Susuk Pemikat Istriku

ilustrasi / dreamstime

Aku tercenung menatap surat panggilan dari juru sita Pengadilan Agama di atas meja. Tanpa membaca isinya pun aku tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi haruskah berakhir seperti ini?

Tidak! Aku berseru sambil berdiri. Tanganku merenggut surat panggilan sidang dan menyobek-nyobek hingga menjadi serpihan. Aku tidak boleh menyerah. Aku harus mempertahankan rumah tanggaku, terutama mempertahankan Arini sebagai istriku.

Aku akan menjebak Arini. Aku tahu, Arini mulai suka dengan bosnya yang tergila-gila gara-gara susuk badaya yang dipakai. Hal yang sering terjadi bos suka dengan sekretarisnya. Bahkan andai Arini tidak memakai susuk, bosnya pasti susah mengalihkan tatapan dari pesonanya.   

Aku akan membuat Arini merasa bersalah sehingga mau mencabut gugatan cerainya, tekadku. Dengan mengendarai motor matic, aku bergegas menunju tempat kerjanya. namun begitu sampai di seberang kantor, mendadak muncul keraguan. Tidak mungkin aku masuk ke ruang kerjanya. Jika pun  diperbolehkan oleh security karena tahu aku suami Arini, tentu juga tidak akan menjumpai adegan yang diinginkan sebagai bukti adanya perselingkuhan di antara mereka.  

Aku menepikan motor di samping halte. Dari situ aku masih bisa mengawasi aktifitas di kantor. Siapa tahu bisa melihat Arini keluar lalu pergi bersama bosnya. Aku akan membuntuti. Bila perlu mencegatnya di tengah jalan.

“Wah punten, tumben duduk melamun di sini, Pak?”

Aku menoleh, menatap wajah yang sudah tidak asing. “Ngojek!” jawabku sekenanya.

“Wah-wah, Bapak bisa saja,” seru Piyan sambil tertawa. “Nunggu nyonya pulang ya? Bapak sekarang mah enak, istri kerjanya mapan.”

“Tahu dari mana kamu?” sentakku tidak senang.

“Semua orang di kantor sudah tahu kalau istri Bapak sekarang jadi sekretaris di perusahaan itu,” kata Piyan sambil menunjuk gedung di seberang.

“Mereka masih ingat aku?”

“Bukan cuma kami yang pernah jadi anak buah Bapak. Bahkan big bos tiap rapat selalu ngomongin Bapak ...”

“Ngomongin apa?” Rasa tidak sukaku mulai memuncak. “Utang kantor sudah aku lunasi. Aku juga tidak menuntut pesangon!”

Piyan tertawa. Dengan penuh kebanggaan ia menceritakan semua hal di kantornya, tepatnya bekas kantorku.

“Benar big bos ngomong begitu?”

“Masa saya bohong ke Bapak. Tenaga ahli yang baru, sering bikin kesalahan, tidak seperti Bapak dulu. Makanya big bos marah-marah terus dan selalu membanding-bandingkan dengan Bapak. Akhirnya orang itu mengundurkan diri. Sekarang posisinya kosong.”

Tiba-tiba Arini keluar dari balik gerbang. Ia berdiri di pinggir jalan. Sesaat kemudian tubuhnya hilang di balik angkot warna biru. Mengapa tidak bersama bosnya?

Aku termenung cukup lama hingga angkot itu hilang dari pandangan. Rupanya Piyan pun sudah pergi.

Apa yang sedang aku lakukan? Mengapa aku harus menjebak istriku sendiri? Aku benar-benar merasa tolol. Bukankah pangkal penyebab istriku pulang ke rumah orang tuanya dan mengajukan gugatan cerai karena aku tidak bekerja? Lagi pula jika aku bekerja, aku bisa menyuruhnya keluar dari tempat kerja sesuai keinginannya? Dengan demikian aku bisa memiliki Arini seutuhnya!

Susuk istriku memang luar biasa. Aku nyaris tidak bisa mengalihkan pikiran dari wajahnya. Pekerjaan di kantor sampai terbengkalai. Namun setelah satu minggu ditinggal, ternyata aku bisa mengendalikan diri. Aku hanya perlu fokus pada satu hal sehingga bisa melupakan untuk sejenak.

Sontak aku memutar stang gas hingga mencapai kecepatan maksimal. Aku tiba di depan pintu rumah orang tuanya tepat saat Arini turun dari angkot.

Arini menatapku sekilas lalu bergegas. Namun aku berhasil mencegatnyasebelum tangannya meraih pintu.  

“Besok aku akan kerja. Aku janji tidak akan mengulangi semua kelakuan burukku selama ini. Kamu juga tidak perlu susah payah melepas susuk supaya aku tahu jalan pulang selepas jam bubar kantor.”

Arini berbalik. Menatap wajahku. Ada guratan lelah di sana. Aku ingin sekali memeluknya namun takut mendapat penolakan.

Arini membuka pintu dan masuk sambil menangis. Membiarkan pintunya tetap terbuka. Aku masuk sambil mengucapkan salam.

“Papa...!” seru anakku sambil melompat ke pangkuan. Aku segera menangkap dan memeluknya dengan erat.

Note: Cerita ini mengubah ending cerita Pasang Susuk Pemikat demi Mempertahankan Rumah Tangga karya Ani Wijaya