderaku telah beradaptasi dengan baik selama beberapa tahun ini. Aku mendekati tubuh yang masih bergerak ke segala arah dan meracau tak jelas karena ketakutan. Aneh, seharusnya dia sudah memperhitungkan kemungkinan bertemu dengan makhluk tak jelas di hutan ini.

 

“Man? Apa itu kamu, Man? Jangan main-main! Aku sudah mengambil yang kamu mau. Cepat tunjukkan jalan ke pondok!”

 

Oh, jadi dia menunggu orang lain. Berarti ada temannya di sekitar sini. Aku harus waspada. Mungkin lebih baik aku sembunyi saja.

 

“Ssst, aku di sini. Tunggu di situ aku jemput. Jangan banyak bersuara. Nanti ketahuan warga.” Bisikan seseorang terdengar dari arah kiriku. Hmm, semakin menarik. Siapa mereka?

 

Aku berdiam diri dalam gelap dan mendengar keresak dedaunan yang mendekat. Gegas aku berpaling dan bersembunyi di balik pohon sebelum keresak itu sampai di tempatku berdiri. Jangan khawatir, langkahku seringan angin. Mereka tidak akan bisa mendengarnya.

 

“Cepat ke sinikan bungkusanmu! Aku harus pastikan isinya benar.” Seseorang yang baru datang mengeluarkan bau yang khas. Membuat penciumanku terganggu saja.

 

“Bawa dulu aku ke pondok. Sebelum aman aku nggak mau kasih bungkusan ini. Isinya lumayan.”

 

“Ketua nggak akan mau terima kalau isinya nggak sesuai. Aku harus pastikan dulu.”

 

“Bagaimana caranya? Di sini gelap. Nggak mungkin menyalakan senter atau korek. Nanti bisa ketahuan.

 

“Kamu yang ketahuan, kami tidak.”

 

Lalu semua terjadi begitu cepat sebelum aku menyadari apa bau yang mengganggu itu. Tubuh di depanku terbakar dan jeritannya membuat cahaya seperti kunang-kunang bergerak menuju tempat kami berada. Dan dalam nyala api dari tubuh orang yang sedang terbakar, aku melihat wajah itu. Wajah yang hanya menyisakan sepasang mata yang menatapku nyalang.

 

“Kau …,” desisku.

 

Dia yang menyadari keberadaanku segera berlari dengan buntalan berisi benda berharga dan uang yang sangat banyak. Aku pun segera mengejarnya. Jika beruntung, aku bisa hidup enak beberapa tahun dengan isi buntalan itu. []

 

 Cerita ini spin off dari Minai, Lima Puluh Tahun Sekali