Jelangkung Yon Bayu Membuat Pembaca Terlarut dalam Teror Satu Malam

Novel Jelangkung-Risalah Misteri

Berbicara tentang jelangkung, siapa sih yang belum kenal? Permainan tradisional yang penuh dengan aroma mistis. Hadir dalam berbagai versi di setiap daerah. Namun, selalu memiliki mantera yang nyaris sama.

Sekilas saya pun teringat akan masa-masa sekolah. Saat ada pelajaran kosong, kami sering memainkan ritual jalangkung (Bahasa Sunda). Peralatan yang dipakai pun sangat sederhana. Sekali waktu menggunakan jangka dan tutup pulpen. Dilengkapi kertas bertuliskan angka dan huruf pada posisi melingkar. Di lain waktu kami menggunakan uang logam sebagai media. Dan baru berhenti setelah salah satu teman mendadak kesurupan.

Beberapa novel bahkan film dengan judul sama memang telah banyak beredar. Tetapi dalam novel ini, Yon Bayu Wahyono sebagai penulis, mengungkap jelangkung dari sudut berbeda. Bukan pada keseraman sosok arwah penasaran yang memasuki media jelangkung. Saat  tiba-tiba menampakkan diri sehingga membuat semua orang kocar-kacir ketakutan. 

Novel dengan judul 'Jelangkung Teror Satu Malam'  di situs Risalah Misteri ini. Sejak awal-awal paragraf bab pertama, sudah menyuguhkan permainan diksi yang cantik. Meski begitu cara bertutur yang digunakan termasuk ringan. Mudah dipahami tanpa harus berpikir keras. Atau bahkan bolak- balik membuka kamus online. 

Jangan salah, walaupun tidak banyak bahasa-bahasa daerah yang diselipkan dalam narasi maupun percakapan. Tetapi dapat jelas tertangkap latar daerah kisah ini. Bahkan langsung pula terbayang logat yang diucapkan pada setiap percakapan.

Obrolan polos khas orang daerah saat saling menimpali. Membuat masam-mesem sendiri saat membaca. Sehingga suasana tegang yang disuguhkan sejak awal, dapat sedikit dinetralisir.

Kisah bermula ketika tiga bocah tanggung secara sembrono melakukan pemanggilan arwah. Mereka menggunakan peralatan yang memang mudah didapatkan berupa orang-orangan sawah. Lalu mantra epik jelangkung pun dilafalkan. Tanpa tahu bahwa mungkin saja keluguan mereka dimanfaatkan pihak lain dengan kepentingan tertentu. 

Dan teror pun dimulai.

Saya berpikir tokoh Trimo, Jarwo dan Ijal hanya akan muncul di awal sebagai kameo belaka. Tetapi ternyata tiga nama ini mengambil peranan penting sepanjang cerita. Jadi walaupun masih terbilang anak-anak, jiwa petualang mereka tak kalah tangguh dengan orang dewasa.

Alur cerita yang mengalir, membuat saya merasa ikut berpetualang di dalamnya.  Bergabung bersama penduduk desa sambil memegang senter dan arit. Berlarian ke berbagai tempat selama satu malam yang penuh teror. Pengalaman yang sungguh memacu adrenalin.

Jumlah kata per bab termasuk ideal. Sehingga tidak membuat mata lelah. Mengingat novel ini dibaca menggunakan gawai. Bahkan masih terbilang aman saat memilih untuk membaca ke-14 bab novel ini secara maraton. Dengan syarat harus bersiap untuk kejutan-kejutan mencengangkan yang kerap muncul. 

Akan tetapi masih ada beberapa typo yang cukup mengganggu. Hal ini memang termasuk tantangan dalam menulis di platform berupa web. Apalagi saat harus ditulis menggunakan gawai dengan tombol yang jauh lebih kecil daripada jempol.

Untuk yang tak terbiasa membaca novel dengan alur cepat mungkin akan dibuat terengah-engah sepanjang membaca. Sebab tragedi demi tragedi terjadi silih berganti, hampir tanpa jeda. Dari awal cerita sampai akhir bab. Sehingga pembaca seakan tengah berlari-lari ke sana kemari. Agar dapat menyelamatkan diri. 

[Awg]