Kuwu Adang

Tokoh-tokoh dalam cerita.

Sebagai seorang pemimpin di sebuah kampung besar bernama Legok Iso, menjadikanku terkenal seantero Tanah Pasundan. Pria tampan dengan kekayaan berlimpah ruah membuatku terkadang dipanggil Juragan Adang. Namun, jujur sedikit risih mendengarnya, karena aku tidak pernah suka jika orang hanya memandang hartaku saja. Sehingga kulebih nyaman menyematkan panggilan Kuwu Adang.

Kebahagiaanku lengkap. Mempunyai istri dan anak-anak yang menyayangiku, walau keanehan terjadi pada putri bungsuku, tetapi kuharap semua dapat teratasi dengan baik.

Kampung yang kupimpin merupakan wilayah yang subur, di tengah perkampungan terdapat sebuah telaga yang dikeramatkan. Penghuninya siluman wanita cantik bernama Dewi Naraya. Awalnya aku tidak percaya dengan isu yang beredar tersebut, tetapi aku pernah menemuinya tanpa sengaja. Waktu itu, aku masih pemuda biasa yang hanya mengandalkan harta orang tua. Bopo mencalonkan diri sebagai Kuwu, dengan pesaingnya juragan tembakau bernama Wak Suja, dia sering menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, salah satunya ambisi menjadi Kuwu.

Di malam pemilihan Kuwu, tiba-tiba angin kencang menderu, menyebabkan badai.  Anehnya hanya menyerang rumah keluargaku. Bopo berteriak menyuruh aku, Ambu, dan kedua adik untuk keluar menyelamatkan diri. Namun, langkah seperti ada yang menahan. Menyadari semua kejadian tersebut adalah serangan ghaib, Bopo bersila di lantai, tangannya mengepal ke atas, kemudian dengan kekuatan tak terlihat, dia mendorongku keluar, sedangkan yang lainnya terkubur di reruntuhan rumah. Sempat Bopo berteriak menyuruhku ke telaga, sebelum tubuhnya terhantam pilar.

Menahan nyeri di hati dan tubuh, aku melangkah menuju telaga. Merasa tidak berguna tak bisa menyelamatkan keluarga, aku menceburkan diri ke dalamnya. Rasa sesak memenuhi dada, mungkin akibat terlalu banyak menelan air telaga. Di batas ambang kesadaran, sehelai selendang kuning menarik dan menghempaskanku ke tepi telaga yang ditanami rumput liar.

Tampak seorang wanita cantik berkebaya kuning mengulas senyum, tatapannya sangat tajam. Kemudian dia mendekat meletakkan sebuah cincin yang dihiasi batu berwarna merah. "Pulanglah! Anak manusia, aku sahabat Bopomu, akan menolong membalas dendam." Ketika kuberkedip, sosok wanita tersebut menghilang.

Aku memutuskan pulang. Warga kampung mengerumuni rumahku yang telah menjadi puing-puing. Jenasah Bopo, Ambu, dan kedua adikku, langsung disemayamkan malam itu. Untuk sementara, kutinggal bersama salah satu orang kepercayaan Bopo.

Kegaduhan kembali terjadi di kampung, saat terdengar kabar Wak Suja mati gantung diri menggunakan selendang kuning. Aku tersenyum sinis, sepertinya wanita misterius di telaga itu, telah memenuhi janjinya. Akhirnya, aku dijadikan Kuwu oleh warga dengan persetujuan para sesepuh kampung yang sangat menghormati Bopo. Itulah mengapa aku merupakan salah satu yang mempercayai, daya linuwih dari telaga serta penghuninya.

Mengenang peristiwa lampau, bulu di tubuhku meremang. Aku jadi teringat pada Kanaya--putri bungsuku--sejak dia mengalami sakit dan menjalani ritual di telaga, tatapan serta senyumnya berbeda, terlihat menyerupai wanita cantik berkebaya kuning penghuni telaga keramat.

 


Note : Spin-off dari cerita Kak Ani Wijaya. Asmarandana Sang Penunggu Telaga.