Dering Pembuktian

Foto : Genpi.co


Pukul 21.00 WIB, kupacu kuda besi matic berwarna merah marun yang selalu setia menemani selama dua tahun ini. Rintikan air langit masih saja turun, meski sudah lebih dari tiga jam yang lalu membasahi seluruh permukaan bumi. 

Jika bukan karena tuntutan pekerjaan sebagai penyiar radio, takkan sudi aku berbasah-basah di tengah jalan, hingga menggigilkan tubuh tipis semampai ini.

Apalagi, aku seorang wanita. Tak seharusnya malam-malam begini berkeliaran di tengah jalan. Dulu, Ibuku bahkan ngomel terus-terusan saat meminta restu menjalani profesi ini. Dasar aku gadis keras kepala, tetap saja bersikukuh meski mendapat penolakan. Hampir setahun berlalu aku tetap berkarier sebagai penyiar. 

Butuh sekitar 30 menit, untuk mencapai gedung stasiun radio tempatku siaran. Jadwalku kali ini pukul 22.00 WIB, menggantikan Ano, sahabat sesama penyiar. Lelaki centil yang suka menggoda tentang hal-hal horor di dalam kantor. Aku, Melly Agustin, generasi milenial yang tak pernah percaya dengan hal-hal mistis macam begitu. 

Sesampainya di gedung, bergegas aku memarkirkan motor dan mencopot jas hujan yang sedari tadi terasa membatasi gerak. Entah, ada perasaan tak enak melihat keadaan sekeliling parkiran. Sepi, sunyi, tak seperti biasanya. Ah, mungkin hanya perasaanku saja.

Kulangkahkan kaki memasuki ruang kantor. Wajah masam Ano sudah menyambutku dari dalam. Ia menunjuk jam dinding sembari sibuk berbicara depan mikropon. Aku mengernyit, ternyata tinggal empat menit lagi. Kenapa bisa selama itu aku di jalan? Padahal tak ada kemacetan atau apa pun yang menghalangi selain gerimis kecil saja. Ano melambaikan tangan cepat untuk bersiap menggantikan posisinya. Putaran lagu terakhir dari Ano sudah siap untuk memberi jeda. Ia mendengus, berdiri lalu bersiap memakai tas ransel miliknya. 

"Mel, aku pamit. Jangan lupa untuk selalu waspada dan hati-hati." Godanya seraya terkikik halus. Menggoyang-goyangkan tangannya ke atas seperti binatang sedang mengaum sembari menggeram. Guyonan jadul, seperti saat menggoda anak kecil. 

"Apa'an, sih? Pulang sana! Jangan kemaleman, entar mbak kunti ikutan nebeng, loh!" balasku sembari mengibaskan tangan untuk mengusir. 

Ia menunduk, lantas terkikik kembali dan berpaling pergi begitu saja. Menyisakan pertanyaan dalam otak, apa yang ia rencanakan kali ini? Sering kali ia mengagetkanku dengan barang atau apa pun yang membuatku berjingkat ketika dia telah pergi. 

Seperti kemarin, ia sukses mengerjaiku dengan menaruh boneka seram dalam kardus CD lagu. Bahkan, aku sampai marah dan teriak kencang saat siaran, membuat semua pendengar berebut menelepon, sekadar ingin tahu apa yang terjadi. 

Pernah pula, Ano menggantung kain putih depan pintu kantor. Aku hampir pingsan kala membuka pintu, melihat kain panjang itu berkibar melambai di depan mata. Jantung rasanya mau copot, tubuh seketika ambruk bersimpuh memegang dada. Beruntung aku tak punya riwayat penyakit jantung dan hipertensi, bisa-bisa terkena stroke jika tiap hari dihadapkan keusilan Ano si jahil. 

Kuawali siaran dengan memutar lagu dari Imagine Dragons - Bad Liar. Headset sudah terpasang di kepala, mikropon juga sudah siap. Tepat di detik lagu selesai, kusapa pendengar setia BC FM dengan suaraku yang terkenal nge-bass tapi renyah. 

"Hai ... hai ... BC-ers, Melly sudah ada di sini menggantikan si gesrek Ano, yang akan menemani malam kalian dengan topik yang pastinya selalu kalian nantikan. Yah, tepat sekali, hari ini adalah waktunya 'Senin Curcol' kalian boleh curhat apa saja tentang kegalauan hati, daripada dipendam terus dan jadi penyakit, mendingan curcolin aja di sini bareng Melly, siapa tahu Melly bisa kasih solusi untuk permasalahan kalian, apa pun itu boleh ya ... Tentang pacar, keluarga, keuangan, atau mungkin mantan? Boleh saja. Hehe ... Aku tunggu telepon kalian di nomor biasa ya, 03154404. Melly tunggu sekarang juga. Okay!"

Kuputar kembali lagu Bad Liar sebagai backsound untuk menunggu dering telepon dari pendengar. Tiga puluh detik, akhirnya telepon berdering. Kubuka line telepon melalui headset dan segera menanyakan siapa dirinya. 

"Halo, selamat malam BC-ers, siapa nih?" Lima detik, hanya kudengar gemeresak dan sedikit dengingan saja. 

"Hey, kamu ini mau ngerjain juga kayak Ano?" dengkusku kesal. 

"Ma-malam ... Melly, maaf aku grogi." Suaranya begitu serak dan berat, seperti habis menangis. Bahkan suara tarikan ingusnya begitu kentara.

"Kamu kenapa, Sayang? Sini-sini curhatin aja bareng Melly." Isakan itu masih kudengar jelas, terdengar embusan napas pelan seolah mempersiapkan hati. 

"Gini, aku nggak mau nyebutin nama dulu. Aku pengen ada yang denger tentang masalahku ini. Syukur-syukur bisa didengar langsung sama yang bersangkutan."

"Oke, Melly hargai privasi kamu. Semoga apa yang kamu pendam ini bisa menemui titik terang. Silakan!" Kubuat suaraku sehalus mungkin agar ia bisa lebih rileks. 

"Baiklah, aku mulai. Sebenarnya aku adalah seorang gadis 21 tahun yang bekerja sebagai waiters di sebuah kafe daerah kota Sidobejo sini juga. Nggak jauh dari gedung radio BC FM. Dan, aku melakukan sebuah kesalahan yang takkan pernah kulupa sepanjang hidupku."

"Apa itu?" Kupotong ceritanya untuk mencairkan suasana. 

"Hm ... aku ... menjalin cinta terlarang dengan bosku, padahal dia sudah berkeluarga. Bahkan istri dan anak-anaknya begitu dekat denganku. Yah, pelakor. Itulah aku, aku benar-benar malu, Mel ...." Suara isakan itu kembali terdengar halus. 

"Tunggu-tunggu, Melly boleh kasih pendapat ya ... Sebenarnya kasus seperti ini sering kali kita dengar, dan aku sebagai wanita, takkan mungkin menyalahkan kamu begitu saja. Karena semua yang terjadi, pasti ada sebab dan akibat. Jika salah satu dari kalian nggak buka hati, mana mungkin bisa terjadi, bener nggak, sih?"

"Iya, Mel. Tapi aku merasa udah ngehancurin keluarga mereka. Dan beberapa hari lalu, hatiku semakin patah, saat bosku memutus sepihak hubungan kita. Sekarang aku yang hancur." Ia mulai menangis, tersedu. 

"Jadi, sekarang kamu maunya gimana? Kamu masih muda, loh. Masih punya masa depan, move on dong! Cari lelaki lain untuk menghapus kenangan tentangnya," tuturku sok bijak. 

"Nggak bisa, Mel. Asal kamu tahu, aku lagi hamil!" Mataku membulat seketika mendengar penuturannya. Hampir tak ada kata-kata yang ke luar dari mulutku, terlalu rumit. 

"Kemarin, seorang temanku juga mengalami hal yang sama denganku. Dan dia ... bunuh diri." Aku membekap mulut, takut jika dia sampai melakukan keputusan fatal itu juga. 

"Hey, kamu. Itu adalah stupid solutions, jangan sampai kamu merugikan diri dengan hal yang seperti itu, please ... bukankah kamu punya keluarga, atau teman? Ingat mereka! Masih banyak yang bakal sayang sama kamu."

"Sebenarnya dia tidak benar-benar bunuh diri, hanya dibuat agar terlihat demikian."

"Apa maksudnya?" Kueratkan headset dengan kedua tangan untuk bersiap mendengar. 

"Aku yang lihat dengan mata kepala sendiri. Malam itu, lelaki itu datang ke kamar kosnya. Ia masuk dengan memakai sarung tangan karet. Katanya, tangannya sedang sakit dan melepuh. Lantas, ia membuatkan si gadis mie instan dan segelas susu hangat lalu memberikannya dengan senyuman termanis. Setelahnya, ia menyuruh si gadis tidur dan membiarkan lelaki itu membereskan meja makannya. Aku melihat lelaki itu membersihkan seluruh tempat, bahkan kursi tempatnya duduk. Juga gelas dan piring serta wastafel secara detail. Kemudian ia pergi begitu saja."

"Selanjutnya, apa yang terjadi?" tanyaku penasaran. 

"Coba kamu ketik di komputer, kasus tiga hari lalu. Tentang mayat wanita di kamar kos Gang Anggrek," cecarnya menyuruhku. Langsung saja jari ini lihai menari di atas keyboard dan menelusuri pencarian. Dapat! 

"Sudah ketemu, aku bacakan ya ... Ditemukan mayat gadis bernama Siska, 21 tahun. Pramusaji sebuah kafe meninggal di kamar kosnya. Dugaan polisi, dia meninggal karena bunuh diri, sebab ditemukan sebotol cairan pembasmi nyamuk di sebelah ranjang, dan dari mulutnya mengeluarkan busa." Aku terperangah. Menutup pencarian dan kembali fokus pada telepon. 

"Kenapa kamu nggak lapor polisi, kalau kamu tahu?" Ia terdiam lama. Bahkan, berkali-kali kupanggil tak ada jawaban. Entah, hawa dari AC terasa semakin dingin membuatku bergidik. Terasa ada sesuatu yang meniup tengkuk. Kuusap belakang kepalaku itu untuk mengurangi kengerian. Aku bahkan baru ingat, ini malam Selasa Kliwon. Kata ibuku, malam Selasa Kliwon lebih angker dan keramat dibandingkan malam Jumat Kliwon. 

Kling-kling! 
Sebuah pesan masuk di ponsel, chat singkat dari Ano tertera di bar notif yang menyala. Kuusap layar smartphone-ku dan membacanya. 

[21/02/2021, 22:30] Ano Gesrek : Mel, aku lagi denger siaran kamu sekarang. BTW, kabel telepon udah kamu sambungin? Tadi aku cuman bercanda copot itu kabel, sorry ya ... hehe ....

Dahiku mengernyit. Seketika kutarik kabel telepon yang menjulur di bawah, terasa begitu ringan. Kuangkat benda panjang itu dengan sebelah tangan, aku melongo melihat ujung kabel yang terputus, tak menancap. Napasku mulai memburu, pikiranku kacau. Bagaimana bisa? 

Suara gemerasak di headset menyadarkanku bahwa aku masih terhubung dengan gadis penelepon itu. 

"Mel, namaku Alina Siska Maharani. Terima kasih sudah mau mendengar curhatku." Deg, jantungku terasa mau copot. Napasku tersengal kembang kempis. Terdengar suara terkekeh halus dari sana, lalu diakhiri suara dengungan yang memekakkan telinga. 

Ngiiinggg ...!

 

 

Tamat