Pisau Bersimbah Darah

Sumber gambar: Tribunnews

Haris mengusap keringat yang menempel di pipi dan dahinya dengan sapu tangan yang sebelumnya ia pergunakan untuk melindungi rambutnya dari sengatan sinar terik matahari. Sudah sedari pagi berkeliling namun kompor listrik dagangannya belum laku.

Dibanding rekan kerja lain, Haris termasuk sales canvasser senior dan berpengalaman. Semua jurus marketing dan keahlian nyerocosnya yang meyakinkan dikeluarkan, tetapi memang hari ini sedang tak mempan.

Tiba-tiba telepon genggam di saku celananya bergetar, terlihat di layar ada nama Pak Gun memanggil.

"Haris, saya ada  proyek yang menghasilkan banyak uang untukmu. Keahlianmu berbicara dan bermain peran akan sangat berguna di kampung itu," ucap suara dari handphone Haris, setelah berbasa-basi tegur sapa sebelumnya.

Tentu saja, tanpa pikir panjang Haris menyetujui tawaran itu setelah dijelaskan detail mengenai apa yang harus dilakukannya. 

Haris segera pergi ke kampung tempat seorang lurah yang akan membayarnya dengan tinggi, kemudian menyelesaikan pekerjaan tersebut kurang dari sebulan. Setelah menerima imbalan banyak dari seorang lurah bersenyum licik dan mengerikan, lelaki berperawakan tinggi itu langsung menuju ke kota lagi.

Seminggu kemudian Haris berniat menghibur diri ke sebuah panti pijat dewasa karena merasa akhir-akhir ini perasaannya tak tenang dan selalu dihantui mimpi buruk sesosok hantu perempuan. Haris memilih pemijat dengan fisik yang sesuai selera kelelakiannya. Setelah selesai melakukan treatmen pijat spesial, ia segera membawa perempuan pemijat yang menarik hatinya itu ke sebuah hotel bintang lima tak jauh dari situ.

Mereka menghabiskan malam berdua ditemani dengan beberapa botol bir mewah. Malam itu sangat menakjubkan bagi Haris. Ia menikmatinya serasa melayang hingga tak sadarkan diri.

Pagi harinya para pekerja dan penghunibhotel digegerkan dengan penemuan sebuah mayat bersimbah darah terbaring di salah satu kamar VIP. Mayat itu tak lain ialah Haris. 

 

***

Flash fiction ini merupakan spin off dari cerpen "Pohon Tua di Tengah Desa" karya Yon Bayu Wahyono.