Tetralogi Kisah Air & Api, Cara Baru Menikmati Novel “Sejarah”

Ilustrasi/Ist

Menulis novel dengan banyak tokoh utama, beragam tempat dalam rentang waktu panjang, belasan tahun, membutuhkan konsentrasi prima. Beberapa penulis menggunakan outline sebagai pengingat alur cerita dan karakter tokoh. Meski tetap saja terbuka kemungkinan, alur yang sudah dibuat berkembang di tengah cerita.

Namun dalam menulis Tetralogi Kisah Air & Api - Lahirnya  Air dan Api, nampaknya Mim Yudiarto tidak menggunakan outline. Cerita dibiarkan mengalir dan menemukan bentuknya sendiri. Penulis memanfaatkan kredo “kebebasan fiksi” untuk mengabaikan runutan sejarah.

Misalnya perang antara Majapahit dan Blambangan yang berdasar sejarah tidak ada. Perselisihan antara Arya Wiraraja dengan Raden Wijaya tidak sampai menyebabkan peperangan. Blambangan “ada” setelah Majapahit runtuh.

Demikian juga raja Galuh Pakuan,  Prabu Linggabuana. Kehadirannya melenceng dari sejarah karena di masa Linggabuana berkuasa, Majapahit sedang mencapai puncak kejayaannya sehingga tidak ada pemberontakan di sekitar pusat kerajaan. Jarak Trowulan ke Blambangan hanya selemparan batu.   

Dengan mengabaikan sejarah, Mim Yudiarto memiliki keluwesan dalam bercerita. Penulis menciptakan dunia sendiri dan bebas memasukan tokoh serta kisah yang tidak mengikuti “hukum alam”. Dewi Puspita boleh saja mencintai Arya Dahana yang jauh lebih muda.

Kehadiran Dewi Mulia Ratri yang membela Majapahit dalam perang melawan Blambangan padahal dirinya dari Pasundan tidak perlu dirisaukan. Ini dunia Mim Yudiarto.

Dengan mengabaikan sudut sejarah – yang kadang juga melenceng  karena ditulis oleh pemenang – pembaca akan leluasa menikmati petualangan Dewi Puspita, Arya Dahana, Dewi Mulia Ratri dan banyak tokoh lainnya. Menikmati gemencring senjata dan adu kesaktian yang tak henti dari bab pembuka hingga akhir bab 17.

Penggalan sajak yang ada di teras tiap bab, menjadi oase tersendiri. Sajak itu juga dapat dijadikan “pintu masuk” untuk memahami kisah yang tersaji dalam bab tersebut.

Namun, meski diberi penanda tempat  dan waktu di awal paragraf pembuka, lompatan antar bab masih terasa kaku. Pembaca dipaksa mengingat kembali karakter tokoh yang dihadirkan dalam bab baru karena terlalu lama jeda bahkan sudah terlewat beberapa bab.

Bagi penggemar cerita silat, intrik kerajaan dan petualangan dunia Timur, Tetralogi Kisah Air & Api - Lahirnya  Air dan Api layak dimasukkan dalam daftar bacaan wajib.