Akal-akalan Santri

Ilustrasi Santri (Foto: Pesantren.id)

“Nul, Jainul dipanggil Mbah Kyai,” teriak Pi’i dari arah Ndalem.

Jainul yang tengah asyik bermain layangan di halaman belakang pesantren bergegas ke ndalem Mbah Yai. 

“Pegangkan layang-layangku,” pintanya pada Syafi’i yang berubah menjadi Sapi’i di lidah orang-orang sekitarnya.

Di depan ndalem, Jainul uluk salam dan berdiri menunggu. Tak selang lama, terdengar suara slot kunci dibuka. Mbah Yai muncul dari balik pintu kayu yang sudah nampak tua dengan warna cat yang memudar.

“Tolong belikan camilan di Warung Yuk Na.” Mbah Yai mengulurkan uang sepuluh ribuan. Kembaliannya nanti buatmu.

Nggih, Mbah.” Wajah bocah kelas 1 SMP itu nampak semringah. Ia uluk salam lantas berjalan dengan riang menuju warung Yuk Na yang berada di area kantin pondok.

Mbah Yai cuma menyuruh beli  camilan, tapi gak bilang camilan apa, Ia membatin dibarengi tangannya menggaruk bagian belakang kepala. Tiba-tiba sel-sel otaknya membangkitkan sebuah pikiran jahil. Mending aku beli pilus, batinnya.

Dalam perjalanan menuju ndalem Mbah Yai, Jainul membatin lagi, Gigi Mbah Yai pasti gak bakal kuat. Senyumnya menyungging nakal.

“Ini, Mbah.” Bocah bertinggi satu meter itu mengulurkan kantong kresek berisi 5 bungkus pilus.

Mbah Yai mengambil kantong dan membukanya, “Waduh, yo gak kuat gigiku kalau ini, Nul. Buatmu saja.”

Jainul menunduk menyembunyikan senyum nakalnya sembari menerima kantong kresek tadi. Yes, sesuai rencana. Untung dobel! Batinnya.

“Pi’i, ayok mayoran!” Jainul berkata dengan riang. Mayoran adalah istilah yang umum dipakai santri untuk kegiatan makan bersama. “Panggilen Sofyan, IIm, sama Rustam.”

“Siap, Bos!” Pi’i menyahut seraya bergegas menurunkan layang-layang.

“Tak tunggu di bawah pohon sawo, ya!”

Pi’i menunjukkan jempolnya.

***

Sebagaimana biasa, setiap Kamis malam Jumat sehabis membaca sholawat simtudduror, Mbah Yai memberi tausiyah sebelum acara penutup doa dan makan bersama. Walaupun istilah tausiyah, alih-alih memberi ceramah seperti umumnya mubaligh, Mbah Yai lebih suka menyampaikan cerita-cerita kehidupan ulama dan santri-santrinya. Kadang sedih, kadang lucu dan jenaka, serta tak jarang penuh pesan kebajikan.

“Dulu pernah ada santri lucu namanya Sutomo. Biar lebih bagus, oleh kyainya namanya ditambahi Ahmad. Suatu kali ketika mau lomba adzan, karena kebiasaan menyingkat Ahmad menjadi A titik seperti nama teman-teman lainnya yang memiliki awalan Ahmad, tanpa sadar panitia lomba ketika memanggil namanya jadi Asu Tomo.”

Santri-santri seketika tergelak. 

“Begitulah ... yang umum dan ngetrend itu belum tentu baik. Jadi tetap harus bisa menyaring apa pun dan menyesuaikan.” Mbah Yai memberi Penjelasan.

“Di lain hari Sutomo disuruh Kyainya mengantarkan surat ke rumah salah satu putranya. Selain diberi uang saku, Sutomo juga dipinjami onthel Kyainya. Nah, Sutomo tahu kalau putra Kyai itu orangnya dermawan. Menjelang sampai tujuan, Sutomo mengempesi ban sepedanya.

Sesampainya di tujuan, setelah menyerahkan surat, putra Kyainya bertanya kepada Sutomo tadi ke situnya naik apa? Dijawab oleh Sutomo pakai onthel Kyai dan sengaja dia taruh di depan pagar karena bannya kempes. Putra kyainya pun bertanya kembali apa sudah dikasih uang buat jaga-jaga kalau ada masalah seperti sekarang? Sutomo bilang tidak dikasih. Sutomo tidak merasa berbohong, sebab ia berpikir sedikit nakal. Menurutnya uang yang dipegangnya sekarang itu uang saku, bukan uang buat membetulkan ban atau hambatan lain. 

Putra kyainya pun kembali ke dalam mengambil uang untuk diberikan ke Sutomo. Namun, karena saking dermawannya, jumlah uang yang diterima Sutomo lebih dari yang dibayangkan. Bukan sekadar buat menambal ban, tapi lebih dari cukup untuk mengganti ban dalam. Kontan saja hati Sutomo girang bukan kepalang. Lumayan habis ini bisa mampir warung beli nasi rawon, pikirnya.

Sutomo lalu pamit dan segera menuntun sepedanya ke tambal ban terdekat. 

“Kang, mompa ban berapa?”

Tukang tambal ban mengamati onthel tua yang dibawa Sutomo. 

“Gratis,” jawabnya.

Senyum Sutomo kian lebar. Sungguh hari yang mujur, pikirnya.

Namun, ketika tengah dipompa, ada suara angin yang keluar lumayan keras keluar dari ban. 

“Waduh, sobek ini. Harus ganti ban.”

Sutomo terperanjat. Bagaimana bisa?

“Masak, Kang?” Sutomo berupaya mempertegas berharap ada yang keliru.

Ban sepedanya pun dibongkar. Benar saja ada sobekan yang cukup parah di kedua bannya. yang seketika membuat Sutomo beristighfar. Setelah dibetulkan dan ditotal, biaya mengganti kedua ban dalam yang sobek pas dengan uang yang dipegangnya. Alhasil, alih-alih mendapat untung, Sutomo malah tidak mendapat apa-apa. Untungnya, sepeda masih bisa dikendarai dengan selamat sampai pondok. Walau begitu, sepanjang perjalanan Sutomo berkeringat dingin dan terus menerus mengirim fatihah ke Kyainya agar tidak mendapat kualat yang lebih banyak.”

Seusai bercerita, Mbah Yai  melanjutkan acara malam itu dengan doa dan menutupnya dengan makan bersama seperti biasa tanpa tahu bahwa Jainul tengah berkeringat dingin akibat mendengar kisah tadi.

Malang, 06 April 2021