Salah Tumbal

Ritual

 

Senyum lebar tampak di wajah Pak Sule. Sesekali dia memelintir kumis di atas bibir tebalnya. Bukti, bahwa kebahagiaan menyelubungi. Bagaimana tidak? Pundi-pundi uang semakin tebal, karena toko sembako juga warung makan miliknya selalu ramai pengunjung.

Ketika Pak Sule, asyik mengamati para pengunjung di warung makannya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan keramaian dari seberang jalan. Ternyata kecelakaan lalulintas terjadi, seorang wanita tewas seketika tergilas truk tronton. Sesaat wajah Pak Sule pucat, mengetahuinya, tetapi kembali senyum menghias wajah. Berlalu masuk ke rumah yang berada di belakang warung makan, seraya bersiul-siul riang.

"Kenapa, Pak? Kayaknya senang banget?" tegur Bu Imas---istrinya.

"Eeh, Ibu ... di depan warung makan kita ada yang kecelakaan," ucap Pak Sule, pelan.

"Siapa, Pak?"

Pak Sule mendekat ke arah istrinya, berbisik, "Sumi, tumbal kekayaan kita, Bu." Kemudian, mereka tertawa bersama.

"Wah, tambah kaya kita, Pak!" Bu Imas terlihat bersemangat mendengar berita yang harusnya menjadi kesedihan bagi orang punya hati, tetapi tampaknya Pak Sule dan Bu Imas berbeda. Mereka berbahagia di atas duka orang lain.

"Yoh, pastinya, Bu! Omong-omong, kamu sudah dapat lagi tumbal untuk Buto Ijo? Selasa depan pasti dia minta seperti biasa." Pak Sule bertanya hati-hati, khawatir ucapannya terdengar oleh Nunung---anak perempuan semata wayangnya.

"Ada ... Tari, janda desa sebelah. Dia sering hutang sembako, susah bayarnya. Nanti, aku ke rumahnya. Pura-pura tagih hutang sekalian ambil pakaian dalamnya, Pak." Mendengar ucapan Istrinya, wajah Pak Sule terlihat bimbang, lalu bertanya, "Enggak ada yang lainnya, Bu?"

Bu Imas menatap curiga ke arah Pak Sule, seakan meminta penjelasan atas pertanyaan suaminya itu. Namun, sebelum Bu Imas bertanya Pak Sule kembali berkata, "Rumah si Tari, jauh. Enggak ada yang dekatan?"

"Oooh, kirain ada apa, Pak. Biarin, sekalian  jalan. Hitung-hitung lihat tanah di desa sebelah, ada yang cocok atau tidak untuk usaha kita yang baru. Ya, sudah, Pak. Aku siap-siap dulu." Bu Imas berlalu meninggalkan Pak Sule yang berpura-pura sibuk untuk menutupi hatinya yang gundah.

***
Senja mulai tampak, warung makan milik Pak Sule, terlihat sepi. Para pekerjanya juga sudah pulang. Memang sudah kebiasaan, kalau setiap hari Selasa, tutup lebih awal. Lain halnya di rumah induk. Pak Sule, sibuk mempersiapkan hal-hal diperlukan untuk ritual pemujaan nanti malam.

"Pak, aku sama Nunung, mau ke pestanya Bu Lurah, dulu, ya ... pulangnya agak malam. Pakaian dalam Tari, ada di plastik hitam dekat kamar mandi," ucap Bu Imas, saat berpamitan pada Pak Sule.

Sepeninggal Istri dan anak, Pak Sule kembali disibukkan dengan kegiatannya. Ruangan kosong tempat ritual dipersiapkan. Altar bertaburan bunga setaman, juga aroma dupa menyeruak. Menambah magis malam ini. Setelahnya, Pak Sule mencari plastik hitam dimaksud Bu Imas. Akhirnya yang dicari ketemu, sehelai celana dalam berwarna merah menyembul dari tumpukan benda-benda yang berjejal.

Di depan altar, mulut Pak Sule komat-kamit membaca mantra, sebenarnya ada sedikit keraguan di hatinya harus menumbalkan Tari, karena sudah lama dia memendam rasa pada janda cantik itu, tetapi rasa takut pada Bu Imas menyebabkan tidak berani mengungkapkannya. Perlahan Pak Sule membakar celana dalam tersebut. Menaruhnya di atas altar hingga habis terbakar, tersisa abu hitam.

Wuus! 

Berembus angin kencang berbau busuk, diiringi suara tawa membahana, pertanda tumbal telah diterima. Lunglai, Pak Sule beranjak keluar setelah menyelesaikan semuanya. Namun, dia teringat sesuatu. Gegas, mengendarai sepeda motor menuju desa sebelah. Untuk terakhir kali ingin melihat pujaan hati. Mengumpulkan keberanian, Pak Sule mengetuk pintu rumah Tari.

"Pak Sule? Ada apa, ya, malam-malam ke rumah?" Tari tampak terkejut melihat kedatangan pria yang diam-diam dikagumi karena kesuksesannya.

"Maaf, Dek Tari ... cuma mau menanyakan, apa tadi istri saya ke sini?" Pak Sule menjawab asal, karena bingung harus berkata apa.

"Iya, Pak, tadi siang. Menagih hutang, tapi saya belum bisa bayar. Untung Bu Imas baik, katanya semua sudah dianggap lunas," ucap Tari malu-malu.

Setelah berbasa-basi sebentar, Pak Sule pamit pulang. Hatinya sedikit lega bisa melihat wajah rupawan Tari yang selalu menghiasi mimpi di malam hari. Di tengah jalan, motor Pak Sule mati mendadak. Mencoba menyalakan kembali, tetapi usahanya gagal. Tiba-tiba terdengar isak tangis memilukan. Pak Sule terperanjat saat mengetahui asal suara tersebut dari sosok perempuan yang muncul dari balik pohon.

"Ibu, ngapain di sini? Katanya mau ke pesta?" tanya Pak Sule kepada sosok yang diyakininya sebagai istrinya. Namun, bukannya menjawab, Bu Imas menatap penuh kesedihan. Darah mengalir dari sisi kepala, membuat wajahnya  menjadi mengerikan. Melihat hal tersebut, Pak Sule lari tunggang langgang ketakutan. Dipikirnya, itu Kuntilanak penunggu pohon.

Belum hilang rasa kagetnya. Pak Sule harus menghadapi kejutan baru. Nunung, berlari menangis menyambut kedatangannya di rumah. Tampak juga orang-orang berkumpul, bendera kuning terpasang di sisi pagar.

"Ada apa, Nung?" tanya Pak Sule bingung.

"Ibu, meninggal, Pak! Tadi saat menyeberang jalan tubuhnya keserempet motor dan kepalanya membentur batu besar," ujar Nunung, sambil menangis.

Tubuh Pak Sule lemas mendengar penjelasan Nunung. Apalagi saat melihat tubuh kaku istrinya dengan kepala hancur terbaring di ruang tengah. Para kerabat menghampiri dan menghibur Pak Sule, meminta agar segera jenasah Bu Imas dimakamkan malam ini.  Akhirnya selesai juga proses pemakaman Bu Imas. Meski ada sedikit kendala, karena lubang makam menjadi sempit serta mengeluarkan air, tetapi atas pertolongan Ustaz semua dapat teratasi.

Pagi harinya, Pak Sule termenung di dalam kamar. Memikirkan kejadian yang menimpa istrinya, lalu terbersit di pikiran. Terburu-buru dia menuju kamar mandi. Benar saja, ada bungkusan plastik hitam tersembunyi di belakang ember, berisi celana dalam dan bra berwarna biru. Sontak, senyum tipis menghias di bibirnya lalu mengucap, "Salah tumbal yang menguntungkan."

"Pak, ada yang cari di depan." Suara Nunung, mengejutkan Pak Sule yang masih termenung di depan kamar mandi. Pandangan Pria tersebut berbinar, melihat yang datang. Wanita rupawan, pujaan hati  memakai baju warna biru dengan senyum menggoda mengucap bela sungkawa.