Kisah Lara Sang Cundrik Ayu

Gambar Ilustrasi-google image

Menurutku di dunia ini tak pernah ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Kala orang lain begitu menginginkan kecantikan, kekayaan dan kemasyuran yang kumiliki. Semua itu malah menjadi sumber petaka bagi diriku. 

 

Ayahku adalah seorang empu keris kenamaan. Pada usia setua ini, bahkan semua orang seolah tak mengizinkannya untuk pensiun. Tak terbilang berapa banyak petinggi kerajaan, begitupun para ksatria yang meminta dibuatkan senjata. Mereka mengagumi keistimewaan senjata buatan ayahku, sebab setiap keris yang dibuat selalu memiliki keunikan sendiri. Sesuai karakter pemesan, tak ada yang mampu menyamai.

 

Bukan hanya sekali dua kali, ayah menanyakan perihal niatku untuk menikah. Telah banyak laki-laki berkedudukan tinggi, kaya raya sampai para pendekar hebat yang aku tolak. 

 

"Ananda tak mau meninggalkan ayahanda seorang diri," selalu itu yang kujadikan alasan.

 

Aku lebih suka menghabiskan waktu membaca berbagai kitab yang tersusun rapi di rak kayu tua milik ayah. Di samping membaktikan diri pada ayah yang kian renta. Mengingat ibu sudah tiada semenjak aku kecil.

 

Hanya Kangmas Bimantara yang selama beberapa tahun ini membantu pekerjaan menempa senjata. Seorang pemuda dengan paras berhias rahang tegas. Alis matanya yang lebat hampir bertautan. Tatapnya setajam elang. Tentu saja tubuh tinggi besar yang dimilikinya selalu tampak kekar. 

 

Aku sering memperhatikan diam-diam saat dia sedang menempa besi. Seolah sedang memamerkan otot yang tercucur peluh. Lelaki yang tak banyak berbicara. Namun isi hatinya tergambar jelas saat memperlakukan aku secara istimewa.

 

Bimantara ternyata memiliki sisi yang tak banyak orang tahu. Dia pandai membuat syair, kata-kata indah yang menyelusup jauh ke relung sanubari. Kangmas Bima bahkan pernah menghadiahi aku patung cantik yang diukirnya pada kayu. Lekuk demi lekuk yang teramat halus tanpa cela.

 

Tetapi Kangmas Bimantara tak pernah memiliki keberanian untuk meminangku. Dan akupun hanya sanggup menunggu. Tanpa mau mengutarakan isi hati.

 

Tiada yang dapat mengira bahwa angkara tiba-tiba saja menguasai jiwa seorang manusia. Pewaris takhta dari sebuah kerajaan besar di  tanah Jawa datang membawa pasukan. Mengancam akan menghancurkan padepokan milik kami. Bila aku masih saja tak mau menerima lamaran untuk dijadikan ratu di kerajaannya 

 

Demi mempertahankan padepokan dan keselamatan ayah. Juga kesetiaan cintaku pada Kangmas Bimantara. Aku menikam diri menggunakan keris yang baru saja selesai dibuat. 

 

Ayahku melafalkan mantera. Agar jiwaku tidak bergentayangan, melainkan bersemayam dalam keris pamungkas buatan sang empu keris, yang diberikan nama Cundrik Ayu.

 

Beratus tahun berlalu, beribu kali berpindah tangan. Namun, sebesar apapun cinta mereka terhadap Cundrik Ayu. Tetap saja hanya memperlakukan sebagai benda pusaka belaka. Bukan belahan jiwa.

 

Aku tetap bersemayam dalam penantian. Sampai seseorang menemukanku, lelaki yang memiliki cinta sejati. Menganggapku, Cundrik Ayu sebagai kekasih hati.

[Awg]

Kisah ini adalah spin-off dari cerita berjudul Cundrik Ayu  yang ditulis oleh Lely Rosyidah di Risalah Misteri.