Resep Awet Muda Wak Enjang

Ilustrasi, Restokoiyo

"Mengapa kamu ragu-ragu, Nak? Bukankah keinginanmu menjadi cantik dan awet muda?" Suara itu terus menggema di ruang kamar Sasmi. 

"Aku tak sanggup, Wak," ucap Sasmi ragu-ragu. 

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Wak Enjang muncul dan telah berdiri dengan tongkat penyangga, tepat di sisi Sasmi. 

"Wak dulu pun melakukannya. Selain wajah menjadi halus, cantik, para lelaki pun berlomba mendekati Wak. Mereka saling berebut hingga terjadi perkelahian hebat dan jatuh korban," jelas wanita tua itu sambil tersenyum puas, seolah semua kesakitannya terlampiaskan.  

Selanjutnya, sambil berjalan membungkuk mengitari kamar, Wak Enjang berkisah tentang masa mudanya yang sering merasa hancur berkeping-keping karena cemoohan remaja sebayanya. Wajahnya yang berkerut-kerut akibat luka bakar tak disengaja, menjadi bahan pembicaraan yang tiada habisnya. Hingga suatu saat Wak Enjang menemukan sebuah buku resep beserta kleniknya yang tersimpan di lemari kuno milik sang paman.

Karena sudah muak dengan semuanya, Wak Enjang berusaha melakukan ritual sesuai petunjuk resep demi mewujudkan impiannya untuk menjadi cantik dan awet muda. 

"Tapi, kenapa Wak sekarang tidak cantik lagi?"

"Dasar bodoh!" Dia membentak sambil memukulkan tongkat ke arah Sasmi. 

"Maaf, Wak." Sasmi kembali terdiam, mendengar kisah yang ternyata masih berlanjut. 

Wak Enjang hidup bahagia sepanjang dia rutin memakan daging mentah serta meminum darah sebagai bagian dari ritual resep awet muda seperti tersebut dalam lembaran buku rahasia. Wajahnya cantik, halus, mulus, mempesona, dan mampu membuat para pria jatuh cinta. 

Perubahan yang drastis membuat remaja seusianya iri, lalu mencari-cari apa yang membuat wajahnya menjelma bak putri raja. Rahasia tidak pernah ditemukan. 

Selama itu Wak Enjang bertahan, tak pernah sekali pun mempercayai rayuan para lelaki. Tidak juga semudah itu menerima cinta dari pria. Dia hanya ingin menikmati hidupnya yang penuh kebahagiaan. Hingga suatu hari muncul sosok lelaki yang membuatnya tak bisa berpaling lagi. Darma namanya. Sosoknya seperti memiliki aura yang membuat Wak Enjang menjatuhkan pilihan, membiarkan lelaki perantauan itu  mengisi hatinya yang sebetulnya sedang sepi. 

Nahas. Wak Enjang terpedaya, sehingga dia menyerahkan segalanya di malam yang tak pernah ia lupakan sampai hari ini. Ia terlena. Ia lupa bahwa telah melanggar pantangan. Wajahnya berubah seperti semula, menghitam dan berkerut-kerut. Darma yang terbangun di pagi hari tampak syock melihat dirinya tanpa busana tengah memeluk sosok yang berbeda. Sontak dia pergi meninggalkan Wak Enjang yang disangkanya jelmaan dari siluman. Wak Enjang meratap, menyesali diri. Dia berlari mencari buku resep yang ternyata telah sengaja dibakar oleh seseorang. 

Semenjak peristiwa itu, Wak Enjang merasa putus asa. Merasa tak berguna lagi, hingga dia putuskan mengakhiri hidup dengan menancapkan pisau tepat ke arah dada. 

"Aku tak mau, Wak. Aku takut." Sasmi berteriak histeris. 

"Kamu harus melakukannya, karena kamu sendiri yang meminta. Kamu yang memanggilku datang ke sini. Lakukan!"

Dengan perasaan campur aduk dan tatapan tajam dari Wak Enjang, akhirnya Sasmi pun melahap semua daging segar yang ada dalam bungkusan kain. Bau anyir dan rasa mual ditahannya hingga potongan terakhir. Terakhir, ia meminum  darah dalam gelas tanpa sisa. 

Walhasil, Sasmi mendapati wajahnya berubah seketika saat bercermin. Dia pun tersenyum bahagia. 

"Ingat, jangan langgar pantangannya! Kih kih kih." Perlahan suara Wak Enjang tak terdengar lagi, bersamaan lenyapnya sosok tua itu diantara gelap malam. 

 

Note : Cerita ini spin off dari 

https://risalahmisteri.com/detail/595/ilusi-mimpi-misterius#.YGyYo4SJbww.whatsapp

Karya dari Zie Qarisa Sasmi