Terperangkap Kenangan Dalam Peradaban yang Hilang

Novel Penjelajah Masa Lalu

Sebelum menentukan sebuah buku cukup menarik untuk dibaca atau tidak, saya biasanya membuka bab pertama, kemudian membaca bab terakhir. Jika opening dalam bab pertama cukup menarik dan ending cukup memuaskan saya akan melanjutkan membaca. Jika tidak, buku akan saya letakkan, karena saya tak mau membuang waktu percuma untuk sebuah buku yang biasa-biasa saja.

Novel ‘Penjelajah Masa Lalu’ karya Mas Mim Yudiarto yang dimuat secara online di platform Risalah Misteri ini menyuguhkan bab pertama dengan opening yang menarik, cukup membuat rasa penasaran saya tercipta. Penulis sukses menyuguhkan ketegangan di awal novel dengan adegan menghilangnya Dara dan dua orang porter. 

Membuka bab demi bab dalam novel yang terdiri atas 11 episode ini, kita akan diajak menjelajah sebuah peradaban yang hilang - sebuah candi yang diperkirakan dibangun pada jaman kerajaan Galuh Pakuan – bersama lima orang arkeolog: Raka, Raja, Bima, Dewi dan Dara. Terinspirasi oleh bisikan gaib dalam mimpi Raka, kelima sahabat ini bertekad mengungkap rahasia di balik reruntuhan sebuah candi kuno. Nyawa mereka pun dipertaruhkan demi menghadapi Sang Ratu yang akhirnya kalah sebab terperangkap kenangan masa lalu.

Membaca kisah petualangan lima tokoh dalam novel ini, seperti ikut terdampar dalam eksplorasi arkeologi situs kuno yang mereka lakukan. Saya membayangkan setting tempatnya adalah Gunung Padang – situs purba penuh misteri yang belum lama viral – dan ikut merasakan ketegangan yang terbangun dalam cerita.

Setting tempat situs bersejarah ini juga terbangun dengan apik, lewat nama-nama tiga orang penduduk setempat yang menjadi porter, juga dialog mereka, seperti yang terlihat dalam episode ke-5 berikut:

“Euleeuuhh, euleeuuh, iyeu teh bekas gigi sareng kuku jalmi, Akang!” Kang Maman berseru saat berjongkok meneliti karena tertarik dengan tumpukan benda-benda kecil di bawah masing-masing tiang gantungan.

Sebagai penikmat cerita-cerita petualangan, saya cukup terhibur dengan novel karya Mim Yudiarto ini, walaupun masih terdapat sedikit detail yang mengganggu seperti yang terdapat dalam Episode ke-4 berikut:

Ketiganya memasuki lingkungan candi dengan langkah perlahan-lahan. Seolah takut siapapun penghuni candi itu terbangun. Terdapat 5 stupa besar yang di antaranya terdapat 2 stupa kecil. Candi ini mungkin dibangun di masa kerajaan Galuh Pakuan atau Pajajaran. Masa ketika agama Hindu masih merupakan agama terbesar di Jawa Dwipa.

Penulis agaknya lupa, bahwa lima tokohnya adalah arkeolog hebat yang akan sangat lucu jika tidak bisa membedakan bentuk puncak candi Hindu dan Budha. Pada candi Budha, puncaknya berbentuk kubus atau biasa disebut stupa. Sedangkan pada candi Hindu, bentuk puncaknya meruncing berbentuk tabung atau disebut ratna.

Selain itu, penamaan tokoh antara Raja dan Raka yang nyaris sama agak membingungkan. Mungkin akan lebih baik jika diberikan nama yang tidak terlalu mirip.

Kelebihan lain dari novel ini, saya menemukan bagian yang membuat saya tertawa karena memang lucu. Sebuah paragraf yang mengingatkan akan sebuah serial kartun Ninja Hatori yang ada di episode ke-1 berikut:

Untuk mencapai tempat ini mereka melakukan perjalanan 3 hari. Jalan kaki. Naik turun gunung dan lembah. Menyeberangi sungai dangkal namun berarus deras. Berkemah di ngarai sempit. Dan di hari ketiga sudah makan seadanya karena perbekalan ternyata kurang.

Secara pribadi, saya menyukai novel ini dan dengan sukarela akan merekomendasikannya kepada siapa saja yang menyukai sejarah dan cerita-cerita misteri serta petualangan. Saran saya, penulis lebih memperhatikan detail candi dan atribut ke-kuno-an yang melekat pada para tokoh masa lalu. Pendeskripsian yang lebih baik tentu akan membantu imajinasi pembaca menjelajah dan menemukan peradaban yang hilang.

Selamat berpetualang dan menemukan hal-hal tak terduga dalam setiap bab yang akan memacu adrenalin bersama lima orang ‘Penjelajah Masa Lalu’ dan temukan kejutan di bab terakhir.

 

Salam, USS

Jakarta, 02/04/2021