Kebaruan Horor Modern: Membuka Tabir Jauh Mengerikan Ketimbang Hantu Seram Manapun

Cover Novel Hugo (Foto: Risalahmisteri.com)

Tak ada yang benar-benar baru di bawah matahari kita. Idiom itu sepertinya yang dirasa paling mewakili bila berbicara mengenai varian tema dalam dunia kepenulisan. Nyaris semuanya relatif sama atau bahkan pernah digarap berkali-kali.

Kondisi tersebut pada akhirnya menjadikan seluruh penulis-baik senior apalagi pemula- wajib berjuang keras melahirkan ide-ide segar untuk dituangkan dalam bentuk karya yang mengandung kebaruan dari mulai teknis hingga perspektif, demi mengurangi kebosanan pembaca di ranah lalu lintas bacaan nan tak mengenal bilangan saking banyaknya di era digital ini.

Novel Hugo termasuk salah satu yang berhasil melakukannya. Cerita petualangan horor dengan bumbu romance ini menjadi sajian tak biasa yang sedap di tengah rimba genre horor Indonesia. Meracik cinta, teknologi, dan hal gaib menjadi satu perpaduan menu ciamik yang layak dinikmati dari mulai hingga selesai, tanpa perlu susah payah berkerut kening sebab banyaknya bagian cerita yang terlalu asing. Hugo sangat membumi bagi pembacanya!

Cerita dibuka dengan rencana berkemah serombongan alumni siswa SMA setelah bertahun tak bertemu dan semasing personilnya sudah memiliki hidup dengan profesi yang berbeda. Tak tertinggal pula Dini, si tokoh kunci dalam novel ini. 

Tak ada masalah, kecuali karena tempat tujuan perkemahan mereka adalah hutan Pengker, yang memiliki riwayat kelam 10 tahun silam. Hal tersebut pulalah yang membuat Prastowo -Papa Dini- melarang keras putrinya turut serta dalam acara reuni tersebut. Namun Hugo menjadi alasan yang membuat Dini mampu terus berkeras, hingga izin dari papa diperolehnya.

Hugo, sebuah nama yang menjadi catatan cinta masa lalu Dini. Membayangkan bertemu dengan kasih yang pernah begitu akrab dalam dunianya, membuat Dini kerap bersolilokui, benarkah aku masih mencintainya? Pertanyaan hening yang rupanya kelak menyeret Dini pada masalah besar ketika satu persatu temannya tewas di medan perkemahan. 

Novel ini berderap lumayan cepat. Dengan jumlah bab yang tidak sedikit (tujuh belas bab), Hugo mampu membuat pembacanya turut berlari dengan jantung dipacu di tiap konfliknya. Drama yang dihadirkanpun tidak bertele-tele, membuat pembaca bebas dari rasa bosan dan tersangsang dari dialog-dialog yang tidak perlu. 

Teka-teki yang tersebar di sepanjang jalan kisah mampu memberi begitu banyak cabang praduga di hati pembaca. Beberapa kali bahkan saya berspekulasi bahwa kisah pasti akan begini dan begitu. Tapi ternyata kepiawaian penulis membuat saya kecele. Hugo berakhir dengan ending yang jauh dari dugaan. 

Hugo menjadi salah satu rekomendasi novel horor yang tak lagi melulu bicara hantu. Betul bahwa novel Hugo tetap dibayangi oleh aura mistis makhluk penunggu Hutan Pengker, namun penulisnya tidak sedang terjebak di sana. Alih-alih eksplorasi terhadap sosok si hantu, novel Hugo justru membuka tabir lain yang jauh lebih mengerikan dibanding setan berwujud seram manapun: cinta dan dendam, dua hal purba yang belum juga berhenti menumpahkan darah anak manusia. 

Pada beberapa titik genting di novel ini pembaca mungkin akan sedikit tersandung oleh alur yang terasa terlalu tiba-tiba, juga satu-dua typo yang masih kerap hadir di beberapa kata. Namun secara keseluruhan novel Hugo layak menjadi kudapan yang ringan namun bukan kalengan.

Apalagi dengan ending yang super lebar membuka kemungkinan bagi sekuel novel Hugo, akankah pembaca masih boleh berharap kisah lanjutannya? 

Tak ada pilihan lain. Mari serbu novelnya segera! 

---------


Judul: Hugo

Penulis: Yon Bayu Wahyono

Panjang: 17 bab

Situs: Risalahmisteri.com