Para Pembersih

Imel-PicsArt

Pipiku ditampar. “Bangun, Nayya.” Jana keluar sambil mengomel pada kebiasaan burukku yang sulit bangun pagi.

Aku punya firasat buruk pada Pembersihan kali ini. Perumahan Magenta menjadi salah satu sarang paling mengerikan di kota. Grup yang mengajukan diri ke sana selalu pulang dalam keadaan tidak utuh.

Ketika ketua grup menunjukkan ambisinya, aku ingin menolak. Tetapi, aku hanya tokoh minor dalam kelompok beranggotakan 17 orang ini. Patuh tanpa banyak tanya adalah aturan, dan sekalipun menolak, takut bukanlah alasan yang bisa diterima.

Selain fakta mengerikan di Magenta, aku juga sering memimpikan orang rumah belakangan ini. Sebagai bocah pengecut, belasan tahun lalu, membuat keputusan bukan perkara mudah bagiku. Menjadi grup Pembersih independen tidak pernah terlintas di benak orang tua penyayang mana pun, tapi aku tetap pergi dari rumah.

Di sinilah kami, berdiri di taman perumahan. Sunyi. Keheningan ini bukanlah kedamaian sejati. Momen yang kami lihat hanyalah jinaknya ombak sebelum tsunami.

Aku memegang kapak dan golok, menghela napas berat berkali-kali, dan kecemasanku terendus oleh ketua grup. “Pulang sana kalau kalian takut mati.”

Seluruh anggota tersenyum sinis. Ekspresi yang paling kubenci. Berani dan meremehkan itu jelas berbeda. Sialnya, aku malah ingin memiliki dua sikap menyebalkan tersebut.

“Nah! Mereka sudah menyadari kehadiran kita.”  Jana menunjuk ke koridor penghubung apartemen.

Magenta adalah lokasi yang diisolasi. Ratusan penghuni berubah menjadi mayat hidup. Jumlah menjadi bertambah karena kelompok dari luar sempat digiring ke sini dengan maksud untuk pemusatan target. Sebuah langkah lucu. Pemerintah malah menjadikan mereka pasukan berkekuatan besar.

Bom? Cara ini sempat dipikirkan, namun pengeboman bakal membawa dampak buruk pada kota. Bagaimana bisa menjadi buruk, hanya mereka yang bisa menjelaskan. Kalau aku boleh menebak, keputusan dan dalih itu didukung oleh pertimbangan politik. Terserahlah!

Aku menyapu pemandangan ke sekitar. Raut menyeringai dan lapar menunggu kami. Semakin dekat kami melangkah, mereka juga semakin siaga.

“Ingat, jumlah kepala bakal menentukan hidangan makan malam kita.” Ketua grup menyemangati kami dengan makanan yang bahkan tidak bisa kunikmati karena bayangan otak dan daging mayat hidup yang baru saja kuhabisi.

Ketua bersiul nyaring, dan kami pun berlarian ke dua titik dalam formasi kelompok kecil.

Pelataran parkir bawah bangunan adalah lokasi pertama. Sosok-sosok menjijikkan memang sedang mengintai mangsa mereka. Kami mulai menebas ke kiri dan ke kanan hanya sesaat ketika kaki memasuki pelataran.

Erangan, jeritan melengking, debuk, debam, dan tangis kesakitan anggota pun berbaur. Otakku hampir kosong. Wajah orang tua dan desakan ingin pulang, hanya dua hal ini yang memompa tenagaku.

Dua, tiga, lima zombi roboh ke tanah bersemen rusak. Cairan kehitaman memercik. Enam, sepuluh, lima belas, dan misi ini mulai terasa gersang mirip matahari menjelang hujan.

“Nayyaaaa..”

Aku menebas sosok di depanku, lalu menoleh ke arah sumber suara. Jana. Perempuan berambut pirang sepunggung itu sudah dikeroyok. Beberapa anggota lain juga bernasib sama.

Aku sudah boleh kabur, bukan?

Tanpa menunda, aku memutar tubuh, kemudian berlari ke arah gerbang. Harga diri dan uang bukan apa-apa lagi sekarang. Peduli setan!

Mencapai pagar besi bukanlah awal kebebasan. Terkunci. Oh, tentu saja. Mana mungkin area dibiarkan terbuka. Aku menengadah. Hah! Sepuluh meter. Ketinggian ini bukan masalah kalau saja ruas untuk memanjat tersedia.

Aku mulai menggila. Kunci dipegang oleh ketua. Kalau begini, tidak ada pilihan selain menguji keberuntungan dengan tetap memanjat.

Ah, itu dia! Bahan bakar kekuatanku malah berlarian menyusul. “Aarrrghhh..”

Mirip monyet, aku berhasil mendarat di balik pagar. Aku pergi sambil menyeret kaki; meninggalkan teman-teman, golok, dan harga diri.

Di jalan pulang, puluhan pasang mata menatapku. Dua orang pria buru-buru menatap layar ponsel. Seorang ibu menggendong balitanya, lalu bergegas pergi.

Di saat bersamaan, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh karena luka cakar dan gigitan pada lengan dan jari.

_

Flash Fiction (FF) ini adalah spin-off dari cerpen milik Pak Ikhwanul Halim yang berjudul "Zombie Terakhir".