Travelling Sebelum Tidur

Ilustrasi by Soco

 

Sebelum tidur Sugiharto becermin. Ia mengelus-elus pipinya lalu tersenyum penuh kesombongan. Apa yang tidak ia punya di muka bumi ini? Ia punya segalanya. Rumah megah, mobil mewah, istri banyak, anak banyak, supermarket di mana-mana dan wajah yang tampan.

Makanan paling mahal pernah ia santap. Baju paling berkualitas sudah seringkali ia borong. Jalan-jalan ke luar negeri sudah hal biasa baginya.

Besok ia akan berangkat travelling ke London. Bukan main. Ia akan mengajak semua keluarganya. Bukan cuma anak istrinya, kakak, adik, mertua, ipar dan semua sepupunya diajak. Ia akan menunjukkan pada semua orang bahwa ia adalah orang kaya sungguhan.

"Lihat saja besok. Kalian tak akan berhenti memujiku," Sugiharto tersenyum puas.

Ia merebahkan diri, menatap lekat pada cermin, mencaritahu apa yang kurang dari hidupnya. Semakin lekat ia menatap. Sampai tubuhnya terpilin masuk ke dalam cermin.

***

Matanya terbuka. Gelap. Sulit sekali bernapas, hanya sedikit bau tanah basah. Tangan dan kakinya sukar digerakkan. Di mana dia berada? 

Ia seperti sedang berbaring dengan kondisi tubuh terikat. Di hadapannya ia mendapati sosok terbungkus kain putih terbujur kaku menghadap kiblat. Ia juga merasakan sosok yang sama berada di belakang dan di bawahnya. 

Cacing, ulat, ular dan para serangga mendekat ke arahnya. Ingin rasanya ia melompat tapi percumah saja berontak. Berulang kali meminta tolong, tetapi hanya ia yang mampu mendengar suaranya sendiri.

Suara ular mendesis semakin mendekat. Melilit tubuhnya tanpa ampun.

Ketika ia berteriak meminta tolong sekuat tenaga hingga matanya terpejam, saat terbuka matanya, ia berada di tempat lain.

Lahan hijau nan luas. Hanya seorang diri. Ia mengikuti jalan setapak yang ada. Tanpa sengaja ia menginjak segepok uang. Mendadak tubuhnya bergeser ke dekat jurang.

Di dalam jurang sana, ia melihat dirinya tengah diadili. Perutnya membesar dan kesusahan berjalan. Nanah dan api terlihat dari kulit perutnya yang tipis. Karyawan-karyawannya antre meminta keadilan. Setiap karyawannya maju, sedetik kemudian rasanya seperti disiksa, perutnya luluh lantak seketika mengeluarkan aroma busuk tak tertahankan. Begitu terus setiap bergilir karyawan yang lain.

"Tolong ...," teriak Sugiharto.

***

Kini Sugiharto kembali ke tempat semula. Gelap dan bau tanah basah.

"Yaa Allah ..., aku di mana ini? Kembalikan aku ke kamar, Yaa Allah ...," Sugiharto berkaca-kaca.

Ada suara gemuruh seperti ada orang datang. Perpaduan antara kaki dan cambuk.

"Tolong ...," teriak Sugiharto sambil berusaha berontak.

Sugiharto kembali terlempar ke lahan hijau. Tubuhnya berada di atas selembar daster. Seketika tubuhnya bergeser ke dekat jurang.

Di dalam jurang sana, ia melihat Juminten-tetangganya yang berstatus janda, minta keadilan padanya. Ia melihat flail datang dari segala penjuru menghantam kepalanya. Bola matanya keluar seketika. Begitu terus sampai ia ketakutan sendiri melihat wujudnya di dalam jurang sana.

"Yaa Allah ..., aku ada di mana?? Aku nggak kuat, Yaa Allah ..., lepaskan aku ...," Sugiharto mulai putus asa.

Sugiharto terpental ke tempat lain. Sebuah bukit batu yang dibawah sana mengalir lautan api. Gelap, hanya ada terang dari api yang berkobar-kobar. Cantika-anaknya, digantung di bagian kaki dan kepalanya dicelupkan ke dalam api. 

Matanya beralih ke arah lain. Ia mendapati tubuhnya diikat di sebuah tiang panjang. Panas api dari ujung kaki itu membakar sampai ke hati. 

Ia tidak kuat melihat dirinya sendiri. Matanya terpejam. Terdengar suara meminta tolong dari laut api di bawah sana. Ia celingukan.

Ia mendapati tubuhnya berenang di bawah sana. Meminta pertolongan.

"Kenapa tidak ada yang menolongku? Bukankah aku orang yang punya segalanya di dunia? Bukankah aku sudah berbuat baik pada siapa saja? Mana anak dan istriku?" Sugiharto bermandikan airmata.

Sugiharto hanya mampu meratapi nasibnya. Ia menangis tanpa jeda. Tak ada lagi harta, tak ada lagi orang-orang tersayang.

***

"Yaa Allah, semoga besok Papa mau sholat, semoga mau ngaji bareng Mia, aamiin ...," Mia bersiap tidur.

Sugiharto menangis sejadi-jadinya. Ia tahu apa yang kurang dari hidupnya. Ia tahu apa yang selama ini salah dari hidupnya.

Selesai

Sragen, 
Rabu, 7 April 2021