Wilasa, Misteri Tembang Pangkur

Ilustrasi Pinterest

Namaku, Wilasa. Aku tinggal sendiri di pondok kecil tak jauh dari rumah pujaan hatiku. Terkadang sering kali mendengar suaranya yang merdu, mengalunkan tembang pangkur. Namun, aku justru merasa terusik. 

Aku mengancamnya untuk tidak melantunkan tembang itu. Ia marah dan mengusirku. Ayahnya tidak mengijinkan aku untuk datang dan berlatih Kanuragan di Padepokan Gumandar. 

Posisiku tergantikan oleh saudara perguruan. Ia sudah menjadi kekasihnya. Perasaan ini begitu terombang-ambing menyisakan luka. Semenjak lamaranku juga ditolak olehnya. Hanya arak yang menjadi teman setia. Tapi, aku tidak mau tinggal diam. Menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam.

Mengetahui Ia sedang sendirian ditinggal Ayah dan kekasihnya turun gunung. Aku langsung datang menemuinya.

"Mau kubantu, Yung?"

Ia terkejut melihat kedatanganku. Perlahan mendekati perempuan itu, wajahnya terlihat cemas pun lututnya gemetar karena ketakutan.

Tampak di samping kanannya terdapat rumpun berduri sedangkan di sebelah kiri jurang berbatu. 

"Di sini sepi, Yung. Cuma ada aku yang akan membantumu."

Aku tertawa lebar, melihat Ia kebingungan tak ada kesempatan untuk kabur. Tiba-tiba Ia melantunkan tembang pangkur. Kedua telinga ini begitu sakit lalu kututup dengan kedua tangan. Mataku terpejam sangat lama. Aku merasakan tubuhku melayang bagaikan layangan putus.

Entah, apa yang terjadi selanjutnya? Karena setelah membuka mata aku tidak lagi mengingat apa-apa.

Lalu, datang perempuan tua menggendong tubuh kecil ini dan membawaku pulang bersamanya.

TAMAT

 

Pemalang, 7 April 2021

Note: Cerita ini Spin-Off dari Cerita https://www.risalahmisteri.com/detail/1200/lembayung-dan-sebait-pangkur242216

Karya: Sri Widyowati Kinasih