Kita dan Kenangan

Ilustrasi

Berdiri dekat jendela, memandang jalan setapak di belakang rumah adalah saat paling khusuk. Hanya dengan begitu, aku bisa menghadirkanmu walau sekadar kenang. Seperti daun-kering berserak yang menaburinya, ingatanku tantangmu tidak pernah hilang. Apa salahku?

Aku memang wanita yang tak bisa bersikap manis seperti perempuan-perempuan itu, yang rayuannya lihai dan  gemulai. Kadang satu kesalahanmu bisa membuatku cemberut berhari-hari. Aku memang tidak sabaran menghadapimu. Tetapi tahukah kamu, kepergianmu yang lima tahun tanpa kabar itu sudah seperti hukuman bui.

Kamu ingat si Sastro?

Sainganmu memperebutkan diriku dulu?  Dia seperti binatang buas yang lepas dari kandang. Aku harus super waspada saat bepergian di luar sana, atau saat di rumah sendirian. Dia sakit jiwa. Hampir saja anak kita yang baru lulus TK ini digelandangnya. Entah untuk apa.

Jika saja tidak ada Kang Basuki yang menangkap basah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada anak kita.

Setiap kali kami tidak sengaja berpapasan, dia selalu  mengejekku.

"Suamimu tidak akan pulang. Dia tidak mungkin kembali!"

Sakit, Kang.

Ingin rasanya kuselesaikan ketakutan ini dengan perbuatan kejam, agar manusia tidak punya tata krama itu jera mengusikku. Tetapi, aku bisa apa?
Ya, aku ternyata tidak bisa apa-apa. Sama sekali berbeda dengan sesumbarku saat kau akan berangkat meninggalkan kami untuk bekerja di laut sana.

"Lihat saja, aku bisa hidup tanpamu." sungutku, meski itu tidak tulus keluar dari hati. Bagaimana mungkin aku bisa merelakanmu pergi saat ada nyawa sedang meringkuk di rahim ini?
Sendiri adalah ketakutan terbesar yang kami bungkus rapat-rapat. Sebab itu hanya akan menjadi ejekan, jika kalian para pria mengetahuinya. Benar bukan?

Aku sangat lelah.
Lelah dan kesepian saat harus mengerjakan semuanya sendiri. Saat bertarung antara hidup dan mati untuk menghadirkan satu nyawa milik kita, lalu mengurus dan mengasuhnya seorang diri. Mengurus orang tua kita yang kian menua.

Tetapi aku tidak lelah mempercayaimu. Menunggumu untuk kembali. Aku juga tidak lelah mendoakanmu. Meski akhirnya, kau pulang untuk menghukumku sekali lagi.

"Jenasah Narto sudah tiba!"

_____

*Spin Off dari cerpen  Yon Bayu - Di Atas Kereta Malam