Lari dari Zombie

Pixabay/5187396

"Jika kau bersikeras ingin kubiarkan masuk ke sini, tanggalkan dulu semua pakaianmu, lalu putarkan badanmu perlahan!”

Laki-laki di luar pagar segera menuruti perkataanku. Sementara itu, tak jauh di belakangnya ada dua zombie yang berjalan menuju ke arahnya. Setelah kupastikan bahwa tak ada satu pun bekas gigitan di setiap jengkal tubuhnya, aku segera membukakan gembok pengunci rantai di pintu pagar. Dia lari masuk ke dalam pagar, lalu segera kututup kembali pintu dan menggemboknya bertepatan dengan zombie menjangkau pagar ini.

 “Terima kasih,’ ucapnya terengah-engah seraya mengenakan kembali celana cargo hitam dan singlet putihnya kembali. 

“Ayo masuklah ke rumah! Bersihkan dulu badanmu yang penuh debu menyedihkan itu.”

Setelah membersihkan tubuh di kamar mandi, dia menghampiriku yang tengah menuang susu full cream kemasan kotak besar ke dalam gelas.

“Santaplah sandwich di meja itu dan minumlah segelas susu ini. Kau tidak akan mendapat makan dan minum lagi hingga besok siang. Persediaan makananku hampir habis. Besok kau harus membantuku mencari makanan.” 

 “Dari mana asalmu?” tanyaku lagi.

“Tidak terlalu jauh, sekitar lima kilometer dari sini,” jawabnya sembari lanjut mengunyah potongan sandwich dalam mulut, lalu menelannya.

Dia menceritakan bagaimana ibunya yang telah pikun meninggal karena tergigit zombie dan tentang adik perempuannya yang entah pergi ke mana. Kondisiku sebenarnya tak jauh beda dengannya. Aku sudah tak memiliki orang tua karena digigit zombie ada hari-hari pertama wabah itu sampai ke pulau ini.

Aku sebenarnya sudah menduga bahwa wabah itu pada akhirnya akan sampai kemari cepat atau lambat. Aku bahkan membangun pagar kawat galvanis dengan rangka besi yang kokoh beberapa hari setelah melihat berita di televisi tentang adanya wabah zombie pertama kali di sebuah negara yang masih satu benua dengan negara ini. Hampir semua orang menertawakan apa yang sedang kulakukan. Mungkin mereka mengira kalau aku ini sudah tak waras.

“Namaku Sal.” Kataku sembari menyodorkan jabatan tangan.

“Namaku Raf.” Ia membalas jabatan tanganku.

Keesokan harinya kami berdua menyusun rencana masuk ke bekas mini market terdekat untuk bisa mengambil cadangan makanan sebanyak yang kami bisa. Aku memberikan Raf sebaskom air yang telah kucampur dengan tumbukkan daun kemangi dan bunga lavender.

“Oleskan air itu ke sekujur tubuhmu. Aku telah mencoba cara ini dan berhasil membuat zombie tidak bisa mendeteksi bau manusia-ku.”

Zombie-zombie memiliki pendengaran yang tidak terlalu bagus, dan penglihatan jarak jauh yang buruk, tetapi sangat kuat dalam hal penciuman, terutama terhadap bau manusia.

Pagi beralih siang. Kami berdua telah bersiap dengan bawaan yang sama masing-masing, yakni tombak di tangan, pedang dengan sarungnya yang dikaitkan ke punggung, serta sebuah tas ransel. Mini market yang sudah tidak berpenghuni jaraknya sekitar satu kilometer dari sini. Kami memilih untuk berjalan kaki saja, alih-alih mengendarai sepeda motor.

Sesampainya di mini market yang kami tuju, kami melakukan semua sesuai rencana. Aku masuk ke mini market dan Raf berjaga di depan. Saat membuka pintu, aku mendapati ada satu zombie di dalam. Aku jalan berjinjit perlahan ke belakang zombie yang tengah berjalan tak tentu, lalu menombak ke arah jantung. Sialnya aku tidak tepat mengenai sasaran. Zombie berbalik arah lalu tangannya hampir mencakar tubuhku. Aku berhasil mengelak, lalu menebas lehernya dengan pedang hingga terpotong. Segera saja kutusuk tepat di jantungnya.

Setelah memastikan bahwa tak ada makhluk yang kubenci itu lagi, aku segera mengemas beberapa bahan makanan kering, makanan ringan, minuman dan barang-barang lain yang sekiranya kuperlukan hingga dua ransel terisi penuh. Kemudian aku segera keluar menghampiri Raf dan tampak juga ada satu zombie yang tergeletak penuh darah di dekatnya.

“Kerja yang bagus, Raf,” ucapku.

“Kau juga, Sal.” Raf mengangguk.

Kami segera berlari ke arah pulang dan sempat dikejar oleh beberapa zombie. Mungkin efek aroma dari air ramuan yang kusiapkan tadi pagi telah hilang. Aku kini menyadari bahwa ramuan itu ternyata tak cukup lama menyamarkan bau tubuh manusia.

Akhirnya sampai juga di dalam rumahku dengan kondisi napas yang terengah-engah. Kami lalu tertawa dan saling beradu telapak tangan, merayakan keberhasilan. Cadangan makanan yang kami bawa nampaknya cukup untuk satu minggu ke depan.

Malam harinya aku dan Raf berbagi cerita tentang banyak hal, ditemani dengan dua kaleng bir hasil kerja sama kami tadi siang. Dia cukup menyenangkan untuk dijadikan teman berbicara. Kami melakukannya hingga larut malam dan sama-sama tertidur di ruang tamu.

Pagi hari saat aku terbangun, kudapati tanganku dalam keadaan terikat ke belakang, kakiku juga diikat, dan mulutku dilakban.

“Apa-apaan ini, Raf? Kurang ajar! Apa yang kau lakukan?” Aku mengumpat meski tidak terlalu jelas karena lakban yang merekat erat di mulutku. Raf tampak tak peduli dan tak memandang ke wajahku.

Dia lalu menghampiri dan mengangkat tubuhku dan menaruh di punggung kanannya. Lalu membawaku ke teras dan membungkus tubuhku dengan karung besar yang cukup untuk menutupi seluruh tubuhku, lalu mengikatnya. Dia mengangkat dan meletakkan tubuh tak berdaya ini ke atas motor, lalu melajukan motor ini. Entah dia akan membawaku ke mana. Sekitar setengah jam berlalu, kemudian motor terasa berhenti.

“Si rambut landak itu datang tuh, Bos.”

“Hahahaaa mau apa dia?”

Terdengar suara dari beberapa orang laki-laki yang tak kukenal.

“Aku telah membawakanmu seseorang sebagai ganti untuk dimasukkan ke kerangkeng pemancing zombiemu itu,” ucap Raf.

“Licik juga kau rupanya, mengorbankan orang lain demi adikmu,” kata salah seorang laki-laki bersuara serak dan berat sambil terkekeh.

“Aku juga akan memberikan satu tas berisi makanan sebagai bonusnya,” ujar Raf.

“Pintar juga kau bernegosiasi, Bocah Tengik. Baiklah. Aku setuju.”

Karung yang membungkus tubuhku dibuka. Tampak aku berada di sebuah padang rumput. Di sekitarku ada Raf dan di hadapannya berjarak kurang lebih dua belas meter ada tiga orang laki-laki berwajah sangar yang membawa pistol, tak jauh dari situ ada sebuah motor sport, sebuah mobil jeep atap terbuka, dan yang membuatku terkejut ada perempuan muda  berpenampilan menyedihkan berada di dalam kerangkeng besi yang di sisinya terdapat tiga tubuh kaku zombie tersungkur penuh darah.

Salah seorang dari para laki-laki itu kemudian membuka kerangkeng dan mengeluarkan adik perempuan Raf, lalu membawanya ke arah mendekat ke sini. Raf bergegas menukarkan tubuhku beserta tas berisi makanan dengan adik perempuannya

Raf dan adik perempuannya segera pergi mengebut dengan menggunakan motor milikku.

“Sialan kau, Raf,” teriakku yang tak terlalu jelas dengan mulut terlakban.

Tampak salah seorang dari laki-laki sangar itu melajukan motor dan mengejar Raf yang telah melesat cukup jauh. Setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi pada mereka. Aku juga tidak peduli lagi.

Laki-laki bertubuh tinggi kekar menarik tanganku, membuka lakban di mulut ini dan melepas tali di kaki serta tanganku sembari tetap menodongkan pistol yang siap ditarik pelatuknya. Tubuhku didorong ke dalam kerangkeng, lalu digemboknya kerangkeng ini.

“Aku baik hati kan sudah melepaskan ikatanmu,” kata seorang laki-laki bertubuh kekar.

“Anak muda, semoga kau menikmati tinggal di kerangkeng ini. Besok pagi kami akan menjengukmu dan menembaki zombie yang akan mengelilingi kerangkengmu ini untuk bersenang-senang,” ucap laki-laki satunya lagi sambil terbahak. Mereka berdua lalu pergi dengan mobil jeep beratap terbuka itu.

Setelah mereka pergi, aku berusaha membuka gembok kerangkeng menggunakan klip kertas yang biasa kugunakan untuk membobol pintu toko makanan ataupun mini market. Gembok yang hampir berkarat ini sangat susah untuk dibuka. Beberapa jam sudah aku berusaha dan belum membuahkan hasil. Terlihat ada satu zombie mendekat. Aku berhenti membuka gembok supaya tanganku tak menjadi sasaran gigitannya.

Beberapa saat  baru teringat bahwa aku menyimpan sebuah pisau lipat kecil dalam sepatu. Aku langsung mengambil pisau itu dan segera menusukkannya ke arah zombie berkali-kali. Nyaris saja tanganku tertarik dan hampir tergigit, hingga akhirnya ujung pisauku menembus ke jantung zombie yang tergeletak seketika.

Sore hampir tiba, akhirnya gembok berhasil kubuka. Aku lari sekuat tenaga sebelum banyak zombie berdatangan lagi. Hampir setengah jam berlari menjauh dari padang rumput ini hingga sampai di sebuah jalanan aspal. Tak jauh dari situ aku mendapati sepasang tubuh manusia yang tengah dicabik dan digigit oleh beberapa zombie. Sepertinya aku mengenali dua tubuh itu, hanya saja aku tak memedulikannya dan melanjutkan langkah seribu menuju rumahku.

Setengah mati aku berlari hingga sampai di rumah. Kukunci pagar kembali dan segera masuk ke rumah. Mataku terbelalak mendapati isi rumah yang berantakan.