Ada Apa dengan Kuda Mbah Bayan Tothe?

Ilustrasi (Ist)


Senja masih menyisakan awan biru dengan semburat keabuan. Meski gelap mulai nampak, tetapi tak mengurangi kadar keindahannya.

Putri menggandeng Amir--adiknya, berjalan kaki ke rumah neneknya. Di rumahnya tak ada tv. Untuk menonton tv, selepas maghrib mereka harus ke rumah neneknya.

Sesekali suara sayap ayam berontak terdengar saat dimasukkan ke kandang. Jangkrik-jangkrik saling bersahutan nyaring.

Sampai di pertigaan, mereka belok kiri. Lampu di bawah pohon nangka terlihat remang-remang. Sumur di sebelah barat tak ada penerangan. Sebelah utara sumur, rumah tak berpenghuni hanya ada satu lampu di emperannya.

"Assalamu'alaikum," ucap mereka.

"Wa'alaikumsalam."

"Nek, mau sholat maghrib, ya?" tanya Amir.

"Iya. Put, pintunya ditutup, ya," ucap Mbah Sukiyem.

Satu tangan Putri memegang daun pintu, satunya memutar kayu yang dipaku sebagai kancing. Bersamaan dengan tertutupnya pintu, terdengar suara kuda meringkik dari pertigaan. Ia kembali membuka pintu. Lengang, tak ada bunyi, tak ada apa-apa.

Seusai sholat maghrib, Sukiyem menonton tv bersama dua cucunya.

"Nek, tadi ada suara kuda," kata Putri.

"Di mana?"

"Di pertigaan. Tetapi setelah kulihat, tidak ada apa-apa."

"Biasa itu. Ini kan malam Jum'at."

"Kuda hantu, Nek?" Amir penasaran.

"Kudanya Mbah Bayan Tothe."

"Kok cuma ada suaranya?"

"Sudah. Tidak perlu dibahas."

Putri dan Amir dilanda rasa ingin tahu. Malam itu mereka terbayang-bayang suara kuda yang ada tetapi tiada.

***

Suara kuda meringkik memang sering terdengar di pertigaan dekat rumah Sukiyem.

Terkadang suara itu muncul saat malam Jum'at dan saat bulan Suro tiba.

Beragam kisah yang tersampaikan.

Ada yang mengatakan kuda peliharaan Mbah Bayan Tothe mati masuk jurang lalu menjadi hantu.

Ada yang mengatakan kuda tersebut dicuri lalu dibunuh oleh penjajah. Pasalnya Mbah Joko yang memiliki kelebihan melihat hal-hal gaib pernah menjumpai kuda Mbah Bayan Tothe ditunggangi seorang lelaki berparas penjajah, memakai koboi dan memecuti sambil memerintah kuda  dengan bahasa orang asing.

Ada pula yang mengatakan, kuda Mbah Bayan Tothe memang suka berkelana dari pohon beringin dekat rumah Bidan Siti di sebelah utara di Desa Mantup, sampai ke pohon beringin milik Mbah Suyadi di Desa Jurukuncen.

Ketika di desa Geneng, suara kuda sering meringkik di pertigaan di bawah pohon nangka Sukiyem karena rumah sebelah barat yang kosong itu dulunya ditinggali Mbah Bayan Tothe.

Masih jadi misteri mengapa suara itu sering muncul. Apakah kuda itu dibunuh? Atau disiksa penjajah?

Selesai

Jum'at, 26 Maret 2021