Peti Mati untuk Lily

Sumber: depositphotos.com

Tiga perempuan itu---Des, El dan En, tertawa terbahak-bahak. Menertawakan kebodohan Geni.

Sementara Lily masih duduk meringkuk tanpa suara. Menyaksikan euforia yang aneh.

El---perempuan yang mengaku sebagai bibinya itu, tertawa hingga matanya berair. Dan seperti biasa, air yang meleleh membasahi pipinya terlihat kental, berbau anyir dan berwarna merah.

El menangis darah!

Lily bergidik. Antara jijik bercampur ngeri.

Belum sirna kengerian melanda hatinya, satu keanehan lain muncul. Kali ini terjadi pada diri Des. Kepala perempuan cantik itu tiba-tiba bergerak cepat, berputar-putar seperti gasing. Lalu pada sisi kanan kiri kepala berambut pirang itu perlahan-lahan tumbuh sesuatu. Semacam tanduk kerbau.

Des masih tertawa dengan mulut terbuka lebar. Gigi taringnya mencuat keluar. Dibarengi sorot mata merah menyala. Dalam pandangan Lily, Des tak ubahnya seperti ratu demons!

Untuk meredakan kengerian yang memburunya, Lily memejamkan matanya rapat-rapat.

El dan Des, mereka itu sebenarnya mahluk apa? Dan En, apakah akan ikut berubah mengerikan seperti kedua temannya itu?

Lily menunggu. Perasaannya kian was-was dan berkecamuk tidak karuan.

"Mangsa hampir masuk perangkap!" suara lantang En membuyarkan euforia yang menggila. Juga ketakutan Lily.

Lily beringsut. Pikirannya mendadak terbelah.

Geni.

Ya. Geni.

Laki-laki sialan itu! Rupanya tidak menyadari bahwa ia datang untuk menyongsong kematiannya sendiri.

***

Lily meluruskan kakinya yang kesemutan. Wajah kedua perempuan yang berdiri di belakang En sudah berubah seperti semula. El kembali dengan sorot mata indahnya yang sayu. Dan, Des, kepalanya sudah kembali normal seperti sedia kala. Tanduk kerbaunya yang beberapa saat lalu tumbuh, telah raib.

"Mari kita siapkan upacara penyambutan paling meriah, duhai para tersayangku," Des mengangkat satu tangannya. Memberi aba-aba. En bergegas menggerakkan mouse yang tergeletak di atas meja. Men-zoom salah satu gambar yang berhasil terdeteksi pada layar monitor.

"Dia berada beberapa inci dari zona jebakan! Yup! Kena kau, Geni!" En menegakkan tubuhnya sedikit. Senyum seringainya terlihat. El dan Des saling berpandangan. Kemudian dengan satu gerakan, keduanya membungkukkan badan, ikut mengarahkan pandangan ke arah layar monitor.

Benar. Sosok Geni tampak tengah berjalan mengendap-endap. Ketiga perempuan itu nyaris mengumbar tawa lagi, kalau saja tidak dikagetkan oleh tingkah laku Geni. Laki-laki itu mendadak berbalik badan.

"Hei, hei! Mau kemana dia?" En kembali meraih mouse dan menggerakkannya dengan panik.

"Rupanya ada yang memberitahu secara diam-diam agar dia tidak melewati zona jebakan kita. Bukan begitu, En?" Des menyentuh pundak En yang terguncang.

En mendekatkan wajahnya sesaat. Mengamati sekali lagi layar monitor di hadapannya. Lalu menoleh ke arah Des dan El dengan alis mencuat tinggi. "Apakah itu berarti, pengkhianatnya ada di antara kita?"

Suasana mendadak berubah tegang.

"Kau menuduh kami, En? Jangan lupa. Kau dan gadis yang tengah meringkuk itu juga berpotensi besar menjadi pengkhianat!" Des berseru lantang. Merasa tersinggung.

"Pantang bagiku mengkhianati perkumpulan Bulan Sabit Perak yang kubangun sendiri dengan susah payah ini. Kecuali..." En sengaja menghentikan kalimatnya. Ia memutar kursi yang didudukinya. Menatap ke arah Lily dengan pandang menusuk.

"...kecuali kalau aku menaruh hati pada laki-laki bernama Geni itu. Bukan begitu, Nona Lily?" En berdiri. Menggeser kursinya dengan kasar. Lalu berjalan mendekati Lily yang masih meringkuk.

"Bereskan dia, El. Sekarang! Ini tugasmu," Des tersenyum dingin. El mengangguk kecil.

Sementara Lily, ia tak bereaksi apa-apa meski tangan En menggelandang lengannya dengan kasar.

"Kau sudah mencuri data-data demi menyelamatkan laki-laki itu, bukan? Mengakulah!"

Lily tetap membisu.

"Jangan paksa aku berbuat kasar padamu, Nona!" En mencengkeram pundak Lily kuat-kuat. El mendekat. Perempuan itu mengangkat dagu Lily hingga kepala gadis itu terdongak ke atas. Lalu dengan penekanan intonasi, ia mengatakan sesuatu.

"Dengar keponakanku sayang. Peti mati untukmu, sudah tidak sabar menunggu."

***      

Tubuh Lily meregang ketika El mendorongnya ke sebuah kamar yang cukup luas. Tidak terdapat barang apa pun di sana kecuali sebuah peti mati yang kondisinya dibiarkan terbuka. Peti mati itu diletakkan tepat di tengah-tengah ruangan.

El mendorong sekali lagi tubuh Lily hingga gadis itu terduduk di samping kiri peti mati itu.

"A-pa yang akan kau lakukan?" Lily gagap bertanya.

"Coba tebak, sayangku," El menjawab dingin seraya mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya yang berjuntai.

"Kau akan membunuhku. Lalu mencincang-cincang tubuhku seperti yang pernah kalian lakukan terhadap salah seorang satpam di penginapan The Good Hell dulu. Lantas memasukkan cacahan tubuhku ke dalam peti mati ini untuk kemudian--- ditenggelamkan ke laut."

Mendengar itu El mengikik lirih seraya mendekatkan wajahnya yang pucat. Sementara kedua tangannya yang kurus bergerak cekatan. Mengikat kaki dan tangan Lily kuat-kuat.

Mendadak keberanian Lily muncul. Ia ingin berontak. Lalu dengan sorot mata tajam ia menatap wajah El. Pada detik kesekian matanya bertemu dengan mata sayu perempuan itu.

"Jangan memandangiku seperti itu, Lily. Kau tidak akan menemukan apa-apa dariku," El mengangkat tinggi-tinggi dagunya.

"Kau salah. Aku baru saja menemukan sesuatu," Lily sengaja menyahut ketus.

"Oh, ya? Boleh aku tahu apa itu, sayangku?" El memicingkan sebelah matanya.

"Kau memendam luka yang cukup dalam, Nyonya. Juga cinta. Matamu yang mengatakan itu padaku," Lily masih melekatkan pandangannya.

"Tahu apa kau tentang diriku, keponakanku sayang?" El menarik napas panjang. Lalu menggerakkan lagi kedua tangannya. Tapi kali ini ia mengurai simpul mati yang baru beberapa menit dijalinnya.

El membebaskan kembali kaki dan tangan Lily.

"Kenapa kau urung mengikatku?" Lily mengernyit alis. Merasa bingung dan heran atas perlakuan El. El berdiri, mengibaskan gaunnya dengan ujung jemari.

"Kau masih terlalu muda, Lily. Kesempatan untuk bahagia itu masih ada." El mengalihkan pandang ke arah jendela yang terbuka. "Kalau aku memintamu melompati jendela itu, apakah kau bersedia?"

Lily terhenyak. Tapi kemudian gadis itu mahfum.

El sebenarnya ingin menyelamatkan dirinya dengan caranya sendiri. Maka tanpa menunggu perintah kedua kali, Lily bergegas beranjak, berlari menghambur menuju jendela, melompati bingkainya.

Dan, ketika ujung kakinya hampir menyentuh tanah, seseorang memeluknya dari belakang.

Geni!

***
Sementara El, usai kepergian Lily dengan tenang berjalan mendekati jendela. Mengatupkan kedua daunnya dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Setelahnya ia berjalan kembali menuju tempatnya semula. Berdiri di samping peti mati yang keadaannya masih belum berubah. Masih tetap terbuka.

Cukup lama El berdiri mematung di sana. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Buket mawar merah pun masih erat dipegangnya.

Sampai kemudian telinganya mendengar langkah seseorang datang.

Des!

El terhenyak. Des datang untuk melihat apakah ia sudah melaksanakan perintahnya atau belum. Dan El tahu. Risiko apa yang bakal diterimanya jika ia mangkir dari perintah perempuan berjuluk Ratu Kematian itu.

Sebelum tangan Des meraih pegangan pintu, El buru-buru melompat masuk ke dalam peti mati. Ia merebahkan diri di dalamnya. Lalu menekan sebuah tombol yang berada tepat di atas kepalanya.

Blam!

Peti mati sontak tertutup rapat.

El tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Peti mati itu telah dirancang sedemikian rupa oleh Des. 

Ya. El tidak mengerti. Bahwa peti mati itu---saat pintunya terkunci, selamanya tidak akan bisa dibuka kembali.

 

Lilik Fatimah Azzahra