Di Balik Sandal Kyai

Sumber gambar: https://ekosuper.wordpress.com/

“Apa hal yang hilang dari pendidikan formal saat ini?”

Ketika sedang santai di pondokan sawah bersama Marzuki, dia tiba-tiba melempar pertanyaan itu. Aku yang baru masuk pondok selepas lulus SMA jadi memutar kepala. Alih-alih mencari jawaban aku justru bertanya balik, “Jika dikatakan ada yang hilang, memangnya yang utuh bagaimana?”

“Kamu sudah sebulan di sini, kan? Kira-kira apa yang kamu rasakan?”

Mataku memandangi domba-domba yang sedang berkumpul di lapangan sebelah barat ladang, tetapi pikiranku berkelana dari satu kenang ke kenang lain. Mencari sebuah keganjilan dari pengalamanku selama bersekolah formal.

“Aku menyerah,” jawabku sembari tetap melemparkan pandangan mengawang jauh ke arah lapangan.

“Kamu pernah memerhatikan kebiasaan Ustadz Ipul setiap turun dari masjid tidak?”

“Oh kebiasaannya membetulkan sandal Mbah Yai, ya?”

“Jeli juga kamu.”

“Memang apa istimewanya membetulkan sandal Mbah Yai?”

“Itulah ….”

Belum sempat Marzuki memberikan jawaban, terdengar dari kejauhan adzan dhuhur berkumandang. Seketika lelaki berambut keriting mirip Rangga itu bangkit. 

Aku pun mengikutinya dari belakang.

“Hari ini jadwalku adzan. Ayo balik.”

 

***

Malam harinya, setelah sholat Isya berjamaah di masjid, santri-santri berpencar mencari sudut ruang paling nyaman untuk mulai melancarkan hafalan. Begitu pula denganku. Bedanya, jika santri-santri lain kebanyakan sudah menghafal kitab nahwu sharaf, aku yang mengambil ilmu Quran menghafalkan nadzom kitab tajwid dasar Syifaul Jinan. 

Aku bergegas menuju teras dan duduk di sebelah bedug. 

Ketika hendak mulai melancarkan hafalan, aku melihat Ustadz Ipul berjalan ke arah masjid. Seperti biasa, sebelum masuk masjid, dia merapikan posisi sandal Mbah Yai. Seketika aku mengingat percakapan dengan Marzuki siang tadi.

“Kok bengong, Lul? Sudah siap maju kamu?”

Aku terperanjat. Ustadz Ipul membuyarkan lamunanku. 

“Be-belum, Ustadz,” jawabku sembari tersenyum malu-malu. Ustadz Ipul lantas masuk ke masjid sembari menggelangkan kepala.

Aku melanjutkan menghafal, ketika Ravi datang dan bersila di sampingku. Aku bersandar ke tembok menghadap ke timur, sedangkan dia menghadap ke barat dan menempelkan kepalanya ke tembok masjid. Lantas kudengar berulang-ulang lelaki yang seumur denganku itu merapalkan surah al-fatihah. Aku menengok dan bertanya, “Kamu hari ini setoran Fatihah, Rav?”

“Ha?” Dia menoleh ke arahku. “Enggak.”

“Terus?”

“Aku tawasulan, ngikat hafalan, biar kalau maju nanti bisa lancar.”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Banyak sekali hal-hal baru yang kutemui di pesantren ini yang menurutku tidak masuk akal. Setahuku Ravi sekarang hafalan Juz 11. Dia mondok dari lulus SD. Kenapa bukannya melancarkan hafalannya juz 11, tapi malah membaca fatihah yang disebutnya tawasulan itu?

***

Pukul sepuluh hingga dzuhur adalah jam bebas. Namun, tidak bagiku. Sebagai santri gratisan yang mengabdi di pondok, selain menjalankan tugas utama mengawasi kambing hingga menjelang ashar nanti, beberapa hari terakhir aku mendapat tugas tambahan mengawasi tanaman lombok. Maklum, akhir-akhir ini lombok sedang mahal. Pencurian lombok sedang marak. Walau sebenarnya aku tak yakin siapa yang berani mencuri tanaman lombok Mbah Yai, kecuali takut kualat. Di samping itu, sudah masyhur jika Mbah Yai panen, warga sekitar pasti kecipratan hasilnya.

Marzuki datang sembari menenteng tumblr berisi kopi dan tas slempang kecil yang berisi Al Quran. Sebagaimana biasanya, dia akan mengobrol denganku sebentar, sebelum khusyuk duduk di pondokan sawah dan bermuraja’ah dan menyempatkan ngobrol lagi menjelang dhuhur sebelum kembali ke pondok.

Setelah uluk salam dan sedikit basa-basi, aku pun langsung menanyakan soal tawasul yang dilakukan Ravi semalam.

“Oh tawasul.” Lelaki berkopyah hitam itu diam sejenak. “Sebenarnya itu masih ada hubungannya dengan yang kita bicarakan kemarin soal sandal Mbah Yai. Jadi gini, ilmu itu tidak hanya bisa ditangkap oleh otak, tapi juga oleh hati. Kebanyakan tempat belajar sekarang terutama sekolah-sekolah formal hanya fokus pada asupan otak. Padahal hati pun harus terisi. Seperti tawasul itu, mengirim fatihah kepada ulama-ulama terdahulu yang sejatinya jika dirunut dalam jalur keilmuan kita bagaikan rangkaian gerbong kereta yang membawa kita pada sisi Rasulullah secara keilmuan dan juga fatihah kepada orang tua dan guru adalah sebagai sarana berterima kasih atas ilmu yang mereka berikan kepada kita dan wujud kecintaan kita terhadap mereka. Lalu dari semua itu, lahirlah keberkahan ilmu yang senantiasa bermanfaat dalam hidup kita.”

Aku menyimak dengan penuh antusias.

“Semua olah batin itu memberi cahaya pada hati kita, sehingga tanpa sadar kita akan diberi kemudahan dalam menerima dan memahami ilmu. Selain tawasul, apa yang dilakukan oleh Ustadz Ipul adalah salah satu bentuk ikhtiar batin mencari keridhaan guru sekaligus pendidikan soal akhlak, adab, atau pun etika dalam mencari ilmu.

Semua itu menjadi ajaran dasar yang umum di pesantren. Namun, hal-hal tersebut jarang sekali terlihat di sekolah formal. Umumnya lembaga pendidikan formal hanya menjadikan nilai sebagai acuan dan prestasi duniawi yang menjadi kebanggaan. Bahkan untuk soal menghormati guru, semakin ke sini rasanya nilai-nilai sopan santun semakin terdegradasi.”

Aku manggut-manggut terkagum oleh penjelasan Marzuki. Seketika aku berencana nanti setelah Isya akan ke kamarnya untuk minta diajari tawasul.

Malang, 05 Maret 2021