Untuk yang Pertama dan Terakhir Kali

klikkaltim.com

Aku sudah menunggu lama, sangat lama. Anak itu sangat beruntung memiliki orang tua yang menjaga dan merawatnya dengan penuh perhatian. Setiap kali bermain dengan dia, ingin rasanya menjadi bagian dari keluarga yang hangat itu. 

 

"Hahahahaaa …. Jangan bilang Kau ingin seperti dia!" 

 

Sebuah ejekan membuatku berpaling seketika. 

 

"Akh, Kau. Memangnya mengapa, tidak boleh?" tanyaku tak senang.

 

"Mustahil! Kalau dia menjadi kita, itu bisa saja. Sebaliknya, tidak mungkin! Kau dan aku sama-sama tidak diinginkan, apa kau lupa?"

 

Perkataannya barusan membuatku sadar. Makhluk seperti kami memang tidak punya pilihan. Bahkan dari mana kami berasal, aku sendiri tidak tahu. Siapa ayah dan ibuku? Mengapa bisa ada di dunia ini? Aku hanya bekerja dan bekerja, tidak seperti anak kecil bernama Dimas itu. Aku bahkan tidak punya nama. Manusia memanggil aku dan teman sejenis dengan sebutan Tuyul. Itupun saat aku membawakan benda yang sangat diinginkan manusia.

 

Satu-satunya perhatian yang aku dapatkan adalah, di waktu-waktu tertentu aku diberi makan dan minuman seperti manusia. Segelas kopi, permen dan kue-kue meski rasanya enak tapi aneh. 

 

"Sudahlah, jangan berharap yang tidak-tidak. Jika berani, ajak dia bersama kita! Berani?" tantang temanku.

 

Aku tersenyum dan segera beraksi. Dengan mudah aku membawa anak bernama Dimas itu pergi dari rumahnya. Dia hebat! Tidak takut kepadaku atau makhluk jelek lainnya yang ditemui di hutan. Aku berharap dia betah dan tidak pulang lagi ke rumah. Teman-temanku juga senang saat Dimas bergabung dengan kami dalam hutan.

 

"Kau berhasil, hebat!" sanjung temanku yang sejak tadi berusaha mempengaruhiku.

 

Kami bermain sepuas-puasnya, hingga aku merasa ada yang salah. Hari sudah mulai senja, di hutan kian gelap. 

 

"Aku harus membawa Dimas pulang!" ucapku pada temanku.

 

"Hei, apa yang kau lakukan!" 

 

Tanganku ditarik dengan keras, dia tidak setuju. Aku menatap heran padanya.

 

"Coba Kau lihat dia bahagia di sini. Biarkan saja!"

 

"Tidak, ini tak boleh terjadi!" kataku sambil hendak menghampiri Dimas.

 

Lagi-lagi temanku menyentak tangan dan menahanku untuk membawa bocah itu. Aku marah karena terus dihalang-halangi. Aku tak peduli, bagaimanapun juga anak itu harus pulang kepada orang tuanya. Aku dan temanku itu sempat bergumul demi mempertahankan keinginan masing-masing, sampai akhirnya aku berhasil membawa Dimas pergi dari sana.

 

Memang benar aku iri dengan kebahagiaan anak itu, ingin menjadi seperti dia. Tetapi bukan berarti berhak merenggut kebahagiaannya. Cukup aku dan teman sesamaku menjalani takdir seperti ini. Tidak dengan Dimas! 

 

"Pulanglah, ini bukan takdirmu!" ucapku saat berhasil mengembalikannya ke rumah.

 

Entah mengapa aku merasa bahagia.

 

Note: Cerita ini merupakan Spin-off dari kisah yang berjudul TERSESAT milik Dian Hariani. https://www.risalahmisteri.com/detail/331/tersesat